Merevitalisasi Ideologi Muhammadiyah

Editor: Ivan Aditya

MUHAMMADIYAH telah berusia 104 tahun (18 November 1912-18 November 2016). Hingga memasuki abad kedua Muhammadiyah tetap konsisten berjuang di ranah kultural. Dalam sejarah panjang perjuangannya, Muhammadiyah belum sekali pun tergoda menjadi partai politik. Muhammadiyah tetap menampilkan diri sebagai gerakan sosial keagamaan dan dakwah amar maíruf nahi munkar.

Di tengah suasana merayakan kelahiran (milad) ke-104, aktivis Muhammadiyah layak berbangga. Kebanggaan itu bisa dirasakan tatkala melihat capaian Muhammadiyah di bidang amal usaha pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial. Karena itu, tidak berlebihan jika Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah mengatakan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modern yang terbesar di dunia. Lebih besar dari organisasi mana pun di dunia Islam.

Dilihat dari segi kelembagaannya, Muhammadiyah juga sangat mengesankan, lebih dari organisasi Islam di mana pun dan kapan pun. Masih menurut Cak Nur, Muhammadiyah merupakan salah satu cerita sukses di kalangan organisasi Islam, tidak saja secara nasional, tetapi juga internasional. Pernyataan Cak Nur ini merupakan salah satu pandangan bernada positif pada Muhammadiyah.

Menuai Kritik

Selain menerima pujian, Muhammadiyah juga menuai kritik. Di antara pernyataan bernada kritik dikemukakan Azyumardi Azra. Menurut Azra, Muhammadiyah memang layak disebut gerakan pembaru (tajdid), terutama bidang amal usaha. Tetapi, dalam bidang pemikiran keagamaan, Muhammadiyah masih menunjukkan karakter sebagai gerakan salafiah. Azra mendasarkan kritiknya pada orientasi ideologi gerakan Muhammadiyah yang menekankan pemurnian (purifikasi) di bidang aqidah dan ibadah. Manifestasi dakwah purifikasi Muhammadiyah tampak dalam usaha untuk memberantas takhayul, bidah, dan churafat (TBC).

Sebagai gerakan praksis sosial, semua ahli sepakat mengatakan Muhammadiyah merupakan pembaru. Dengan menekuni wilayah praksis sosial keagamaan berarti Muhammadiyah telah melaksanakan prinsip a faith with action. Hasilnya, Muhammadiyah mampu melahirkan banyak amal usaha. Dengan amal usaha yang semakin menjamur itulah Muhammadiyah dihadapkan pada berbagai persoalan. Energi Muhammadiyah nyaris habis untuk mengurus amal usaha.

Dampaknya, pembaruan pemikiran Muhammadiyah terasa sangat kurang. Pada konteks inilah Muhammadiyah perlu melakukan revitalisasi ideologi agar mampu menampilkan diri sebagai gerakan amal sekaligus gerakan ilmu. Peringatan ini juga pernah dikemukakan Ahmad Syafii Maarif. Dengan tanpa lelah, Buya Syafii menyuarakan agar Muhammadiyah menyandingkan gerakan praksisme dan gerakan intelektualisme. Gerakan intelektualisme sangat penting karena bisa menjadi sumber energi bagi Muhammadiyah.

Diakui atau tidak wajah Islam Indonesia akhir-akhir ini banyak diwarnai persaingan kelompok Muslim fundamental dan Muslim liberal. Kelompok fundamental berkeinginan untuk mengembalikan amalan keagamaan sebagaimana dicontohkan Nabi dan sahabat. Tidak ada yang salah dengan semangat ini. Yang menjadi masalah, paham keagamaan yang dikembangkan kelompok fundamental sering melakukan penyederhanaan ajaran dengan kategori yang bersifak simbolik. Ini jelas jauh dari substansi Islam.

Sebaliknya kelompok Muslim liberal justru mengusung tema-tema dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam. Yang patut disayangkan, tema-tema yang diusung kelompok ini sering memicu kontroversi di kalangan umat. Menghadapi perdebatan dua mazhab pemikiran Islam ini, Muhammadiyah harus menampilkan diri sebagai pelopor Islam tengahan (al-wasathiyah). Muhammadiyah juga harus menjalankan fungsi management of ideas dari berbagai mazhab pemikiran.

Pendekatan dan Strategi

Muhammadiyah harus menemukan pendekatan dan strategi yang jitu untuk mengajak berbagai mazhab pemikiran yang ekstrem bergerak ke posisi tengah (median position). Ajakan bersikap moderat ini akan efektif jika ditempuh melalui dialog yang tulus dan tidak saling mengklaim kebenaran. Jika dialog ini dilakukan secara berkelanjutan, pada saatnya kita akan menyaksikan wajah Islam Indonesia benarbenar moderat dan toleran terhadap berbagai keragaman.

Posisi tengah penting sebagai tempat berpijak berbagai mazhab pemikiran. Jika Muhammadiyah berhasil menjadi mediator yang baik bagi berbagai mazhab pemikiran keagamaan, maka ini akan menjadi kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan Islam Indonesia. Dan, untuk kepentingan ini semua jelas membutuhkan ilmu. Karena itulah, Muhammadiyah harus merevitalisasi orientasi ideologinya agar mampu menjadi gerakan praksis sekaligus gerakan intelektual.

(Dr Biyanto. Dosen UIN Sunan Ampel dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 18 November 2016)

BERITA REKOMENDASI