Mudik Bareng Umar Kayam

Editor: Ivan Aditya

DARI barisan pendek sastrawan terkemuka dan ilmuwan sosial di Indonesia, barangkali hanya Umar Kayam yang banyak menelurkan tulisan tentang fenomena Lebaran plus mudik. Jika sudi menghitung, lebih dari 20 buah kolom maupun cerpen bertema Lebaran dironcenya. Lelaki kelahiran Ngawi 1932 ini kesemsem terhadap budaya mudik dalam momentum Hari Raya Idul Fitri. Karena pengamatannya jeli serta lincah meracik kata, maka tak pernah dipergoki repetisi pada sekodi coretan ringannya itu. Selalu menyeruak fakta dan makna anyar yang menggoda untuk direnungkan bersama.

Koran ini menjadi ruang utama Kayam sesorah dengan gaya glenyengan. Pembaca pun menyantap tulisannya tanpa kudu mengerutkan kening, malah menerbitkan senyum. Baiklah, saya deretkan beberapa judul buah penanya: ‘Rapat Meja Bundar Menjelang Lebaran’, ‘Mudik 1991’, ‘Tradisi Mudik Lebaran’, ‘Dan Pembantu Pulang Mudik’, ‘Lebaran’, ‘Pulang Mudik Lebaran’, ‘Intermezzo Lebaran’, ‘Sawang-sinawang Waktu Lebaran’, ‘Mudik Lebaran dan Rigenomics’, ‘Keranjang Lebaran’, ‘Jer Lebaran Mawa Beya’, ‘Tentang Menu Lebaran’, ‘Taruhan Lebaran’, dan lainnya.

Terminologi mudik bergentayangan di sekujur bukunya. Mudik dipahami sebagai kegiatan pulang kampung yang dilakoni perantau demi melunasi rindu dan kumpul bareng brayat ageng yang lazim tinggal di pedesaan. Di satu sisi, mudik dimengerti pula sebagai lambang kesuksesan wong cilik atawa kaum pedarakan yang mengadu nasib di perkotaan. Maka, Kayam tak segan menceritakan perjuangan para batur yang bergenteyongan demi bisa mudik setahun sekali itu.

Kendati muasal batur dari udik dan menempati kelas sosial terendah, namun tetap direken Kayam yang secara historis berasal dari keluarga priayi terpelajar. Bermodal perspektif sosiologis-antropologis, Kayam justru memaknai jagad batur sebagai ladang inspirasi tiada batas. Demikian pula narasi yang ditenunnya bahwa pola relasi umum kaum ndara (majikan) dengan para batur tak boleh eksploitatif. Priayi dilayani, abdi meladeni, itu selaras. Memang begitu takdir manusia dalam kultur yang tumbuh di lingkungan agraris Jawa. Mereka hidup di bawah prinsip simbiose mutualisme.

Nah, apabila para pembantu mudik dan tidak kembali sebubar Lebaran, betapa cotho atau runyam rumah tangga sang juragan. Siapa nanti yang kelan, ngumbahi, siram-siram tanaman, hingga menyiapkan nyamikan kala ngeteh pagi. Kalau sudah demikian, keluarga priayi yang dilukiskan Kayam tak berkutik meskipun status sosialnya terpandang dalam tangga sosial dan sering dicemburui kalangan rakyat jelata.

Lantas, mengapa Kayam dalam buah karyanya memilih daerah Pracimantoro Wonogiri sebagai asal para batur, bukan pelosok Gunungkidul atau Klaten yang jaraknya sepelemparan batu dengan Yogyakarta? Pemilihan lokasi ini sejatinya dilandasi oleh ingatan historis yang kadung membenak dalam batok kepala Kayam sejak usia belia. Tampaknya ada sebongkah kerinduan saat bahagia di masa lampau Kayam bersama keluarga yang sengaja dilampiaskan melalui guratan penanya itu.

Pracimantoro dan wilayah lainnya di Wonogiri hingga sekarang mashyur sebagai penyumbang kaum urban. Sehingga kala Lebaran tiba, menjadi sasaran pemudik. Alam gersang dan regenerasi petani yang gagal bermuara pada gejala anak muda untuk angkat kaki mencari secentong nasi di kota. Kendati harus bekerja sebagai pelayan rumah tangga, buruh bangunan, dan bakul bakso. Maklum jika Kayam tak pernah menyoal (melarang) urbanisasi yang dituding sebagai faktor pendukung kesumpekan kawasan kota.

Ya, mudik bareng Kayam sesungguhnya bukan sekadar upaya merawat memori tentang desa yang ayem tentrem. Tapi juga cara nguwongke wong cilik dalam tatanan sosial. Sekalipun dia adalah batur, tetap saja punya peran yang tak seupil, laiknya tokoh punakawan dalam dunia pewayangan. Selamat mudik.

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 23 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI