Mengusik Feminisme dan Olahraga

Editor: Ivan Aditya

MENTERI Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menetapkan Sports Science, Sports Tourism and Sports Industry sebagai tema besar Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2020. Melalui tema yang terdengar progresif dan visioner ini, pemerintah hendak menyinergikan olahraga dengan sains, turisme, dan industri. Sesuatu yang dapat berkelindan erat di negara maju. Semua elemen saling tunjang untuk menopang satu sama lain. Sementara olahraga di Indonesia, ada perkara fundamental yang acap disepelekan, yakni mengenai stigma eksklusivitas olahraga untuk kaum adam.

Paradigma umum yang berlaku di masyarakat menganggap olah raga lebih lekat dengan aktivitas kaum maskulin sehingga tidak patut dilakukan perempuan yang dianggap feminin. Meski dewasa ini feminisme dalam olahraga kian gencar diupayakan oleh masyarakat global. Banyak event olahraga internasional yang telah mengekalkan keterlibatan perempuan.

Sementara di Indonesia, untuk mendukung gerakan pemberdayaan perempuan di bidang olahraga tentu bukan perkara gampang, apalagi jika melihat kultur masyarakat yang masih memandang perempuan dengan sebelah mata. Pelbagai ungkapan peyoratif yang merendahkan perempuan masih kita jumpai. Mulai perempuan itu kanca wingking atau hanya macak-masakmanak dan sekitar dapur-sumur-kasur.

Metode Ampuh

Simone De Beauvoir, dalam Second Sex (1997), secara satire mengungkapkan bahwa kedudukan perempuan sebagai the other yang selalu berada di bawah hegemoni laki-laki. Nilai tradisi, agama, dan adat istiadat menjadi mode ampuh yang dipakai laki-laki sebagai legitimasi untuk mendominasi dan mengatur hidup perempuan. Bahkan, tanpa sadar, kita berpartisipasi dalam laku perendahan terhadap perempuan kala melihat seorang laki-laki yang menendang bola dengan lemah, lalu berkomentar : ”Tendanganmu seperti perempuan!”

Paradigma masyarakat yang menganggap perempuan sebagai pihak yang lemah dan tidak berdaya, lamat-lamat dapat direduksi melalui feminisme. Introduksi paham feminisme menjadi kian urgen jika mengingat budaya patriarkat yang masih begitu melekat dalam kultur masyarakat Indonesia.

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V keluaran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, lema ‘feminisme’ memiliki arti, ”Gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara perempuan dan laki-laki”. Dari definisi tersebut dapat ditarik benang merah bahwa feminisme bukan hendak mempertentangkan laki-laki dan perempuan dalam oposisi biner sebagai yang lebih tinggi dan lebih rendah, melainkan ‘hanya’ sebagai upaya mereduksi – atau menihilkan – bias jender.

Banyak Bukti

Stigma negatif bahwa perempuan tidak mahir dalam berolahraga layaknya pria harus mulai dibuang jauh. Pada beberapa cabang olahraga, perbedaan kualitas antara laki-laki perempuan mungkin akan tetap ada. tetapi pada cabang lain justru bisa terjadi sebaliknya. Ada banyak bukti untuk itu.

Perempuan pelari marathon wanita asal Norwegia, Grete Waitz, misalnya. Ia mampu mencatat waktu 2 jam 25 menit 41 detik pada New York City Marathon. Torehan waktu yang diperoleh Grete Waitz ini lebih baik dari pemenang pria saat itu. Jadi, pada cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan -dan bukan kekuatan-, perempuan justru berpotensi untuk lebih baik daripada pria. Berbagai penelitian sejenis juga telah membuktikan bahwa jika pengalaman dan peluang bagi perempuan dan laki-laki disamakan. Maka perbedaan kualitas antara pria dan perempuan juga akan berkurang secara bertahap (Giri Wiarto, 2015).

Sah-sah saja jika kemenpora mengusung tema megah untuk memadukan olahraga dengan sains, industri, dan turisme. Namun demikian, misi ini seyogianya dimulai dengan mendobrak paradigma usang diskriminasi jender. Olahraga harus dibumikan dan dimasyarakatkan. Baik untuk kaum adam maupun perempuan. Selamat Hari Olahraga Nasional!

Ardian Nur Rizki.
Staf Pendidik di Indonesia Community Center (ICC), Johor Bahru, Malaysia.

BERITA REKOMENDASI