Menuju Wajah Pendidikan yang Humanis

Editor: Ivan Aditya

MEMASUKI tahun ajaran baru 2016, Mendikbud Anies Baswedan (kini mantan) mengeluarkan dua terobosan baru dalam membenahi pendidikan di tanah air. Pertama, diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 18 Tahun 2016 Tentang, Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru. Kedua, adanya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2016 Tentang, Hari Pertama Sekolah.

Terobosan kebijakan yang dikeluarkan tersebut, tidak terlepas dari maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Kasus tawuran antarpelajar, kasus perkelahian antargeng di sekolah, kasus kekerasan kakak kelas ke adik kelas, kriminalisasi terhadap guru, serta sederetan kasus kekerasannya lainnya menjadi bukti buramnya wajah dunia pendidikan kita. Mengapa demikian? Pertama, Masa Orientasi Sekolah (MOS), selalu menjadi benih awal tumbuhnya budaya kekerasan di lingkungan sekolah. Setiap tahun ajaran baru, nilai-nilai kekerasan disuguhkan oleh senior ke yunior. Praktik-praktik kekerasan, baik fisik maupun psikis dari senior ke yunior menjadi habit dalam dunia pendidikan. Bahkan ada kesan sekolah mendukung kegiatan tidak manusiawi tersebut.

Kedua, problem kekerasan dalam dunia pendidikan terjadi karena tidak adanya hubungan sinergis antara orangtua dengan para guru di sekolah. Orangtua menyerahkan tanggung jawab anaknya selama di sekolah pada guru. Segala tindak-tanduk, perilaku anak di sekolah sepenuhnya menjadi urusan sekolah. Kalau perilaku anaknya nakal selama di sekolah, yang disalahkan adalah guru. Tidak heran banyak kasus guru dilaporkan ke polisi oleh orangtua murid karena mencubit, menegur anak di sekolah.

Ruang Komunikasi

Persoalan seperti ini sebenarnya cukup sederhana kalau guru dan orangtua murid membangun hubungan yang sinergis, membuka ruang komunikasi sehingga tidak terjadi kesalapahaman satu sama lain. Orangtua murid disadarkan bahwa sekolah bukanlah satu-satunya tempat yang bisa mengubah perilaku sang anak. Tetapi keluargalah menjadi tempat pertama bagi anak dalam mengembangkan perilaku, membentuk karakter serta meningkatkan kecerdasan. Maka pola hubungan yang harmonis antara guru di sekolah dengan orangtua di rumah menjadi kunci utama agar menghindari anak dari perilaku-perilaku negatif termasuk perilaku kekerasan.

Kebijakan lain yakni mengubah MOS menjadi pengenalan lingkungan sekolah adalah dalam rangka mengubah kultur kekerasan menjadi kultur edukasi. Dalam pengenalan lingkungan sekolah siswa-siwa baru diajarkan untuk mengenali potensi diri, menumbuhkan motivasi. Juga menumbuhkan semangat, perilaku positif seperti kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan serta perilaku positif lainnya. (Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016, pasal 2).

Sedangkan terkait dengan surat edaran hari pertama masuk sekolah, kebijakan tersebut adalah dalam rangka membangun hubungan yang harmonis antara guru dengan para orangtua. Orangtua diharapkan membangun rasa memiliki atas sekolah tersebut. Sebaliknya guru diharapkan dapat menjadi orangtua bagi si anak selama jam sekolah berlangsung. Hubungan timbal-balik seperti inilah yang dapat meminimalisir tindakan kekerasan dalam dunia pedidikan di tanah air.

Terobosan yang baik dari Mendikbud Anis Baswedan, harus diapresiasi dan ditanggapi dengan baik pula oleh seluruh insan pendidikan di tanah air. Gebrakan yang dilakukan ini, menjadi pijakan awal agar ke depannya pendidikan kita berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan. Kaidah kemanusiaan (humanis) tidak saja terkait out put pendidikan yaitu membebaskan mereka yang tidak berdaya menjadi berdaya atau terkait aksesibilitas dalam dunia pendidikan. Akan tetapi juga terkait dengan menumbuhkembangkan lingkungan yang edukatif baik di keluarga, di masyarakat maupun di sekolah.

Catatan penutup

Pendidikan adalah nyawa bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan menjadi tempat bagi pembentukan karakter masa depan bangsa ini. Pendidikan kita diarahkan untuk memanusiakan manusia dengan cara mengubah watak dan karakter pendidikan kita dari wajah penuh kekerasan menjadi wajah yang penuh kemanusiaan.

Oleh karena itu, mengelola pendidikan itu tidak bisa diserahkan saja pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Menumbuhkan ruang-ruang dialog, ruang-ruang komunikasi antarstakeholders pendidikan menjadi kata kunci agar ke depannya wajah pendidikan kita semakin humanis.

(Agustinus Y Budiarta. Pegiat Lembaga Pendidikan Untuk Indonesia ‘Pundi’. Artikel ini tertulis di Koran Kedaulatan Rakyat, Kamis 11 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI