Memori Kolektif Sosok Prof Sumijati

Editor: Ivan Aditya

KESAN perjumpaan dengan sosok guru besar arkeologi yang bersahaja dan ramah itu sekarang tinggal menjadi bagian memori kolektif kita. Berbagai peristiwa yang terkait dengan kehidupan tentu dapat dikenang dan dicatat, tetapi substansi bobot peran yang diberikan dapat menjadi nilai dan inspirasi yang bermanfaat. Prof Dr Sumijati Atmosudiro wafat dalam usia 75 tahun (1942 – 2017), setelah mengabdi di dunia arkeologi tidak kurang dari 45 tahun. Separuh lebih hidupnya didedikasikan di dunia arkeologi dengan spesialisasi pada periode prasejarah. Perhatian penuh bidang prasejarah diwujudkan dengan capaian derajad S3 yang ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan pembimbing utama Prof Sujono. Jenjang pendidikan tertinggi yang diraih membuktikan adanya jiwa intelektualitas, ketekunan, kesabaran, semangat pantang menyerah, dan laku keutamaan.

Capaian tertinggi akademik yang disandang membuktikan spirit intelektualitasnya terus dibangun secara komprehensif. Tidak mengherankan apabila beliau juga concern dengan berbagai permasalahan khasanah sumber daya arkeologi secara multidimensional. Berbagai catatan ditorehkan melalui aktivitasnya yang luas, baik di Jurusan Arkeologi, Pusat Studi Asia Pasifik, Pusat Studi Kebudayaan, dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Wujud buah pergulatan intelektualitasnya yaitu pada 7 Agustus 2004 beliau mengucapkan pidato pengukuhan jabatan guru besar Ilmu Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya di hadapan rapat terbuka Majelis Guru Besar UGM. Tema pidato pengukuhan guru besar yaitu ‘Khasanah Sumber Daya Arkeologi Indonesia: Peluang dan Kendala Pemanfaatannya’. Pengungkapan persoalan yang tentu mempunyai relevansi tinggi dengan kondisi dan konteks zaman, bahkan hingga sampai sekarang.

Mengembangkan Disiplin

Riwayat kariernya sebagai pengajar di Jurusan Arkeologi sejak tahun 1972, maka dapat dikatakan sebagai salah satu pemegang estafet untuk mengembangkan disiplin arkeologi kepada mahasiswa baik S1 maupun S2. Terasa istimewa apabila kita menyimak bagaimana perjuangannya bersama Guru Besar Arkeologi lainnya (Prof Inajati Adrisijanti dan Prof Timbul) melakukan rintisan dibukanya Program Studi S2 Arkeologi dengan konsentrasi kajian Cultural Resources Management (CRM). Bahkan sampai kini sudah dikembangkan dengan spesialisasi bidang kajian permuseuman. Buah kerja sama dengan berbagai stakeholder menjadikan Prodi Pascasarjana Arkeologi tetap eksis dan telah mampu menghasilkan lulusan yang tersebar di berbagai ladang pengabdian.

Menguak perjalanan pergulatan keilmuan tentu sangat menarik dikupas dan tidak akan habis dibahas. Namun tidak lengkap apabila dimensi interrelasi personal dan sosial terlupakan. Ada sesuatu yang sangat menarik apabila kita juga melihat dan berbicara dari sudut interaksi sosialnya terutama dalam pergaulan di kampus. Bu Sum, begitulah Prof Dr Sumijati Atmosudiro akrab disapa, terutama oleh para murid dan kolega di Jurusan Arkeologi maupun Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Nama panggilan itu terasa sarat makna dan istimewa. Sarat makna dan istimewanya panggilan itu karena terasa bersahaja dan memberikan gambaran ‘sosok ibu’ yang selalu akrab dengan siapa saja ketika berjumpa. Keakraban dan sikap keibuan menjadi bagian empati yang diberikan kepada mahasiswa yang ngangsu kawruh atau menuntut ilmu.

Humanis

Dalam perspektif mahasiswamahasiswanya Bu Sum dipandang sebagai sosok yang humanis. Menurut teolog W Pannenberg bahwa manusia humanis itu mempunyai struktur diri yang eksentris, yaitu struktur yang mengundang pribadinya tidak memusatkan segala sesuatu kepada dirinya sendiri. Walaupun ada keterbatasan tetapi dalam pola interaksi dapat mengatasi segala keterbatasan dalam hidupnya. Contoh konkret adalah kepada mahasiswa yang akan habis masa studinya selalu mengingatkan, membimbing, dan memberikan solusi yang membangun. Pola interaksi personal dengan penuh kesahajaan menjadi sesuatu yang dapat melahirkan inspirasi bagi mahasiswa.

Kesabaran dan ketekunan yang dilakukan akhirnya menjadikan mahasiswa dengan buah karya dan kreativitas keilmuan yang bernas. Tidak berlebihan apabila kolega dan mantan murid memberikan persembahan buku Kriyamika: Melacak akar dan Perkembangan Kriya yang disunting oleh Prof Inajati Adrisijanti dan Musadad (2007). Buku tersebut sebagai penghantar purna tugas Prof Sumijati Atmosudiro dan menjadi bukti konkret kedekatan relasi kolega dan mantan muridnya. Bu Sumijati, Sugeng tindak ing pangayunan Dalem Gusti, Amin.

(IE Hadiyanta. Alumnus FIB-UGM, bekerja di BPCB DIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 13 September 2017)

BERITA REKOMENDASI