Migrasi Nilai Songsong Abad Samudera Hindia

Editor: Ivan Aditya

PERIODE lima tahun kedua implementasi Undang Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY diberi penanda penting, berupa penyampaian visi dan misi pembangunan 2017-2022 oleh Gubernur DIY. Visi misi yang cukup ‘menggemparkan’ dunia pemikiran, termasuk aspek cara penerapannya dalam dimensi realitas lapangan. Akhir-akhir ini, berseliweran berbagai macam tafsir dan rencana aksi atas visi-misi ‘Menyong-song Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja’.

Visi-misi Gubernur DIY dilengkapi target pencapaian tersusun dalam ‘Panca Mulia’. Disampaikan melalui Pidato Gubernur DIY di Sidang Paripurna Istimewa DPRD DIY, 16 Oktober 2017 lalu. Sampai sekarang, beragam tafsir dan rencana aksi bergumul bergulir, terutama munculnya ragam sudut pandang atas ‘Samudera Hindia’ sebagai kawasan hadap utama DIY, kiblat pembangunan DIY secara fisik. Wajar, karena masih lekat dalam ingatan publik, Segara Kidul adalah kawasan singgasana keratuan mitologis yang dipercaya punya kuasa menyangga wilayah kuasa dan karsa raja-raja Jawa, turun-temurun.

Migrasi Mitologi

Padahal, selayaknya visi-misi ‘menyongsong abad Samudera Hindia’ tersebut diperlakukan sebagai visi-misi Gubernur DIY lepas dari kuasa mitologi spiritual atau kehendak migrasi mitologi. Dan lebih dimaknai sebagai praktik strategi pembangunan untuk mencapai tujuan-tujuan kesejahteraan rakyat DIY. Pendekatan persepsi yang perlu dikembangkan visi-misi tersebut memancar dari perspektif kecenderungan terbaru. Yakni arah arus besar geo-ekonomi internasional terkait bobot posisi geografis DIY, dengan suatu kompleksitas aura positif dukungan situasi dan kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya, dan ideologi masyarakat DIY. Catatan pertama, visi-misi menyongsong abad Samudera Hindia, layak diperlakukan sebagai suatu strategi pembangunan dengan mempertimbangan situasi dan kondisi dunia terkini serta melepaskannya dari ikatan-ikatan mitologis. Visi-misi ini lebih sebagai strategi pembangunan daripada migrasi mitologi.

Meski demikian, menceraikan visi-misi tersebut dari ikatan mitologis tidaklah mudah. Meski bukan muskil untuk dikesampingkan setara dengan pesatnya perubahan peradaban. Pertanyaan yang muncul dari ragam tafsir dan rencana aksi adalah, apakah visi-misi tersebut sebagai upaya transformasi nilai menuju ‘penaklukan’ samudera, mengubah cara pikir cara tindak dengan mengawinkan sudut pandang agraris dan maritim?

Urutan visi-misi abad Samudera Hindia ini, lepas dari takaran telah seberapa mampu diwujudkan, dapat dilacak pada gagasan strategis sebelumnya. Yaitu (1) Yogya Gumregah, renaisans Yogyakarta, suatu rencana aksi perubahan-perubahan (perilaku budaya) mendasar di DIY. Dan (2) penegasan ‘among tani ñ dagang layar’, perkawinan mesra kekuatan agraris dan maritim, petani produsen sekaligus berjiwa dagang. Menciptakan nilai tambah setiap produk kreatif.

Visi-misi pembangunan DIY 2017-2022, banyak dianggap masih tersurat dalam ‘bahasa tinggi’ dan belum terjemahkan dalam ‘bahasa rakyat’ yang lebih operasional. Mungkin akan bernasib sama dengan ‘renaisans Yogya’ dan ‘among tani dagang layar’ yang berhenti sebagai gagasan dan belum diwujudkan dalam realitas aksi pembangunan. Di antaranya karena, para perencana program pembangunan gagal paham dan miskin tafsir, sehingga tidak tercermin perwujudannya dalam program dan kegiatan pembangunan. Ada kekhawatiran, menyongsong abad Samudera Hindia ini akan bernasib sama, jadi satuansatuan gagasan strategis yang gagal diterapkan, tidak meninggalkan jejak pencapaiannya. Siapakah ‘juru pengaman’ penerapan visi-misi Gubernur DIY?

Futuristik

Jelas sekali, visi-misi menyongsong Abad Samudera Hindia suatu visi yang futuristik, tetapi menyandar pada prospek geo-ekonomi internasional. Titik simpul strategis dalam peta geo-ekonomi terkait Samudera Hindia ada pada tangan pihak-pihak lain dalam kuasa global. Dan DIY berusaha menyediakan keberadaan posisi wilayah strategis dengan penciptaan lebih banyak keunggulan kompetitif sebagai magnet penyedot perhatian, pemegang simpul strategis geo-ekonomi global.

Di samping penguatan infrastruktur fisik geografis, yang lebih strategis untuk mendukung dan mewujudkan visi-misi itu adalah migrasi nilai-nilai dasar masyarakat agrarismaritim berjiwa dagang. Semata agar keunggulan kompetitif DIY menjadi daya tarik utama, penyedot arus-arus beragam kuasa global yang berdampak langsung pada kemuliaan martabat manusia Yogya. Masyarakat sejahtera lahir dan batin lewat cakupan misi yang tertuang melekat dalam ‘Panca Mulia’. Samudera Hindia tidak hanya disongsong sebagai realitas fisik, sepotong-sepotong tanpa mendalami hikmah fungsi migrasi nilai-nilai.

(Purwadmadi. Pemerhati dan penulis seni-budaya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 Februari 2018)

BERITA REKOMENDASI