Mukidi dan Politik Tertawa

Editor: Ivan Aditya

Munah: ”Bagaimana mas, dapat jatah menteri apa… ?” Mukidi: ”Menpora….” jawabnya sekenanya Spontan Munah sujud syukur, bangga dan senang, karena selama ini hanya dipanggil Bu Muk, kelak akan dipanggil Bu Menteri. Melihat istrinya sujud syukur, Mukidi heran dan jengkel,karena Munah dianggap tidak mengerti. Mukidi:”Munah sayang…kenapa kamu kegirangan dan sujud syukur …?” Munah:”Lho… kan Mas Mukidi menjadi Menpora….” Mukidi : ”Astaghfirullah……Munah, Munah….saya ini kangen kamu, lalu saya tanya kamu: men po ra……”

***

KETIKA masyarakat berharap adanya tokoh berintegritas yang menjadi panutan di negeri ini, tiba-tiba muncul Mukidi sebagai tokoh virtual yang menggelitik. Dialog di atas sangat sederhana, namun artikulasi penulisan cerita pas dengan kondisi masyarakat. Terlepas asumsi bahwa cerita Mukidi hanya sekadar guyonan atau sebaliknya ada instrumentasi dengan tujuan pengalihan isu utama, agar masyarakat senang- sesungguhnya cerita Mukidi sudah ada sejak tahun 2012, namun tidak menimbulkan virus tawa masif seperti sekarang.

Mungkin ada orang yang dengan sengaja menyebarkan melalui media sosial, sehingga dampaknya luar biasa. Ratusan atau ribuan orang dibuat tertawa setiap hari. Fenomena ini bisa dimaknai, masyarakat membutuhkan hiburan yang murah dan sementara melupakan permasalahan kemiskinan, korupsi dan kesenjangan sosial.

Memperhatikan adanya isu besar yang dapat mengganggu kestabilan politik dan ekonomi dalam negeri, Mukidi yang merupakan representasi wong cilik dimunculkan untuk memberi hiburan dan sekaligus mengalihkan isu di ranah publik. Sesungguhnya munculnya tokoh seperti Mukidi bukan hal baru, seperti halnya tokoh punakawan dalam pewayangan.

Munculnya tokoh punakawan disebut dengan gara-gara, makna di balik gara-gara adalah adanya pergulatan atau permasalahan yang dikelola dengan santai dan penuh canda. Pengelolaan pergulatan politik dan ekonomi yang dikemas dengan candaan yang mewujud dalam Mukidi tersebut bisa sementara mengalihkan perhatian publik terhadap kinerja para pemimpin yang menurun. Apa makna filosofis di balik fenomena masifnya cerita Mukidi tersebut, pertama, tertawa itu ekspresi kejujuran. Charlie Chaplin seorang komedian terkenal pernah berkata: ”Satu hari tanpa tertawa adalah hari yang tidak berguna”. Dengan kata lain, kalau kita ingin menemukan makna melakoni hariharimu tertawalah.

Tertawa adalah ungkapan kejujuran kita terhadap sesuatu. Semakin kita jujur dengan diri sendiri, semakin mudah kita tertawa. Dengan kita mudah tertawa, syaraf kita menstimuli hormon dalam otak, yang berdampak rasa senang dan bahagia. Dalam kondisi senang dan bahagia tersebut, pikiran, perasaan dan jiwa ikut merasakannya. Bukan hanya itu, rasa senang dan bahagia tersebut juga berdampak pada raga yang sehat dan prima.

Kedua, tertawa itu melepas keresahan. Tertawa yang orisinil itu muncul karena keresahan terhadap pergulatan kondisi pribadi dan lingkungan. Semakin kita resah terhadap situasi dan kondisi, berpotensi semakin orisinil kita akan mentertawakannya kelak. Kerena keresahan terhadap ketimpangan dan ketermajinalan di masyarakat dapat menstimuli para komedian mengartikulasikannya dalam bentuk tulisan atau cerita satire yang lucu. Melalui keresahan, sang komedian mentransformasi menjadi candaan yang apik tanpa menimbulkan ketersinggungan. Ketiga, tertawa itu perlawanan atau pengalihan isu(?). Melalui cerita satire, sang komedian mengadakan perlawanan terhadap rezim yang korup dan tidak adil. Melalui cerita satire, ia menginspirasi orang lain untuk mentertawakan diri. Sebaliknya, oleh elite politik bentuk perlawanan ini bisa ditransformasi untuk pengalihan isu utama. Oleh elite, cerita satire bisa diinstrumentasi menjadi hiburan masyarakat dan mencegah mereka tidak melawan sang penguasa, karena kinerja yang buruk.

Dengan demikian tertawa bisa dimaknai sebagai obat jiwa yang menyehatkan dan membahagiakan. Karena melalui tertawa kita bisa melepas keresahan dan jujur dengan diri sendiri dan orang lain. Namun tertawa juga bisa diinstrumentasi oleh elite politik untuk mengalihkan kepedihan masyarakat dengan tertawa yang sendu. Oleh karena itu, marilah kita tertawa dengan jujur. Dasar Mukidi…

(Guno Tri Tjahjoko. Doktor Ilmu Politik dan Penulis buku ”Politik Ambivalensi: Nalar Elite di Balik Pemenangan Pilkada”. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 5 September 2016)

BERITA REKOMENDASI