Menjadi Sahabat Anak

Editor: Ivan Aditya

SETIAP anak memiliki potensi dan bakat yang berbeda. Dengan potensi yang dimilikinya, setiap anak memiliki cita-cita yang berbeda-beda dan unik. Orangtua sering berharap supaya anaknya sukses : menjadi dokter, arsitek, ekonom, dan sebagainya. Sayangnya, orangtua sering kali tidak mengetahui potensi dan bakat anak. Akibatnya, terjadi benturan keinginan antara orangtua dan anak.

Beberapa waktu yang lalu ada mahasiswa yang menghubungi penulis melalui layanan pesan singkat: ‘Pak, apakah besok ada waktu? Saya ingin curhat’. Pesan itu saya jawab, ‘Ada, sekitar pukul 09.00’. Keesokan harinya, kami bertemu. Ia mulai bercerita tentang indeks prestasinya yang tidak pernah bagus. Ketika kelas XII SMA, anak itu disarankan guru bimbingan dan konseling (BK) supaya saat mendaftar di PTN melalui jalur undangan memilih jurusan pendidikan fisika. Menurut guru BK, ia berbakat dalam bidang sains sehingga diprediksi lancar dalam studi. Di samping itu, masih menurut guru BK, menjadi guru memiliki masa depan cerah.

Guru mendapat tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji pokok. Memilih jurusan pendidikan fisika juga memiliki peluang besar diterima. Jika lolos seleksi PTN jalur undangan, ia dapat mengangkat prestasi sekolah. Singkatnya, ia memilih jurusan pendidikan fisika dan lolos jalur undangan. Akan tetapi, ia sebenarnya tidak minat kuliah di jurusan pendidikan fisika. Selama kuliah tidak ada motivasi belajar sehingga indeks prestasinya selalu jelek. Meskipun telah menempuh kuliah selama beberapa semester, ia masih ingin mewujudkan cita-citanya yang terpendam: menjadi perawat. Akhirnya, ia memutuskan mengundurkan diri dari jurusan pendidikan fisika dan kuliah di akademi keperawatan. Kisah nyata ini menunjukkan contoh konflik antara orangtua (guru BK) dan anak. Dalam situasi demikian, anak sering kali tidak berdaya dan menjadi korban.

Sebagai orangtua, penulis juga pernah mengalami sikap berbeda dengan anak. Ketika putri bungsu masuk jenjang SMA, ia lolos seleksi sekolah sebagai calon peserta olimpiade sains. Ia bebas memilih kelas olimpiade yang diinginkan: matematika, fisika, kimia, biologi, atau astronomi. Penulis sangat berbangga hati. Lolos seleksi olimpiade selalu menjadi dambaan para orangtua. Seiring berjalannya waktu, ia mundur dari kelas olimpiade. Alasannya, pembinaan olimpiade waktunya bersamaan dengan kegiatan ekstrakurikuler cheerleader. Ia memilih cheerleader. Menurut pandangan orangtua keputusan ini aneh.

Konflik antara orangtua dan anak terkait dengan keinginan anak tidak akan terjadi jika orangtua memahami bakat anak. Untuk menghindari konflik, sejumlah ahli parenting menyarankan agar orangtua menjadi sahabat anak. Menjadi sahabat anak merupakan salah satu bentuk pengasuhan anak yang dapat diterapkan dalam keluarga. Setiap manusia selalu membutuhkan sahabat sebagai tempat untuk berbagi suka-duka. Sebagai sahabat anak, orangtua harus menempatkan dirinya sebagai mitra sejajar.

Cara Efektif

Menurut laman http://www.ykai.net, ada beberapa cara efektif untuk menjadi sahabat anak. Pertama, orangtua perlu menjadi pendengar yang baik. Ketika anak bercerita tentang cita-cita, orangtua perlu merespons secara positif sehingga anak merasa dihargai dan dicintai. Kedua, orangtua perlu mengetahui kegiatan atau aktivitas yang dilakukan anak. Seorang sahabat berusaha memahami apa yang disukai atau tidak disukai sahabatnya. Orangtua harus menyelami dunia anak. Ketiga, orangtua perlu memberi pujian dan teguran secara tulus dan jujur. Ketika anak berbuat salah, ia harus ditegur tanpa bersikap menghakimi. Sebaliknya, ketika anak berhasil meraih prestasi, ia harus diberi pujian. Keempat, orangtua harus memberi kepercayaan kepada anak supaya berkembang kreativitasnya.

Marcelle Soviero, Editor-in-Chief Majalah Brain-Child, menceritakan pengalamannya menjadi sahabat baik bagi putrinya. Ia tidak pernah membandingkan putrinya dengan teman-teman sebaya yang (tampaknya) lebih sempurna. Marcelle hanya mendorong putrinya supaya menjadi dirinya sendiri. Ia hanya ingin supaya putrinya dapat berkembang sesuai bakatnya. Marcelle sangat menghargai bakat anak. Akhirnya, ia sangat bangga bisa mendampingi putrinya mewujudkan citacitanya. Mari menjadi sahabat anak!

(Drs Bambang Ruwanto MSi. Dosen Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas MIPA, UNY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 12 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI