Menjaga Spirit Pers Sehat

Benni Setiawan
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta

TAJUK Rencana Kedaulatan Rakyat, Selasa (14/4) menarik untuk dicemati. KR menulis tentang pentingnya insentif untuk perusahaan pers di tengah covid-19. Apa yang disuarakan KR perlu mendapat dukungan. Pasalnya, covid-19 juga membawa dampak bagi pertumbuhan pers. Artinya, daya beli masyarakat yang rendah dapat mengancam kehidupan industri media. Maka insentif untuk perusahaan pers menjadi sebuah keniscayaan.

Pers perlu dijaga agar tetap sehat dan waras. Artinya, kondisi zaman yang terus berubah, ditandai dengan pesatnya teknologi digital telah mengubah stuktur media. Perubahan ini membutuhkan seperangkat ide/pemikiran, pendekatan, dan juga metode agar nilai jurnalistik tetap tumbuh dalam jiwa masyarakat.

Jurnalisme Ludah

Firdaus Cahyadi (2020) menyebut teknologi digital memunculkan jurnalisme ludah. Jurnalisme ludah hanya mengecap dari satu narasumber. Narasumber itu pun dipertanyakan otoritas keilmuannya. Persoalan jurnalisme ludah selanjutnya adalah minimnya verifikasi sebagai bagian penting dalam kerja jurnalistik.

Jurnalisme ludah muncul sebagai ‘jawaban’ kebutuhan cepat informasi. Seakan masyarakat saat ini akan kehilangan dunia saat tidak segera mendapat informasi. Saat itu menjangkiti hidup masyarakat, maka jurnalis kemudian kehilangan nyawa untuk memberitakan fakta. Maka jurnalis kehilangan sikap dan independensi dalam memuat berita. Pasalnya, berita telah berubah menjadi opini jurnalis. Ironisnya, model berita seperti itulah yang kini digandrungi masyarakat.

Masyarakat seakan emoh dengan berita dengan model verfikasi ketat. Bahkan, dalam kesadaran semu mereka, akan mengungkap bahwa berita opini jurnalis adalah sebuah kebenaran. Sedangkan model karya jurnalistik yang memenui standar ilmiah (etika) malah dianggap sebagai sebuah kebohongan (hoaks).

Prinsip verifikasi berita hari ini mendapat tantangan berat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Prinsip verifikasi ini perlu menjadi senjata jurnalis untuk menegakkan benang basah. Pasalnya, tanpa prinsip itu media akan mati. Kematian media sebagai panyambung lidah kebenaran dan penyampai kabar gembira menjadi kabar buruk bagi masyarakat. Prinsip verifikasi pun dapat menyelamatkan jurnalis dari pembodohan massal.

BERITA REKOMENDASI