Mewujud-nyatakan Peradaban Kasih

Editor: Ivan Aditya

DIDALAM Arah Dasar dan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang atau Ardas dan RIKAS, ditegaskankan bahwa umat Katholik di Jawa Tengah khususnya dan di Indonesia pada umumnya, didorong untuk mewujuddkan peradaban kasih. Dengan pemahaman peradaban kasih itu bukan sesuatu yang kosong, tetapi harus dilaksanakan dengan kata dan perbuatan. Landasan ini adalah pemahaman bahwa Tuhan Allah telah lebih dahulu mengasihi manusia. Sehingga kita dikobarkan untuk berani bergerak maju berani mengambil prakarsa.

Karena itulah solidaritas Kristiani harus menjadi perbuatan nyata. Karena sesama yang berkekurangan itu ada dan dikasihi Allah. Persekutuan Kristiani harus memajukan budaya perjumpaan yang sejati. Sikap berbagi dalam hidup dengan kalangan kaum miskin adalah solidaritas sebagai tanda dari persaudaraan yang nyata manusiawi. Bukan sebuah kebetulan kalau Paus Fransiskus mengajak untuk mengupayakan beberapa hal yang sederhana terkait dengan saudara saudari kita yang papa miskin dan menderita.

Mengubah Sejarah

Pertama-tama kita didorong untuk mendekati mereka yang miskin dan menderita, bertatap muka, menyapa, memeluk mereka dan membiarkan mereka merasakan kehangatan kasih yang memecah kesepian mereka. Yang Kedua, agar kita juga mau berpartisipasi dan ikut serta membantu mengubah sejarah dan mendukung pembangunan yang sejati. Oleh karena itu kita perlu mendengarkan jeritan orang miskin dan membangun komitmen untuk mengakhiri pengasingan atau peminggiran mereka. Kemiskinan adalah tantangan kita setiap hari. Yang ketiga adalah bahwa wajah kemiskinan hardir dalam diri kaum perempuan, laki-laki dan anak-anak yang mengalami eksploitasi karena kerakusan manusia, diremuk oleh mesin uang dan kekuasaan. Semua terjadi karena ketidakadilan sosial, ambruknya moral, kegilaan sebagian kecil orang, kemasabodohan orang dan ketidakpedulian banyak orang.

Dalam kaitan dengan apa yang telah digariskan tadi perlu ada prioritas dalam memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terpinggirkan. Jika memungkinkan semua dibantu. Jika tidak, marilah kita pilih mana yang perlu dibantu dalam skala prioritas. Misalnya memberi bantuan sekali saja untuk yang bersifat karitatif. Atau dalam kurun waktu tertentu perlu terus menerus memberikan bantuan yang bersifat karitatif. Atau perlu dibantu untuk diberdayakan menuju kemandirian.

Berkaitan dengan pemberdayaan, perlu dicermati persoalan ekonomi apakah yang terjadi sesungguhnya. Perlu juga diinventarisasi siapa-siapa yang bisa diajak kerja sama dalam gerakan bersama tersebut. Beberapa contoh gerakan sederhana yang bisa dilaksanakan antara lain ; Gerakan pengumpulan koin untuk membantu anak-anak yang kesulitan membayar SPP, membantu biaya pengobatan, membantu biaya pemakaman dan lainnya. Lalu gerakan orangtua asuh bagi anak-anak yang kesulitan biaya sekolah. Gerakan solidaritas antarpelajar dengan berbagi buku atau peralatan sekolah dll. Gerakan mengunjungi orang-orang sakit baik di rumah-rumah maupun di rumah sakit. Juga orang-orang tua jompo. Bergotong royong memperbaiki rumah, lantainisasi, WC dan lain sebagainya. Gerakan membeli beras, sayur , buah kepada petani petani lokal, Gerakan peduli sampah. Gerakan membuat peresapan untuk mengatasi banjir. Dan masih banyak lagi kegiatan yang bisa menjadi gerakan baik sendiri maupun bersama-sama dalam lingkungan.

Bela Rasa

Kasih tidak bisa berdalih. Ketika kita menyatakan kasih seperti Yesus yang mengasihi, kita harus mengikutinya sebagai teladan, terutama dalam mencintai orang-orang miskin. Jalan yang ditempuh oleh Putera Allah untuk mencintai sudah sangat dikenal. Jalan itu berdiri di atas dua pilar. Allah lebih dulu mencintai kita dan Ia mencintai kita dengan memberikan diriNya secara total, bahkan menyerahkan nyawaNya.

Cinta seperti itu tidak boleh diabaikan. Meskipun ditawarkan tanpa syarat tidak meminta balasan. Cinta itu mengobarkan hati sehingga semua yang mengalaminya tergerak untuk membalas mencintai. Akan tetapi hal ini hanya bisa terjadi bila kita menerima rahmat Allah, kasihNya yang penuh belas kasih, sepenuhnya dalam hati kita. Sehingga belas kasih yang mengalir dari hati Tritunggal Yang Maha Kudus membentuk hidup kita dan menghasilkan bela rasa dan belas kasih demi kebaikan saudara-saudari kita yang membutuhkan. Selamat Paskah.

(Sugeng Wiyono Al. Mantan Prodiakon Gereja Pugeran tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 Maret 2018)

BERITA REKOMENDASI