Merdeka Belajar di Situasi Abnormal

Editor: Ivan Aditya

PANDEMI yang tak disangka-sangka datang membuat dunia pendidikan sangat terguncang. Pandemi yang tak pernah terpikirkan, benar-benar mempengaruhi segala aspek kehidupan. Memaksa semua orang untuk bersusah payah menghadapi. Mengubah banyak hal yang selama ini rutin dilakukan setiap hari.

Siap tidak siap, terpaksa harus siap. Proses pembelajaran yang biasanya dilakukan langsung di kelas terpaksa harus dialihkan secara penuh ke sarana dalam jaringan (daring). Semua mendadak harus serbadigital. Tak hanya sekolah, tapi juga perguruan tinggi. Mahasiswa menuntut ilmu dari rumah, dosen mentransfer ilmu pun dari kejauhan, tanpa bertatapan langsung. Pembelajaran daring yang sebelumnya hanya sesekali dilakukan melalui aplikasi e-learning kampus, kini harus dilakukan setiap hari dengan berbagai sarana berbasis internet.

Belajar dari rumah menuntut pendidik untuk mencari cara paling tepat untuk tetap dapat menyampaikan materi pembelajaran jarak jauh. Dari sistem e-learning yang memang telah lazim digunakan di masing-masing kampus, aplikasi video conference, hingga yang paling sederhana adalah melalui melalui grup di aplikasi percakapan lewat ponsel android.

Sebelum pandemi datang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan kebijakan baru yang disebut dengan konsep Merdeka Belajar, yang kemudian diikuti dengan kebijakan Kampus Merdeka. Kebijakan Kampus Merdeka tersebut mencakup beberapa poin yang intinya bertujuan untuk membuat perguruan tinggi lebih leluasa bergerak, baik dalam hal akreditasi, pembukaan program studi baru, dan lainnya. Mas Menteri kala itu juga menjelaskan bahwa kebijakan Kampus Merdeka yang memang merupakan kelanjutan dari konsep Merdeka Belajar tersebut akan memungkinkan mahasiswa mengikuti pembelajaran di luar program studi mereka, dan bahkan bebas memilih kegiatan apa yang mereka inginkan di luar kampus. Menurut Mendikbud, kebebasan mahasiswa untuk belajar dan berkegiatan di luar prodi maupun di luar kampus akan tetap membuat mereka memperoleh ilmu sekaligus pengalaman di luar pembelajaran di kelas. Hal tersebut benar adanya, sebab kompetensi mahasiswa memang tidak hanya bisa dibentuk di dalam kampus namun juga harus disokong berbagai pengalaman di luar kelas, baik pengalaman organisasi maupun pengalaman praktik dan bekerja.

Di tengah pro dan kontra tentang Kampus Merdeka, tiba-tiba muncul virus corona.

Program Merdeka Belajar dan juga Kampus Merdeka yang diinisiasi oleh Mendikbud pun sejatinya mendadak relevan dengan kondisi pandemi yang juga mendadak kita alami. Awalnya, program tersebut memang digagas untuk menghadapi era disrupsi yang saat ini terjadi. Pemerintah mendorong akademisi untuk sigap menghadapi derasnya laju perubahan zaman di era digital, sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan.

Mendadak, disrupsi teknologi ini diterabas oleh pandemi. Situasi abnormal seperti sekarang mendorong para pendidik dan peserta didik, termasuk dosen dan mahasiswa, untuk memerdekakan diri dalam belajar. Tentu saja, banyak konsekuensi yang menyertai. Ada pertanggungjawaban yang harus terjabarkan.

Masalah pokok yang muncul adalah ketersampaian materi pembelajaran dan indikator penilaian. Bagaimana keraguan para pendidik akan kemampuan mahasiswa untuk menangkap materi, diikuti dengan keraguan tentang kejujuran. Jarak membuat indikator penilaian menjadi kabur, apakah benar mahasiswa betul-betul mendapatkan sebuah pencapaian dengan usahanya sendiri.

Lalu muncul keluhan dari mahasiswa, ini kuliah daring atau sekadar penugasan daring?

Saya sempat membaca sebuah meme di media sosial, tentang keluhan mahasiswa bahwa selama belajar dari rumah saat pandemi ini mereka merasa seolah hanya mendapatkan “tugas daring”, bukan “kuliah daring” yang sesungguhnya. Keluhan seperti itu muncul karena menurut mereka sebagian besar dosen hanya memberikan tugas yang silih berganti namun penjelasan materi kuliah hanya sedikit yang bisa dipahami. Tugas-tugas berjejalan setiap hari seolah tak memberi mereka ruang untuk berinovasi.

Prihatin. Sedih. Tentu saja. Saya dan kita semua tentu saja paham, situasi pandemi sejak berbulan-bulan lalu hingga sekarang adalah situasi sulit. Mahasiswa merasa kesulitan menerima transfer ilmu, dosen pun merasa kurang maksimal mentransferkan ilmunya.

Adalah tanggung jawab guru dan dosen untuk mencegah agar generasi yang menuntut ilmu selama pandemi ini tidak benar-benar menjadi the lost generation. Bagaimana agar mereka mendapatkan perlakuan yang sama dengan peserta didik lain yang telah lulus. Bagaimana agar kualitas pendidikan selama pandemi ini tidak terlalu jauh njomplang dari situasi biasanya. Bagaimana agar generasi pandemi ini tetap memiliki kompetensi yang memadai.

Bagimana mewujudkan merdeka belajar di kampus merdeka, dengan kualitas pendidikan yang tetap terjaga. Ini tanggung jawab kita semua, baik dosen, staf lainnya, dan juga mahasiswa.

Dosen dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, sebab pembelajaran jarak jauh tentu sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Pendidik dituntut untuk bisa maksimal menggunakan segala sarana agar materi tersampaikan, peserta didik terpahamkan, dan indikator penilaian bisa termaksimalkan. Banyak orang bilang kualitas pembelajaran daring tidak akan sama dengan saat materi disampaikan langsung di dalam kelas. Namun bukan berarti kesenjangan kualitas tersebut tidak bisa diatasi, atau paling tidak diminimalisasi.

Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah memberikan penilaian kompetensi individual mahasiswa. Bagaimana mengukurnya? Bisa melalui penugasan yang mengharuskan mereka melakukan dokumentasi melalui video. Misalnya presentasi, baik secara individual maupun tim, sehingga dosen bisa menilai sejauh mana pemahaman mahasiswa terkait materi yang telah disampaikan. Toh, pada akhirnya nanti lulusan perguruan tinggi memang dituntut untuk bisa berdaya secara nyata, bisa menunjukkan kompetensi dan kapabilitas, bukan hanya sekadar menulis bertumpuk-tumpuk tugas di atas kertas.

Novita Purnaningsih SS MA.
(Alumnus FIB UGM, mantan jurnalis, dosen Politeknik Sawunggalih Aji, Kutoarjo)

BERITA REKOMENDASI