Menyelisik Pengaruh Televisi

Editor: Ivan Aditya

TELEVISI, kerap dijadikan kambing hitam atas banyak masalah yang terjadi di masyarakat. Tidak bisa diingkari, bagi masyarakat, televisi sedikit banyak memiliki pengaruh buruk bagi kehidupan. Sesungguhnya, bila kita mengakui bahwa televisi membawa pengaruh buruk dalam kehidupan, secara tidak langsung kita mengakui bahwa kita adalah bangsa yang pasif, bangsa yang bisa dijajah dan dicekoki oleh televisi. Benarkah?

Jika kerap dipersalahkan, tentu tidak terlepas dari fakta bahwa televisi kerap menampilkan kehidupan secara oposisi biner. Televisi selalu menampilkan sesuatu secara dualisme: kaya dan miskin, baik dan jahat, cantik dan jelek, langsing dan gendut, hitam dan putih. Sinetron contohnya, selalu menampilkan tokoh antagonis dan protagonis. Berita pun selalu menampilkan berita yang berkesan menggiring pendapat masyarakat ke arah baik dan jahat. Hal ini semakin jelas pada momen pemilu atau pemilukada. Televisi seolah ingin menggiring pendapat bahwa calon A adalah baik, dan calon B adalah jahat. Iklan pun demikian. Iklan menampilkan bahwa langsing dan putih itu cantik, sedangkan gelap dan gemuk itu jelek. Pada akhirnya, masyarakat kita seolah dibagi dalam dua kelompok tersebut, entah itu baik atau jahat.

Akan tetapi, yang kemudian menjadi pertanyaan, benarkah demikian? Benarkah masyarakat kita, terlebih anak-anak kita, terdoktrinasi oleh oposisi biner tersebut? Dan apakah benar bahwa televisi sungguh memiliki pengaruh buruk dalam masyarakat?

Tidak Langsung

Joke Hermes (2005) dalam bukunya Re-reading Pop Culture, menuliskan tentang pengaruh televisi terhadap anak-anak. Secara mengejutkan, Hermes menuliskan bahwa anak-anak tidak senaif dan sepasif yang orang dewasa bayangkan. Mereka tidak langsung begitu saja meniru apa yang ada di dalam televisi. Mereka bahkan tidak berpikir secara biner seperti kita, bahwa dunia ini hanya hitam dan putih, atau baik dan jahat. Bagi mereka, di dalam keburukan ada kebaikan, di balik kelemahan ada kelebihan, dan sebaliknya. Hal ini tentu berkebalikan dengan pola pikir orang dewasa yang terkadang sangat kaku dan melihat segala sesuatu dari kacamata biner saja.

Tulisan di atas tersebut memang berdasarkan kehidupan di Barat, tetapi tidak berarti bahwa gagasan tersebut tidak terjadi dalam masyarakat kita. Sebagai contoh, dalam masyarakat kita, kerap kali orangtua melarang anaknya menonton beberapa kartun karena dianggap bisa memberikan pengaruh buruk. Kartun antara kucing dan tikus misalnya. Kucing yang kerap melakukan kekerasan pada tikus dikhawatirkan akan membuat anak-anak melakukan kekerasan.

Akan tetapi, bila kita melihat pada kenyataannya, apakah ada anak yang berani memukul tikus bila tikus muncul di depan mereka? Mungkin akan sangat jarang ditemui. Yang ada anak akan berteriak, berlari, atau naik ke kursi bila tikus muncul atau melewati mereka. Kenapa? Karena orangtua, atau ibu bahkan ayah mereka melakukan hal demikian.

Televisi memang kerap menampilkan tayangan yang tidak tepat. Demi profit, televisi kerap tidak mendukung gerakan pemerintah. Televisi menayangkan acara anak pada jam belajar. Acara dewasa ditayangkan pada jam anak.

Gebrakan Berarti

Mestinya dipahami, televisi tidak selalu bersalah dalam berbagai masalah dalam masyarakat. Bagaimanapun, pertelevisian Indonesia telah menunjukkan gebrakan berarti untuk bangsa ini. Persidangan yang terbuka dan langsung bisa disaksikan melalui televisi, membuat kita bisa melihat dan memutuskan nilai yang ada dalam persidangan tersebut.

Selain itu, televisi justru membuat kita ingat, bahwa kita bangsa dan manusia yang merdeka. Televisi mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang tidak pasif. Bagaimanapun juga, lingkungan memengaruhi kita dalam membaca dan menerima televisi.

Delegasi Jerman pernah menanyakan urgensi di balik hari Televisi Sedunia, mengingat sebenarnya dunia sudah memiliki Hari Komunikasi. Dari tulisan ini bisa dikatakan bahwa televisi merupakan alat komunikasi yang paling lengkap dengan audio dan visual-nya. Fitur-fitur tersebut menjadikan manusia tidak lagi pasif, mereka bisa mengambil makna dan nilai sesuai yang mereka inginkan. Televisi menawarkan area di luar area hitam-putih, atau baik-jahat.

(Atur Semartini. Alumnus Pascasarjana Kajian Budaya UNS. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 21 November 2016)

BERITA REKOMENDASI