Menjaga Harmoni Bangsa

Editor: Ivan Aditya

KEDAMAIAN adalah buah dari demokrasi. Sebab dengan demokrasi, setiap aspirasi masyarakat yang berbeda dihormati dan diperlakukan secara adil. Saluran komunikasi dibuka selebar-lebarnya. Keberagaman dijunjung tinggi dan perbedaan dirayakan dengan gembira. Hal ini akhirnya diharapkan menekan pihak-pihak yang tidak puas akibat tersumbatnya keran aspirasi mereka. Sehingga hasrat untuk berkonflik pun bisa diredam.

Salah satu manifestasi demokrasi adalah demonstrasi dan unjuk rasa. Maka kita patut mensyukuri nikmat tersebut dan menghargai pihak-pihak yang melakukannya. Salah satu demonstrasi dan unjuk rasa yang belakangan ini marak terkait isu dugaan penistaan agama. Di berbagai tempat di Indonesia, demonstrasi silih-berganti seolah tanpa henti. Tuntutannya hampir sama yaitu aparat keamanan diminta melakukan pengusutan terhadap kasus ini. Dan demonstrasi lanjutan serentak akan kembali dilakukan pada Jumat (4/11) besok.

Kekhawatiran demonstrasi besar-besaran ini akan berjalan tanpa kendali dan menimbulkan dampak negatif sejatinya merupakan ketakutan yang berlebihan. Termasuk isu bahwa akan terjadi kerusuhan layaknya unjuk rasa di Mesir, Thailand dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman, demonstrasi dapat dilakukan dengan aman, nyaman, dan terkendali. Terlebih aparat keamanan pun sudah terlatih dan berpengalaman mengamankan demonstrasi dengan skala yang lebih masif. Tengok saja saat demo buruh, demo kenaikan harga, dan beragam demonstrasi lainnya, semua tetap berjalan dengan tertib.

Antisipasi

Meskipun begitu, kita perlu antisipasi sekaligus mewaspadai agar aksi demonstrasi tidak terjerumus dalam tindakan anarkis. Penyusup yang sering mengail di air keruh harus diawasi. Saat demonstrasi, masyarakat tidak boleh terhasut dan terprovokasi untuk melakukan tindakan gegabah yang bisa menimbulkan keresahan di masyarakat. Hindari juga upaya yang ingin mengadu domba masyarakat dengan elemen bangsa lainnya.

Aparat dan masyarakat pun harus samasama menahan diri dalam melakukan aksi unjuk rasa. Aparat wajib mengamankan aksi akan berlangsung dengan aman, lancar, dan tertib. Sementara masyarakat yang berujuk rasa, tetap wajib menjunjung tinggi aturan yang ada. Termasuk di dalamnya tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan aksi perusakan dan vandalisme, tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dan sebagainya.

Langkah taktis Presiden Jokowi dalam merespons isu demo besar-besaran, meskipun tidak secara langsung, pun patut diacungi jempol. Pertemuannya dengan Prabowo Subianto yang merupakan rivalnya pada Pilpres 2014, banyak diapresiasi. Prabowo memang memiliki kharisma yang kuat bagi banyak kelompok. Sehingga diharapkan Prabowo turut mendinginkan suasana. Prabowo juga berpengalaman di lapangan, sehingga analisisnya terkait situasi terkini bisa berguna untuk mengantisipasi dampak negatif. Dan satu hal yang juga tidak boleh dilupakan, Prabowo adalah salah satu sosok yang disebut salah satu bagian dari TNI hijau. Maksudnya dia memiliki kedekatan dengan kelompok Islam dari berbagai level. Sangat sesuai dengan isu yang sedang panas yaitu penistaan terhadap agama Islam.

Presiden Jokowi pun sudah mengundang alim ulama untuk berdiskusi tentang banyak hal (termasuk kasus dugaan penistaan agama ini). Artinya Presiden RI mau menerima saran dan masukan dari pihak-pihak yang terkait masalah ini. Tidak kalah penting, apresiasi patut disematkan kepada ormas Islam yang tetap memandang kasus ini dengan kepala dingin. Seperti Muhammadiyah dan NU yang mempercayakan kasus ini ke ranah hukum. Kedua ormas ini bahkan meminta para pengunjuk rasa tidak membawa bendera Muhammadiyah dan NU, tetapi tetap mempersilakan jika ada yang ingin berunjuk rasa.

Kepala Dingin

Seluruh elemen bangsa sebaiknya memandangnya dengan kepala dingin. Tekan ego dan emosi, dan kedepankan semangat persatuan bangsa. Masyarakat pun sebaiknya bersabar untuk menyerahkan kasus ini kepada pihak yang berwenang. Pihak kepolisian sejak awal kasus ini telah bergerak. Jadi tanpa melakukan demonstrasi pun, sesungguhnya aspirasi masyarakat sudah dilaksanakan.

Yang bersangkutan sudah minta maaf terkait ucapan. Jika ada pihak yang belum puas, silakan tunggu kerja polisi. Dengan kata lain, kasus ini sesungguhnya tidak perlu direspons dengan berlebihan. Dan yang tidak kalah penting, mari kita jaga persatuan bangsa.

(Rachmanto MA. Alumnus CRCS UGM, Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 4 November 2016)

BERITA REKOMENDASI