Mendidik Bahasa Jawa Sejak Dini

Editor: Ivan Aditya

TULISAN Al Sugeng Wiyono di Opini KR (16/9) dalam menyambut Kongres Bahasa Jawa VI menarik dan penting untuk diperbincangkan lebih mendalam. Bahasa Jawa sebagaimana diungkapkan dalam akhir opini tersebut mesti dilestarikan. Jalan pelestarian diusulkan melalui peran guru, kebiasaan di rumah, dan peran pemerintah daerah.

Sebanyak 139 bahasa daerah terancam punah dan 15 bahasa daerah sudah dinyatakan punah (BPPB Kemendikbud, 2016). Bahasa Jawa sebagai bahasa daerah terbesar bersama bahasa melayu juga tidak luput dari ancaman degradasi hingga kepunahan. Upaya tanggap darurat diperlukan guna melestarikan dan mencegah kepunahan. Salah satunya melalui upaya mendidik Bahasa Jawa kepada anak sejak usia dini.

Dinamika Bahasa

Bahasa daerah adalah bahasa ibu. Bahasa daerah merupakan pengantar bahasa nasional serta menjadi penguat kebudayaan nasional. Indonesia merupakan negara terkaya kedua setelah Papua Nugini dari segi jumlah bahasa daerahnya. Papua Nugini tercatat memiliki 800 bahasa daerah, sedangkan Indonesia 749 bahasa daerah.

BPPB Kemendikbud (2016) mencatat bahwa di Kalimantan satu bahasa terancam punah, di Maluku 22 bahasa daerah terancam punah dan 11 punah, Papua mencatat 67 bahasa terancam punah dan dua punah. Di Sulawesi 36 terancam punah dan satu punah. Di Sumatera dua terancam punah dan satu punah. Di Flores, Bima, Sumbawa ada 11 terancam punah. Bahasa daerah terancam punah disebabkan sejumlah penyebab. Di antaranya adalah menyusutnya jumlah penutur, peperangan, bencana alam, pernikahan antarsuku, lokasi geografis daerahnya, hingga sikap bahasa penutur itu sendiri (Dadang, 2016).

Kongres Bahasa Daerah Nusantara menghasilkan 14 butir rekomendasi untuk pengembangan bahasa di Nusantara. Salah satunya adalah bahasa daerah harus sejajar dengan bahasa lain, seperti Bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Salah satu bahasa daerah yang sudah mapan dalam pengembangannya adalah Bahasa Jawa. Kongres Bahasa Jawa rutin dilaksanakan lima tahun sekali sejak 1991. Kongres diselenggarakan oleh 3 Provinsi di Pulau Jawa secara bergantian yakni Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun ini tuan rumah adalah DIY pada 8-12 November 2016.

Semua elemen baik pusat hingga daerah memiliki tanggung jawab sama guna melestarikan bahasa daerah. Masyarakat penting tetap berupaya menuturkan bahasa daerah yang dimiliki, meski berada di luar daerahnya atau tinggal di perkotaan.

Upaya Pendidikan

Pemerintah daerah memiliki kewajiban membina bahasa daerah bekerja sama dengan lembaga kebahasaan yang ada. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang 24 nomor 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Regenarasi penutur bahasa daerah penting dikuatkan melalui pendidikan sejak anak usia dini. Beberapa hal penting diperhatikan sebagai strategi mendidikan bahasa daerah bagi anak usia dini. Pertama, anak dikenalkan kosakata bahasa daerahnya di keluarga. Bahasa daerah sering dikonotasikan sebagai bahasa kelas dua atau bahasa pinggiran. Anak yang kesehariannya menggunakan bahasa daerah dianggap anak kampung. Untuk itu orangtua kadang lebih bergengsi mendidik anaknya menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak ada yang salah membiasakan anak dengan Bahasa Indonesia. Hanya saja sesekali atau rutin anak penting dikenalkan bahasa ibunya.

Kedua, menggunakan media yang menarik anak. Usia anak merupakan usia bermain, sehingga media menjadi vital sebagai kunci mendidik anak. Pengenalan dan pembiasaan anak terkait bahasa daerah dapat dioptimalkan melalui video lagu daerah, permainan tradisional, game interaktif, dan lainnya. Penciptaan media berbahasa daerah yang menarik anak mendesak dibutuhkan. Ketiga, melalui pendidikan formal di sekolah. Pelajaran bahasa daerah mesti dipertahankan sebagai pelajaran wajib. Muatan lokal dapat menjadi pendukungnya. Misalnya seni dan budaya lokal yang tentu erat kaitannya menggunakan bahasa daerah.

Orangtua dan guru memiliki konsekuensi untuk meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa daerah. Kesulitan mulai dialami oleh orangtua generasi 1990-an ke atas. Era kini kesulitan pembelajaran dapat diatasi dengan bantuan media internet.

(Nur Hayati MPd. Dosen Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) FIP Universitas Negeri Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 20 September 2016)

BERITA REKOMENDASI