Mengikis Budaya Konsumtif dengan Puasa

Editor: Ivan Aditya

UMAT Islam kembali menjalankan sebuah ritual tahunan, puasa Ramadan. Sebuah ibadah sarat nilai dan makna. Selain menjalin hubungan vertikal, dan hubungan horizontal, pun diharapkan mampu menjalin hubungan harmonis dalam membina diri sendiri. Hal ini disebabkan karena puasa memang ibadah yang sangat bersifat individu dan pribadi.

Secara harfiah, puasa diambil dari kata shama-yashumu yang dimaknai dengan ‘menahan’. Dengan demikian, puasa erat kaitannya dengan menahan segala hasrat yang bisa mengurangi keabsahan puasa itu sendiri, apalagi segala yang membatalkannya. Menahan diri dari segala yang dilarang agama, adalah sebuah kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar. Namun, akan menjadi rumit jika dikaitkan dengan menahan diri dari sesuatu yang dibolehkan, namun terlarang di saat puasa. Pun terlebih-lebih akan sangat sulit menahan diri dari sesuatu yang sama sekali tidak ada larangannya dalam nash Alquran dan hadis secara langsung. Sebagai contoh budaya konsumtif.

Bahan Pokok

Tidak dapat dipungkiri, jika saat menjelang Ramadan, dan Lebaran fenomena tahunan yang selalu terulang adalah melonjaknya harga bahan pokok. Hal ini disebabkan semakin tingginya permintaan pasar. Sementara itu, puasa Ramadan yang hakikatnya bisa mengurangi kebutuhan hidup, yang terjadi malah sebaliknya, yaitu kebutuhan semakin bertambah dan melonjak. Konsumsi rumah tangga jauh lebih mewah dan boros dibandingkan dengan kebutuhan sehari-hari di luar puasa.

Hakikat puasa, tidak sekadar membangun hubungan vertikal dan horizontal yang harmonis, seperti menggenjot ibadah-ibadah atau ritus seperti tarwih, tadarus, i’tikaf, zakat, infaq, sedekah dan lainnya. Namun, harus menyadari pula bahwa puasa harus mampu membangun pribadi yang kuat, harmonis dan tertata. Segala bentuk kerakusan hidup, seperti budaya konsumtif harus bisa dikikis, hingga kemudian dihentikan.

Secara vertikal, puasa memang harus mampu memanifestasikan pribadi yang taat, tunduk pada Allah Yang Maha Pencipta, karena harus mampu melawan fitrah dan nurani manusiawinya seperti tidak makan-minum, tidak menyalurkan hasrat seksual bagi yang suami istri dalam masa dan waktu tertentu. Sedangkan secara horizontal, orang yang berpuasa harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang mengalami kesulitan hidup. Dan yang tidak boleh luput adalah, bahwa penataan hidup individu harus dilakukan dengan cara mengikis dan menghilangkan kerakusan hidup seperti budaya konsumtif.

Kerakusan hidup atau budaya konsumtif yang harus dilawan dalam kaitannya dengan puasa, sebenarnya sangat ril dan nyata. Masyarakat lokal kita, rakyat Indonesia mayoritas makan sebanyak tiga kali sehari ditambah dengan konsumsi lainnya, harus dikurangi menjadi dua kali dalam sehari. Sehingga, jika budaya kosumtif semacam ini benar-benar dihentikan, seyogiyanya bisa menjadi proses penghematan secara ekonomis.

Idealita

Sayangnya, idealita puasa semacam ini, bertolak belakang dengan realita yang ada. Budaya konsumtif atau kerakusan hidup malah semakin kental di saat bulan puasa seperti ini. Secara kuantitas, benar bahwa orang yang berpuasa hanya makan dua kali sehari, namun secara kualitas konsumsi masyarakat kita jauh lebih boros dibandingkan kehidupan selain bulan puasa. Sehingga seringkali tuntutan untuk memenuhi menu Ramadan melebihi kadar kemampuan ekonomi rumah tangga. Hal semacam inilah yang hakikatnya bisa mengurangi nilai puasa, karena hasrat untuk memenuhi dan menghilangkan rasa haus dan lapar dilampiaskan sepenuhnya saat buka puasa.

Budaya konsumtif semacam ini, tentunya jauh dari cita-cita puasa Ramadan, yaitu menciptakan pribadi taqwa. Yakni pribadi yang sadar akan makna puasa, pribadi yang mawas diri dalam menjalani hidup, dan pribadi yang memelihara kebaikan dan kemaslahatan hidup. Al-Asfahani dalam bukunya Mu’jam Mufradat li Alfaz al-Qur’an mengatakan bahwa takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayatan yang dimaknai dengan menjaga dan melestarikan sesuatu dari segala yang merusak dan membahayakan. Semoga cita-cita taqwa ini dapat diraih di bulan Ramadan ini, dengan cara menjadikan diri dan pribadi yang bersahaja, dan jauh dari budaya konsumtif dan rakus.

(Arif Nuh Safri SThI MHum. Dosen Institusi Institut Ilmu Alquran Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 2 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI