Nasionalisme ‘Jack Ma’

Editor: Ivan Aditya

PEMILIK raksasa bisnis Alibaba Group asal Tiongkok Jack Ma menjadi pembicaraan hangat publik Indonesia. Diawali dari pernyataan Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara (9/9) di beberapa media yang telah melobi Jack Ma untuk menjadi penasihat atau anggota steering committee untuk pelaksanaan roadmap e-commerce Indonesia. Publik mulai merespons, ada yang pro dan tentu juga ada yang kontra atas wacana tersebut.

Dan menurut laman resmi dari Alibaba group Jack Ma masih mempertimbangkan permintaan tersebut. Jack Ma dengan Alibaba Group sendiri bukan figur asing bagi publik Indonesia. Ia adalah salah satu pemilik perusahaan e-commerce di Indonesia yaitu Lazada yang dibeli dengan nilai mencapai US$ 1 miliar.

Siapakah Jack Ma

From zero to hero, ungkapan tersebut layak disematkan kepada Jack Ma. Dengan nama asli Ma Yun lahir di Hangzhou China 15 Oktober 1964. Meniti karier dari seorang Guru Bahasa Inggris dan berubah menjadi miliarder nomor satu di negeri tirai bambu dan masuk urutan 26 jajaran orang terkaya di dunia. Sebelum menjadi guru dia puluhan kali melamar pekerjaan dan selalu gagal. Pernah mendaftar menjadi karyawan Kentucky Fried Chicken (KFC), dari 27 yang mendaftar dan hanya 26 yang diterima dan dia satu-satunya yang tidak diterima.

Sejak usia 12 hingga 20 tahun, dia mengendarai sepedanya selama 40 menit ke hotel dimana dia dapat belajar Bahasa Inggris. Selama delapan tahun belajar tersebut, Jack Ma banyak bergaul dengan turis asing. Dari pergaulannya tersebut, mengubah cara pandang hidupnya. Jack Ma pertama kali menggunakan internet pada tahun 1995, saat dia mencari kata ‘beer’ dan ‘china’. Tetapi saat itu, Ma tidak menemukan hasil pencarian yang diharapkan melalui internet. Berbekal rasa penasaran, dia lantas menciptakan laman website untuk jasa terjemahan bahasa China. Hanya beberapa jam saja, dia menerima banyak surat elektronik yang cukup membantu membangun situs tersebut.

Dari kejadian tersebut kemudian menjadi faktor pemicu berdirinya Alibaba Group empat tahun kemudian. Saat ini, Alibaba merupakan retailer online terbesar di China dan berada di posisi kedua dunia setelah Wal-Mart. Berkat kegigihannya, dua situs Alibaba, Taobao Marketplace dan Tmail.com, mendominasi sistem portal pengiriman China. Saat ini Alibaba berambisi mengalahkan eBay, situs jual beli online yang bermarkas di Amerika.

Kita tentu takjub dengan prestasi yang telah ditorehkan Jack Ma. Tetapi apakah dengan kekaguman kemudian melupakan ‘nasionalisme’ kita. Taipan dari negeri tirai bambu tersebut tentu juga mempunyai motif bisnis apabila akhirnya menerima pinangan dari Indonesia. Apalagi Tiongkok saat ini sudah menyusun strategi pengembangan ekonomi melalui Maritime Silk Road (MSR) dalam rangka mengintegrasikan ekonomi di kawasan Asia sebagai strategi dominasi dan penguasaan ekonomi kawasan.

Menggiurkan

Kita mempunyai pangsa pasar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sangat menggiurkan mencapai 92,5% dari total pelaku usaha di Indonesia. Artinya Indonesia adalah blue ocean bagi pangsa pasar UMKM. Dengan pangsa pasar yang begitu besar, kemungkinan besar Jack Ma akan menerima pinangan tersebut. Karena potensi bisnis UMKM di Indonesia sejalan dengan bisnis Alibaba Group yang fokus melayani pangsa pasar UMKM.

Apabila Jack Ma dengan raksasa bisnisnya kemudian masuk dan ikut menyusun road map e-commerce Indonesia, apa tidak mungkin ‘misi’ bisnis Alibaba Group tidak mendominasi? Tentu saja sulit akan ditepis asumsi-asumsi tersebut. Pertanyaannya kemudian bagaimana nasib anak-anak bangsa yang baru membangun star-up bisnis e-commerce? apa mungkin mereka tidak ‘terlibas’atas kebijakan tersebut.

Bukankah kita mempunyai segudang ahli IT. Sebut saja Prof Suyanto yang sukses membuat film animasi Battle of Surabaya yang kualitasnya diakui dunia. Kita juga punya sederet ahli IT yang dapat dipastikan akan merelakan waktu dan tenaganya untuk disumbangkan untuk kepentingan bangsa apabila diinginkan. Mungkin Pak Menteri Kominfo perlu cooling down sebelum melangkah terlalu jauh. Karena kalau tidak hati-hati imbasnya akan merampas masa depan anak-anak bangsa.

(Dwi Kuswantoro. Direktur di Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PinBUK) dan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM DIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 23 September 2016)

BERITA REKOMENDASI