Menjadi Otentik di Masa Pandemik

KONDISI ketidakpastian membuat masyarakat cemas dan berharap wabah ini segera berlalu. Setiap orang merasakan tingkat kejenuhan dan merasa bosan berdiam diri di rumah.

Memilih tetap tinggal di rumah dengan berbagai kesibukan selama lebih dari dua minggu bukan hal yang mudah dilakukan. Kecemasan muncul atas bayangan terjadinya ledakan problem sosial yang kompleks, yaitu masa puncak korona tiba, ledakan pengangguran dan aksi-aksi kriminalitas.

Dalam masa ‘isolasi’ di rumah, setiap individu senantiasa berupaya mengisi keseharian dengan kegiatan rutin. Intinya menyibukkan diri dan juga usaha mencari makna hidup.

Sebagian merasa lebih dekat bersama keluarga. Mencairkan hubungan yang selama ini membeku. Sebagian lagi tak mampu membohongi diri sendiri. Merasa kesal dan lelah dalam penantian tidak menentu.

Situasi Jeda Pandangan Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, dalam Being and Time (1996) sangat menarik, yaitu pentingnya memahami antara perbedaan ontologis ‘ada’(sein) dan ‘mengada’ (seiendes). Mungkin kita merasa lumrah dengan pikiran, pekerjaan dan situasi keseharian kita.

Kita berada bersama keluarga dan masyarakat kita dengan berbagai dinamikanya. Semua yang kita rasakan dari yang tampak itulah seiendes. Ada situasi jeda, waktu keheningan yang cukup untuk merenungkan hakikat dan makna hidup ini lebih dalam. Kesempatan itu tidak kita dapatkan dalam masa kesibukan selama ini.

Realitas kehidupan tiba-tiba berubah. Melihat angka kematian yang mencengangkan. Kehangatan dalam keluarga korban yang mendadak sirna. Sesuatu yang tak tampak itulah sein. Tetapi kita jarang merenungkannya.

Suara hati akan bergelora untuk disampaikan justru pada saat ditimpa musibah atau ditinggalkan orang-orang terkasih. Hidup ini butuh tindakan otentik, agar tidak bingung dan terombangambing dalam ketidakpastian.

Kita mulai memikirkan diri kita, membayangkan makna hidup dan mati yang begitu beda tipis waktunya. Apa yang kita rasakan dalam keheningan dan kesendirian bukanlah tindakan sia-sia.

Kita butuh jalan ke luar dengan selalu bersikap optimis. Dalam keheningan ada ruang yang luas bagi pemenuhan spiritualitas dan rasionalitas.

Masa keheningan adalah masa yang paling tepat untuk membaca kembali eksistensi kita, mengoreksi diri kita sendiri, dan mengevaluasinya untuk kehidupan yang lebih baik. Manusia yang otentik tidak pernah menyerah pada keadaan serumit apapun.

Pasti ada hikmah di balik krisis dengan memahami takdir secara rasional. Kita punya potensi kreatif untuk mereproduksi makna hidup. Lebih banyak berkontribusi secara sosial dengan selalu berpikir positif.

Hidup memang jembatan menuju kematian. Kehidupan yang selalu diliputi dengan perasaan cemas adalah kematian yang terlalu dini. Bagi Heidegger, manusia itu beradamenuju-kematian (sein-zum-tode). Saat seseorang dilahirkan, sebenarnya ia sedang berada dalam waktu otentik, yaitu bayangan kematian.

Maka iman selalu membenarkan bahwa kematian itu pasti terjadi. Pelajaran Dalam kesendirian kita jadi punya banyak kesempatan untuk menginsyafi kehidupan yang pernah kita lakukan.

Banyak waktu untuk memberi sumbangsih pemikiran dalam menyelesaikan berbagai persoalan agama, keluarga dan masyarakat. Merenungkan kenyataan atas betapa cepat orang pergi mendahului kita, meninggal dunia karena terinfeksi korona. Wabah korona memberi banyak pelajaran penting kepada kita.

Kepedulian dan kepekaan sosial dengan memberikan bantuan atau uluran tangan kepada orang lain yang membutuhkan, membuat kita dapat menghayati arti hidup yang fana ini. Sumbangan pemikiran dan aksi-aksi nyata dapat menyalakan optimisme itu lebih terang.

Selalu ada jalan keluar bagi setiap masalah. Kita menjadi lebih tangguh dan cerdas dalam menyikapi ujian ini dan yakin bahwa Tuhan tidak akan membiarkan wabah ini berlangsung berlarut-larut. (Dr H Robby Habiba Abror SAg MHum, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah DIY; Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.) Artikel ini terbit di Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 17 April 2020

BERITA REKOMENDASI