Menuju Generasi Sociopreneur

Editor: Ivan Aditya

MESKIPUN perhatian mengenai sociopreneur (kewirausahaan sosial) di Indonesia sudah mulai mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah akan tetapi secara realitas program-program pengembangan yang ditujukan kepada pengembangan sociopreneur tidak semasif dibandingkan program pengembangan kewirausahaan bisnis. Mengingat urgensi pengembangan kewirausahaan sosial di dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, pengangguran maka perlu ada perubahan pengembangan kewirausahaan sosial baik dari aspek paradigma, substansi program dan objek sasaran dari program tersebut.

Dari aspek paradigma, program pengembangan kewirausahaan perlu digeser dari paradigma pengembangan kewirausahaan yang sekadar hanya sekadar berorientasi bisnis menuju kewirausahaan memiliki visi sosial. Berkaitan dengan hal tersebut maka program-program pengembangan kewirausahaan baik dari pemerintah, swasta dan perguruan tinggi juga harus menempatkan program kewirausahaan sosial ini minimal setara dengan kewirausahaan sosial. Sayangnya sampai saat ini program dan kompetisi sociopreneur masih sangat minim dan kalah jauh dibandingkan dengan program yang berorientasi pada bisnis. Demikian juga halnya dengan alokasi anggaran dan pusat-pusat inkubasi bisnis yang cenderung lebih banyak berorientasi pada wirausaha bisnis dibandingkan dengan wirausaha sosial. Kurikulumkurikulum pengajaran dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi pun cenderung berorientasi pada wirausaha bisnis. Implikasinya mindset masyarakat hanya sekadar memandang wirausaha sekadar bisnis semata.

Dari aspek substansi program, perlu ada upaya memperbaiki program pengembangan sociopreneur . Selama ini, program-program sociopreneur masih dijalankan parsial. Ada tiga aspek yang penting diperhatikan dalam pengembangan sociopreneur yakni passion, value (nilai) dan reliogisity. Aspek-aspek ini seharusnya menjadi dasar dalam pengembangan sociopreneur. Dengan demikian, sinergi pengembangan spiritual dengan pengembangan socioprenuer urgen untuk diperhatikan karena kata kunci di dalam memulai aktivitas kewirausahaan sosial ini adalah adanya kepekaan sosial dan semangat untuk berbagai bersama.

Dukungan struktural pengembangan sociopreneur seperti fasilitasi permodalan, pemasaran, teknologi dan sebagainya perlu untuk dilakukan. Pengembangan kampung-kampung digital yang saat ini gencar dilakukan perlu disinergikan dengan pengembangan sociopreneur. Inisiasi start up kewirausahaan sosial dan pendampingan perlu untuk terus dikembangkan. Pusatpusat inkubasi sociopreneur perlu dikembangkan untuk memfasilitasi start up dan pendampingan kewirausahaan sosial ini. Program-program CSR perusahaan juga perlu di dorong untuk memfasilitasi pengembangan sociopreneur.

Kelemahan yang seringkali muncul dalam pengembangan kewirausahaan adalah pendampingan. Banyak program-program yang mandeg di tengah jalan karena tidak tepatnya pendampingan yang dilakukan. Oleh karena itu, proses pendampingan perlu dilakukan secara kontinyu dan berorientasi pada kemandirian. Intervensi yang dilakukan perlu dilakukan dengan proses tahapan yang jelas dan strategi yang tepat dengan menyesuaikan karakteristik pelaku usaha.

Secara kuantitas dan kualitas pemuda memiliki keunggulan. Secara kuantitas jumlah penduduk Indonesia usia 16 sampai dengan 30 tahun tercatat 26%. Secara kualitas pemuda pemuda juga memilih gairah/semangat, kreativitas tinggi, dan terkoneksi dengan media Sosial. Mengacu pada teori generasi, generasi muda saat ini dapat dikelompokkan ke dalam generasi Y (lahir 1981- 1994) dan juga generasi Z (1995- 2010). Generasi Y ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, dan media sosial seperti facebook dan twitter. Sedangkan generasi Z merupakan generasi internet yang sudah mengenal media sosial sejak dini. Generasi-generasi saat ini sangat cocok untuk dijadikan ujung tombak pengembangan kewirausahaan sosial.

Mengingat urgensi pengembangan sociopreneur di dalam mengatasi masalah-masalah sosial masyarakat maka FISIPOL UGM melalui Pusat Kajian Kepemudaan (Yousure) menjadi pioner pengembangan sociopreneur dengan menggelar kompetisi nasional Sociopreneur muda Indonesia (Soprema). Kompetisi yang didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dan bekerja sama dengan BRI, BPJS Ketenagakerjaan, Telkomsel, Angkasa Pura II dan Pertamina mempertandingkan 6 kategori yakni teknologi, pertanian dan kemaritiman, ketahanan pangan, ekologi/lingkungan/wisata, ketahanan pangan dan industri jasa pelayanan publik, Kompetisi ini diharapkan menjadi ajang pengembangan socio preneur dan penyemaian benih-benih kepemimpinan dari daerah. Oleh karena itu pascakompetisi, pendampingan juga akan dilakukan untuk mewujudkan generasi sociopreneur yang mandiri.

(Dr Hempri Suyatna, Direktur Pelaksana SOPREMA Yousure FISIPOL UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 6 September 2016)

BERITA REKOMENDASI