Mengistimewakan UMKM di DIY

Editor: Ivan Aditya

PEMBANGUNAN bandara baru di Kulonprogo menjadi momentum kuat bagi kebangkitan ekonomi DIY. Bandara baru yang dijadwalkan beroperasi April 2019 berstandar internasional,mampu menampung 14 juta penumpang setiap tahun. Bandingkan dengan Bandara Adisutjipto yang saat ini hanya menampung sekitar 6 juta penumpang per tahun. Yogya sebagai daerah pariwisata tentu harus menyongsong lahirnya bandara baru ini dengan kegiatan ekonomi produktif.

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang merupakan mesin kekuatan perekonomian Yogya memiliki posisi tawar istimewa. Karakter perekonomian DIY yang didominasi industri mikro dan kecil sebesar 98,4%, sulit ditandingi daerah lain dalam hal penyerapan tenaga kerja yang mencapai 79%. Banyaknya pendidikan vokasi, budaya dan kreativitas yang tinggi menjadi faktor unggul UMKM Yogya. Tidak hanya faktor SDM, infrastruktur yang didukung ketersediaan bahan baku dengan harga relatif terjangkau menobatkan Yogya sebagai gudang kreativitas UMKM.

Hadirnya bandara baru bertaraf internasional menjadikan DIY sebagai salah satu etalase terbaik negeri ini. Sejumlah maskapai penerbangan bahkan dikabarkan sudah melirik dan mengajukan permohonan rute izin penerbangan langsung ke Yogya. Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, UMKM Yogya perlu melihat kembali kualitas produk yang dimilikinya. Produk UMKM Yogya saat ini memiliki varian lebar, mulai dari low-medium class hingga kualitas premium. Permintaan bisa meluas dan bergeser ke arah yang lebih rational, dan berselera global.

Permasalahan Dasar

Agar menjadi kompetitif, persoalan dasar UMKM perlu segera diselesaikan. Pertama, masalah permodalan. Kesulitan akses pembiayaan UMKM kepada lembaga keuangan harus segera diakhiri. Pembiayaan harus dibuka lebar dan dipercepat proses financing-nya. Peran Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB), program pinjaman lunak, dan program corporate social responsibility (CSR) korporasi di daerah perlu diselaraskan dalam satu bingkai paket regulasi.

Pembiayaan UMKM perbankan memang belum optimal. Kondisi ini dipersulit dengan tingkat bankable yang masih rendah. Dibandingkan peer-nya, tingkat bankable UMKM di Indonesia sekitar 36%, sedangkan Malaysia dan Thailand sudah mencapai 80,7% dan 78,1%. Rasio kredit UMKM terhadap angka GDP Indonesia (loan to GDP) pun sangat rendah, yaitu 7,2%. Bandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang mencapai 22,4% dan 36,6%. Salah satu kendala kredit perbankan belum optimal adalah adanya keterbatasan agunan. Banyaknya aset UMKM yang belum bersertifikat dan kurang jelas kepemilikannya mempengaruhi keyakinan perbankan dalam memberikan kredit. Untuk itu, pembentukan Tim Penguatan UMKM lintaslembaga di DIY diyakini mampu mengakselerasi masalah permodalan dan mempermudah akses keuangan UMKM agar lebih bankable.

Permasalahan kedua, manajemen keuangan. Fakta menunjukkan tidak lebih dari 20% pengusaha UMKM yang sudah memisahkan kekayaan usaha dengan kekayaan pribadinya. Pemberian capacity building diperlukan untuk menjaga governance keuangan UMKM dan meningkatkan kemampuan manajemen keuangan UMKM. Permasalahan ketiga, pemasaran UMKM. Program pelatihan marketing dan mem-branding UMKM menjadi salah satu poin vital. Pembekalan digital marketing dan jalur online, misalnya, juga perlu dikuatkan pembinaannya. Banyak UMKM di Yogya mem-branding produknya secara unik, tapi belum tentu sinambung. Karenanya, konsep branding yang baik, sustainable, dan menggiring loyalitas konsumen, perlu dibekalkan ke pelaku UMKM.

Kualitas Produk

Permasalahan keempat, aspek teknologi dan kualitas produk. UMKM ke depan akan memasuki persaingan ketat, dari sisi produktivitas dan infrastruktur teknologi. Masalahnya, pelaku UMKM disamping belum sepenuhnya melek teknologi, ketersediaan jaringan dan infrastruktur teknologi juga belum merata ke seluruh pelosok DIY. Kualitas produk UMKM pun tidak semuanya memiliki standar.

Di era sekarang, digitalisasi pasar yang lebih memihak pada generasi milenial patut jadi referensi kemana arah pengembangan produk UMKM ke depan. Masyarakat pun semakin kritis, rasional, kekinian, dan cerdas dalam memilih produk UMKM yang berkualitas. Kondisi tersebut memacu penggiat UMKM mengembangkan produk UMKM ke arah yang lebih unggul, berstandar tinggi, dan berdaya saing global. Menyongsong hadirnya bandara baru, UMKM Jogja bermimpi untuk ‘naik kelas’ dan menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Tidak salah bila DIY mengistimewakan UMKM.

(Budi Hanoto. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 22 Desember 2017)

BERITA REKOMENDASI