Mengais Sejarah Pangeran Sambernyawa

Editor: Ivan Aditya

KORAN ini (2/1) menurunkan berita berkepala Festival Bendera Usung Kearifan Lokal. Acara unik tersebut digelar di kaki Gunung Lawu, Karanganyar. Masyarakat lereng Lawu yang acap tak direken dalam sejarah disediakan panggung untuk berekspresi. Digugah memori kolektif mereka perihal perjuangan Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said menggempur kolonial dan musuh lainnya.

Festival Bendera laksana pintu gerbang dalam memahami sepak terjang tokoh Pahlawan Nasional Indonesia sejak 1988 itu. Tradisi lisan masyarakat lokal diurai, ditemukan cerita jejak keluasan wilayah perang Pangeran Sambernyawa. Misalnya, makam para pengikutnya yang berceceran di beberapa lokasi, mulai dari Makam Tumenggung Kudanawarsa, makam Ki Rangga Panambangan, Makam RAy Sumanarsa, makam istri Pangeran Sambernyawa RAy Matah Ati atau yang biasa disebut RAy Patah Hati, juga makam Nyai Ageng Pangasih, yang merupakan istri sekaligus panglima perang prajurit estri (prajurit putri). Banyak petilasan yang berserakan di bekas daerah basis operasi Pangeran Sambernyawa merupakan persaksian hidup.

Berperang 16 Tahun

Diterangkan bahwa Pangeran Sambernyawa berperang selama 16 tahun tanpa putus, membuat pihak musuh sempat keder. Kompeni mengakui betapa terampil RM Said olah senjata. Juga biasa hidup dalam suasana bebas dan merdeka selama mengembara dan berpetualang demi memeluk mimpi mengganyang musuh. Pangeran Sambernyawa bersembunyi dalam goa-goa manakala dikejar-kejar oleh Kompeni. Dalam pengejaran itu, Kompeni menegaskan bahwa tokoh ini bersama pasukannya ”seperti alang-alang yang roboh kena tiupan topan, tetapi segera tegak lagi”.

Pangeran Sambernyawa begitu populer serta merakyat selama angkat senjata. Hal itu tercermin dari sekeranjang folklor yang beredar di area Wonogiri. Bahkan, saking begitu lamanya bergaul Pangeran Sambernyawa bersama warga lokal membuahkan suatu deskripsi unik akan lima karakter masyarakat setempat. Warga yang bercokol di Nglaroh digambarkan dengan ungkapan: bandhol ngrompol; Sembuyan: kutuk kalung kentho; Wiroko: kethek seranggon; Keduwang: lemah bang gineblengan; Honggobayan: asu galak ora nyathek (Ismail, 1990). Dalam hal ini, Pangeran Sambernyawa menjelma bak sosiolog yang mata dan hatinya awas mencermati aspek sosial dan sifat kelompok masyarakat.

Selepas peristiwa Palihan Nagari tahun 1755 itu, Pangeran Sambernyawa terus menggeber serangannya kendati sendirian memimpin pasukan. Musuh akhirnya capek dan kehabisan akal (licik) menghadapi gempuran lelaki yang ”bertubuh kecil, namun tegap, mata bersinar-sinar seperti mengeluarkan api” tersebut. Kemudian, sesuai perjanjian Salatiga (1757) guna melunakkan Pangeran Sambernyawa yang gigih ini, diberikanlah Daerah Nglaroh, Keduwang, dan Matesih sebagai wilayah kedudukannya. Ia diangkat sebagai Pangeran Miji, langsung di bawah Sunan Paku Buwana. Perang yang dilancarkan Pangeran Sambernyawa selama dua windu itu tamat. Berarti, perjuangan RM Said bersama delapan belas pengikut yang kesemuanya memakai nama berawal Jaya (Joyodipuro, Joyopuspito, dan lainnya) ini memetik kemenangan yang gemilang. Kobaran semangat perang serta kokohnya solidaritas yang terpantul dalam jiwa mereka dilambari semboyan tiji-tibeh (mati siji, mati kabeh; mukti siji, mukti kabeh).

Kini, semboyan itu dibelokkan sedemikian rupa untuk perilaku negatif yang menciderai rakyat dan melawan kebenaran sejati. Semboyan tersebut diseret ke pusaran korupsi yang dikerjakan secara berjemaah atau bancakan. Bila satu pelaku korupsi ketangkap, maka ia bersiap mencokot pelaku lainnya. Pokoknya, semua harus katut. Hal itu sebenarnya membersitkan sikap mutung alias mengambek, bukan solidaritas sebuah aksi. Pihak tersangka tentu emoh menjadi pesakitan sendirian, lantaran itu dia bakal ‘ajak-ajak’ sekutu korupsinya demi menanggung perkara. Intinya, istilah mulia nan ampuh yang ditelurkan pada periode perjuangan Pangeran Sambernyawa ini terkotori. Sebab itulah, Festival Bendera ini bukan saja menghidangkan satu fragmen sejarah perjuangan hebat anak bangsa, namun hendak pula memulihkan butir piwulang yang dipeluntir para perampok duit rakyat guna memperkaya diri dan kelompoknya.

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, narasumber Festival Bendera. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 5 Januari 2018)

BERITA REKOMENDASI