Muhammadiyah dan Ajaran Welas Asih

Editor: Ivan Aditya

TIDAK kurang dari Rp 12,5 miliar dana berhasil dihimpun Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah (Lazismu) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dana itu merupakan sumbangan untuk membantu Muslim Rohingya di Myanmar. Bukan hanya donasi dalam bentuk uang, Lazismu bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) juga mengirim tenaga medis dan relawan di tempat-tempat pengungsian Muslim Rohingya.

Bersama kelompok pekerja sosial kemanusiaan dunia, PP Muhammadiyah juga menempuh langkah-langkah diplomatik. Semua itu dilakukan agar tragedi kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya tidak terulang. Pada konteks inilah dunia mengenal karakter utama Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang sangat gemar menolong sesama. Ajaran menolong (al-Ma’unisme) itu pula yang menjadikan lembaga-lembaga donor dunia senang bermitra dengan Muhammadiyah.

Nonik Belanda

Semangat berderma juga menjadikan sebagian tokoh nasional terpikat dengan Muhammadiyah. Tengoklah pengakuan Dokter Sutomo tatkala meresmikan poliklinik Muhammadiyah yang ada di jalan Mas Mansur, Surabaya. Dokter Sutomo yang saat itu menjadi penasihat PP Muhammadiyah bidang kesehatan menyatakan sangat tertarik dengan ajaran welas asih yang dipraktikkan KH Ahmad Dahlan. Melalui Majelis Penolong Kesengsaraan Oemum (PKO), Kiai Dahlan telah mempelopori pendirian rumah sakit dan panti yatim piatu untuk menolong masyarakat umum tanpa melihat perbedaan latar belakang sosial dan agama.

Saat menyampaikan pidato peresmian poliklinik Muhammadiyah, Dokter Sutomo mengajak nonik-nonik Belanda untuk menyumbang. Ajakan Dokter Sutomo ternyata mampu menggerakkan hati nonik-nonik Belanda. Secara spontanitas mereka pun melepaskan kalung, cincin, dan gelang, untuk disumbangkan ke poliklinik Muhammadiyah. Pengakuan pahlawan nasional yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama rumah sakit pemerintah provinsi Jawa Timur penting dikemukakan.

Sepenggal kisah mengenai Dokter Sutomo dan kiprah Lazismu-MDMC menunjukkan bahwa Muhammadiyah merupakan pelopor gerakan filantropi. Muhammadiyah telah mempraktikkan ajaran agama tentang kewelasasihan atau kedermawanan. Jika ditelaah, ajaran kewelasasihan dalam agama memiliki landasan teologis yang sangat kuat. Misalnya, dikatakan bahwa keimanan itu hanya absah jika diwujudkan dalam bentuk amal. Itulah sebabnya perintah beriman selalu dirangkai dengan seruan untuk beramal (amanu wa ‘amilu al-shalihat). Dalam sebuah Hadits, Nabi Muhammad bersabda tidak sempurna iman diantara kalian sebelum mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim). Ajaran Nabi tersebut penting dijadikan dasar praktik keagamaan yang menekankan semangat welas asih.

Ajaran agama Islam juga memerintahkan pemeluknya agar senang memberi. Dikatakan bahwa tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (pemintaminta). Dengan bahasa yang menyentuh hati nurani, Allah SWT menyatakan indahnya hidup dengan memberi. (QS. Al-Baqarah: 261).

Ayat di atas memberi keyakinan bahwa hidup dengan memberi tidak akan membuat jatuh miskin. Bahkan mereka yang gemar berderma dijanjikan hartanya akan dilipatgandakan Allah. Keyakinan ini harus tertanam dalam jiwa setiap Muslim. Kalam Ilahi tersebut juga menegaskan bahwa selain beriman, yang dipentingkan dari keberagamaan seseorang adalah amal sosialnya. Itu berarti semakin banyak amal sosialnya, semakin menunjukkan kualitas keberagamaannya. Spirit beramal sosial yang bermanfaat bagi orang lain itulah yang menjadi substansi ajaran agama.

Bencana Alam

Dalam situasi bangsa yang bertubi-tubi dihantam bencana alam dan bencana kemanusiaan, ajaran memberi penting untuk terus digelorakan. Pada konteks inilah apa yang dilakukan Lazismu dan MDMC PPMuhammadiyah dapat menjadi teladan indahnya hidup dengan memberi. Bukan hanya untuk Muslim Rohingya, Muhammadiyah juga selalu hadir setiap ada bencana alam dan tragedi kemanusiaan.

Kini Lazismu dan MDMC PP Muhammadiyah juga sudah hadir di tenda-tenda pengungsian masyarakat Bali. Meski status Gunung Agung di Bali berubah setiap saat, tenaga medis dan relawan Muhammadiyah siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Semua itu menunjukkan komitmen Muhammadiyah terhadap nilai-nilai kemanusiaan sekaligus wujud konkret ajaran welas asih.

(Dr Biyanto. Dosen UIN Sunan Ampel dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 16 Oktober 2017)

BERITA REKOMENDASI