Miniatur Pers Kebangsaan

Editor: Ivan Aditya

"…Saja mengharap adanja surat-surat-chabar Indonesia jang lebih pandjang umur lagi, puluhan atau ratusan tahun, dan jang nilainja ta' kalah dengan nilai surat-chabar luar negeri. Moga-moga Kedaulatan Ra'jat mentjapai tingkatan itu! Dan tetap membantu perdjoangan! Merdeka!" Soekarno, Djakarta, 22 September 1950.

Itulah bagian dari petikan sambutan Bung Karno, ketika Peringatan Hari Ulang Tahun ke-5 Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat (KR). Pada intinya, KR harus dan tetap terus membantu perjuangan bangsa Indonesia. Petikan ini diambil dari naskah Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Peringatan 67 Tahun Kiprah KR untuk bangsa Indonesia dan khususnya DIY. Pada era 1900-an kualitas dan fungsi surat kabar bukan lagi sebatas sarana dokumentasi, tapi menjadi sarana penyampaian saran, kritik, dan aspirasi, terutama bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ironinya, pada dekade terakhir ini kebebasan pers Indonesia seakan-akan lepas kendali. Kurang peka terhadap dampak dari pemberitaan yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Apalagi saat musim kampanye tiba, kadang pemberitaan tentang konflik antarkelompok atau antaretnis atau yang mengangkat isu SARA semakin banyak. Tindakan ini seharusnya bisa diredam oleh pers sendiri karena disinyalir menyebabkan jiwa nasionalisme dan kebangsaan di kalangan masyarakat luas semakin luntur.

Melihat ini semua, perlu kiranya dikaji kembali apakah hakikat media sudah sesuai dengan desain pers yang dijiwai oleh nilai-nilai kebangsaan yang mendasar pada Pancasila? Kalau dilihat bahwa hakikat Pers Pancasila adalah pers yang bebas dan bertanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyaluran aspirasi rakyat dan kontrol sosial konstruktif. Maka, kehadiran pers harus mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa sebagai bangsa yang berbudaya dan berkarakter Indonesia.

Mengutip tulisan Ashadi Siregar di Peringatan HUT ke-50 KR pada 19 September 1995, bahwa Pers Pancasila hanya bisa dilihat dari inter-relasi pers dengan institusi lain. Sebab format institusi pers pada dasarnya dibangun oleh faktor-faktor imperatif dari institusi lain. Jika seluruh institusi kemasyarakatan  dalam sistem kenegaraan sudah berjalan sesuai dengan Pancasila, percayalah, Pers Pancasila otomatis akan terwujud.

KR telah menjawab melalui perannya dalam masyarakat. Dalam usia yang ke-71 ini energi perjuangan KR masih bisa dirasakan masyarakat. Berita-berita perlawanan terhadap korupsi dan ketidakadilan didengungkan dengan lantang. Bahkan sikap anti-SARA ditumbuhkan KR melalui keragaman diskusi dan pendapat masyarakat. Sehingga setiap anggota masyarakat dapat saling berinteraksi, belajar dan berdebat tentang masalah-masalah publik tanpa perlu risau adanya campur tangan siapa pun.

Salah satu fungsi pers sebagai media regeneratif dan melakukan pengawalan hak-hak warganegara. Dengan kekuatan tersebut, pers tidak sekadar dapat mengawal perkembangan masyarakat, namun bahkan dapat mengarahkan pada kondisi yang lebih baik serta menguntungkan bagi kehidupan berbangsa, yaitu dengan membangun kesadaran berbangsa dan menumbuhkan nasionalisme suatu negara.

Edisi perdana penerbitan KR memuat wawancara dengan Presiden Soekarno yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia itu bukan hadiah dari Jepang, melainkan merupakan kemauan bangsa Indonesia sendiri. Torehan sejarah pada edisi perdana tersebut telah mewariskan perjuangan dan tentu harus dan akan tetap menjadi semangat yang tidak pernah habis bagi KR dalam sinerginya dengan masyarakat.

Tugas KR bukan semata-mata menyampaikan informasi kepada publik tetapi juga menjadi 'miniatur Pers Kebangsaan' yakni terpanggil untuk berkontribusi dalam pemantapan nilai-nilai karakter dan kebangsaan. Sikap ini harus ditanamkan pada seluruh media. Bahwa peran media massa adalah bisa menyuguhkan teladan dan karakter budaya bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Dengan bekal 'Suara Hati Nurani Rakyat' maka perannya di masa yang akan datang akan tetap ditunggu masyarakat luas dalam harapan tetap Migunani Tumraping Liyan. Semangat KR dalam usia yang ke-71 ini, haruslah menjadi teladan bagi media massa ataupun kalangan pers yang ada di Tanah Air. Peran dan perjuangannya akan tetap dinantikan oleh masyarakat sebagai penjaga marwah kebangsaan berdasarkan Pancasila.

(Hendro Muhaimin MA. Analis Kebangsaan di Pusat Studi Pancasila UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 28 September 2016)

BERITA REKOMENDASI