Memfungsikan Kembali Perpustakaan

Editor: Ivan Aditya

MULAI zaman Presiden Soeharto, 14 September diperingati sebagai Hari Kunjungan Perpustakaan. Sejak tahun 1995, pelbagai kegiatan dilakukan perpustakaan di seluruh Indonesia agar masyarakat mau untuk berkunjung ke perpustakaan. Salah satu bentuk kegiatan seperti pameran dan perlombaan yang bertujuan memromosikan berbagai koleksi, produk, dan layanan yang dimiliki, serta kegiatan yang menumbuhkan minatbaca.

Begitu pentingnya sebuah perpustakaan. Tidak salah kalau KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI, menegaskan bahwa perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan. Ini motivasi besar Gus Dur agar masyarakat menjadi sadar baca dan bangga dengan perpustakaan. Sekalipun perkembangan teknologi seakan tidak bisa lagi dibendung. Informasi yang dahulu hanya bisa kita dapatkan pada buku di ruangan perpustakaan,sekarang bisa dengan mudah kita akses hanya dengan genggaman (gawai). Ini juga berdampak pada kunjungan perpustakaan yang kian hari kian menurun. Di tahun-tahun terakhir ini tercatat, minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan merosot.

Kunjungan ke Perpustakaan Nasional yang memiliki koleksi paling lengkap di Indonesia rata-rata hanya 403.000 orang pertahun. Kondisi ini jauh di bawah negara Singapura. Di negara tetangga yang jumlah penduduk jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Indonesia itu, perpustakaan nasional-nya dikunjungi lebih dari 1 juta orang pertahun.

Minat baca masyarakat Indonesia cenderung masih rendah. Meski angka melek huruf Indonesia telah mencapai 93%. Kebiasaan membaca buku di antara warga masyarakat masih rendah dibandingkan dengan penduduk di beberapa negara Asia lainnya. Rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya enam jam perminggu. Sementara di India rata-rata lama membaca warganya sepuluh jam perminggu, Thailand sembilan jam, danTiongkok delapan jam perminggu.

Selain itu, survei yang dilakukan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2012 menyebutkan, kebiasaan membaca masyarakat Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan warganegara Asia lain. Hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia memiliki minat baca serius.

Memfungsikan Kembali

Persoalan di atas tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Harus ada gerakan nyata dalam memfungsikan kembali perpustakaan. Jangan sampai masyarakat kita hidup terasing dari buku dan perpustakaan. Untuk itu, gerakan memfungsikan kembali perpustakaan harus digalakkan bersama. Menurut Sulistyo-Basuki (1991), ada lima gerakan untuk itu.

Pertama, memfungsikan kembali simpan karya. Perpustakaan berfungsi untuk menyimpan hasil karya yang diciptakan masyarakat. Perpustakaan seharusnya mampu mewadahi setiap karya tulisan ataupun yang lain sehingga dapat mudah diakses masyarakat lain. Kedua, memfungsikan kembali jalan informasi. Perpustakaan harus dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Masyarakat yang datang ke perpustakaan dapat mencari dan mendapatkan informasi sesuai apa yang dibutuhkannya secara lengkap. Sehingga bukan informasi di media sosial yang saat ini menyebar dan tidak ada sumbernya (hoax).

Ketiga, memfungsikan kembali masa depan pendidikan. Keberadaan perpustakaan selaras dengan tujuan pendidikan. Perpustakaan sangat bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran. Pembelajaran di setiap sekolah bisa memanfaatkan ruang-ruang perpustakaan. Keempat, memfungsikan kembali ruang rekreasi. Perpustakaan juga mampu menyajikan informasi yang menyenangkan dan menghibur bagi penggunanya. Masyarakat yang datang ke perpustakaan dapat merasakan suasana yang nyaman dan situasi yang kondusif untuk menerima informasi yang dicari. Ini perlu diperhatikan pustakawan agar menata ruangruang perpustakaan semenarik mungkin supaya masyarakat merasa nyaman di dalam perpustakaan.

Kelima, memfungsikan kembali strategi kultural. Merupakan fungsi perpustakaan sebagai media untuk melestarikan kebudayaan yang ada di masyarakat. Perpustakaan juga dapat digunakan sebagai tempat mengembangkan kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan Indonesia yang akhir-akhir ini hampir dilupakan tergerus oleh budaya Barat.

Sudah seharusnya sebagai bangsa yang besar kita melestarikan budaya membaca. Buku itu jendela dunia. Dengan buku kita bisa menjelajah ke mana-mana. Perpustakaan seyogianya mengoptimalkan perannya agar minat baca masyarakat meningkat dan kunjungan ke perpustakaan semakin bertambah

(Muhlisin. Pengelola Perpustakaan Masjid Azzahrotun Wonocatur Banguntapan Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 14 September 2017)

BERITA REKOMENDASI