Menghadapi Belalang Setan

Editor: Ivan Aditya

BERITA mengenai serangan belalang setan (KR, 23/1) mengejutkan warga DIY. Mungkin karena penggunaan nama setan dan racun pada jenis belalang ini yang membuat isu keberadaannya cepat menarik perhatian. Apalagi terdapat kasus alergi pada kulit manusia oleh cairan busa yang dikeluarkan belalang jenis ini.

Keberadaan belalang setan sebenarnya bukan hal baru. Beberapa mahasiswa di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian UGM kerap menemukan belalang jenis ini ketika melakukan aktivitas koleksi serangga untuk tugas kuliah Entomologi Dasar (program S1) dan Taksonomi Serangga (program S2).

Tim survei Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM melakukan pengamatan di Dusun Karangrejek dan Baleharjo Kecamatan Wonosari, Gunungkidul. Berdasarkan pengamatan morfologi, teridentifikasi spesies belalang setan tersebut adalah Aularches miliaris (L.) yang termasuk golongan serangga anggota Ordo Orthoptera dari Famili Pyrgomorphidae. Siklus hidup belalang ini berkisar 9-10 bulan. Telurnya berkelompok dimasukkan ke dalam lubang tanah sedalam 7,62 cm dengan diameter lubang 1,27 cm. Telur menetas setelah 4 bulan, lama hidup nimfa selama 4 bulan, dan umur imagonya sekitar satu bulan. Belalang setan memakan daun berbagai jenis tanaman ëpolifagí. Pakan di antaranya adalah daun jeruk, tebu, dadap, kelapa, pisang, lempeni, kakao, kayu jati, singkong, jambu mete, jambu biji, mangga, karet, dan kopi.

Adaptasi Genetik

Belalang jenis ini sudah sejak lama ada di Indonesia. Kalshoven dalam bukunya tentang hama di Indonesia melaporkan keberadaan belalang setan di Jawa pada 1919. Distribusi belalang setan meliputi seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara. Spesies belalang ini terdapat banyak subspesies di seluruh Asia Tenggara, hal ini menunjukkan bahwa terjadi adaptasi genetik lokal berdasarkan lingkungan yang berbeda-beda. Ukuran belalang setan betina lebih besar dibandingkan ukuran yang jantan. Bisa diamati dengan mudah ketika sedang kawin.

Belalang ini agak berbeda dengan belalang pada umumnya yang makan pada saat siang hari. Belalang setan makan pada saat malam hari. Pergerakannya lamban tidak gesit dan bila hendak dipegang lebih memilih menjatuhkan diri daripada meloncat terbang. Warnanya yang mengkilat dengan warna-warna cerah tampak mencolok menandakan bahwa belalang ini berbisa. Ketika dipegang manusia dan merasa terganggu, belalang setan mengeluarkan cairan berupa busa yang menyebabkan iritasi kulit pada sebagian orang dan juga mengeluarkan bunyi seperti derikan. Cairan tersebut ke luar dari bagian toraksnya yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Cairan itu pahit dan bisa meracuni sebagian predatornya. Busa yang dikeluarkan mengakibatkan rasa gatal dan panas pada kulit manusia yang terkena.

Rekomendasi

Hasil survei belalang setan oleh Tim HPT Faperta UGM menunjukkan, populasi dan kerusakan yang diakibatkannya belum sampai menjadi hama tanaman. Karena sifat kerusakan tanaman tergolong rendah dan populasinya tinggi hanya pada saat-saat tertentu saja. Rekomendasi yang bisa disampaikan adalah melakukan pengendalian mekanis terhadap telur, nimfa, dan imago hanya pada saat populasi belalang setan sangat tinggi. Dengan catatan, bagi orang yang kulitnya sensitif sebaiknya menggunakan sarung tangan yang terbuat dari karet agar cairan yang dikeluarkan belalang setan tidak bersinggungan langsung dengan kulit yang menyebabkan iritasi.

Bagi para peternak sapi atau kambing yang hendak merumput harus benar-benar memperhatikan keberadaan belalang ini. Jngan sampai tergencet sehingga mengakibatkan iritasi pada kulit dan jangan sampai terbawa ke kandang. Karena bisa jadi meracuni ternak ketika belalang jenis ini termakan oleh binatang ternak. Apabila menjumpai belalang setan, usahakan jangan mengganggunya, sehingga belalang tidak akan mengeluarkan cairan beracun dalam bentuk busa. Kalau tidak sengaja terjadi kontak yang menyebabkan tangan terkena busa belalang, segera basuh dengan air hingga bersih dan jangan diusap.

Penting bagi masyarakat untuk selalu menjaga lingkungan tetap lestari dan seimbang agar ekosistem terjaga dengan baik. Karena bila terjadi ketidak-seimbangan maka populasi belalang setan bisa jadi melonjak menjadi hama penting di Indonesia seperti yang terjadi di beberapa daerah di India.

(Dr Witjaksono, Dr Suputa dan Alan Soffan PhD. Tim survei Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 30 Januari 2018)

BERITA REKOMENDASI