Mewaspadai ‘Trump Effect’ bagi Indonesia

Editor: Ivan Aditya

KEMENANGAN Donald Trump dalam pemilihan Presiden AS, mengejutkan banyak pihak. Dilansir portal berita CNN, dari total 538 electoral votes, Trump mendapatkan total 290 suara (53,9%). Padahal, hasil popular votes yang notabene merupakan suara keseluruhan pemilih AS, menunjukkan bahwa Hillary lebih unggul dibanding Trump (47,7% berbanding 47,4%).

Prof Dr Bambang Cipto, dalam analisis KR (10/11) menyatakan bahwa kemenangan Trump dipengaruhi dukungan pemilih swing states. Isu yang dibangun Trump pada pemilih swing states adalah isu ekonomi. Mereka beranggapan bahwa Trump mampu memperbaiki kondisi ekonomi AS yang buruk dimana terdapat 90 juta pengangguran dan utang luar negeri yang tinggi (US $ 6,2 triliun).

Jika kita lihat, demografi pemilih swing states merupakan masyarakat kelas bawah dengan tingkat pendidikan rendah. Jaminan tentang ketersediaan lapangan pekerjaan menjadi ‘angin surga’ bagi mereka. Motif ekonomi para pemilih untuk bisa memenuhi basic needs melalui tersedianya lapangan kerja ini merupakan senjata ampuh Trump mengalahkan perolehan suara Hillary.

Pengaruh di Indonesia

Sentimen pasar negatif. Begitulah kira-kira efek jangka pendek dari terpilihnya Donald Trump (trump effect) menjadi presiden ke-45 AS. Penutupan perdagangan pada hari pemilihan presiden AS (9/11) menunjukkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 56,36 poin (1,03%) dan rupiah melemah pada kurs Rp 13.127/US $ (turun 0,33%).

Sementara dalam jangka panjang, pengaruh trump effect terhadap perekonomian Indonesia adalah dengan melihat kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan Pemerintah AS. Dengan mempertimbangkan isu yang diangkat Trump dalam kampanye politiknya beberapa waktu silam, ada beberapa hal yang perlu kita waspadai.

Pertama, isu kenaikan tingkat suku bunga. Kenaikan tingkat suku bunga, secara ekonomi akan meningkatkan permintaan akan mata uang tersebut. Peningkatan demand ini akan diiringi dengan peningkatan nilai mata uang. Jika dikaitkan dengan rupiah, dengan asumsi ceteris paribus, maka dolar akan mengalami apresiasi. Adanya kenaikan tingkat suku bunga akan melemahkan nilai rupiah terhadap dolar amerika.

Pelemahan rupiah merupakan indikasi kenaikan harga barang impor. Padahal tahun 2015 silam, Ketua Komunitas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) DIY, Prasetyo Atmosutidjo menyampaikan, hampir 50% UKM di Yogyakarta masih bergantung pada bahan baku impor. Maka, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi; tutupnya usaha-usaha kecil karena pengusaha tersebut tidak mampu membeli bahan baku dengan cost yang lebih tinggi dan peningkatan harga produk. Peningkatan harga produk secara keseluruhan merupakan indikator inflasi.

Penurunan Ekspor

Kedua, isu penarikan diri dari NAFTA dan penolakan Trans Pacific Partnership Agreement (TPPA). Jika kebijakan tersebut terealisasi akan berdampak pada penurunan ekspor Indonesia. Data BPS menunjukkan ekspor Indonesia ke AS periode Januari-September 2016 mencapai 11,59 miliar dolar AS (11,5% dari total ekspor Indonesia). Ekspor merupakan salah satu penunjang terciptanya lapangan pekerjaan. Penurunan ekspor berpotensi menurunkan ketersediaan lapangan kerja. Artinya, pengangguran di Indonesia akan meningkat dan memicu tingginya koefisien gini (ketimpangan pendapatan) dalam masyarakat.

Ketiga, isu pemotongan pajak korporasi. Pemberian tax incentives berupa pemotongan pajak, akan mendorong peningkatan Investasi dalam negeri AS. Efek bagi Indonesia adalah banyak investor dari AS lebih memilih berinvestasi di negaranya sendiri. Maka, ada kemungkinan terjadinya penarikan modal investasi AS yang tertanam di Indonesia untuk dibawa kembali ke negaranya. Maka, para ekonom sudah seharusnya mewaspadai trump effect. Perlu antisipasi berupa penguatan fundamental ekonomi untuk menunjang kestabilan perekonomian di Indonesia.

(Hasan SE. Mahasiswa S2 Magister Ekonomika Pembangunan Universitas Gadjah Mada. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 15 November 2016)

BERITA REKOMENDASI