Nasionalisme Garuda

Editor: Ivan Aditya

NASIONALISME yang diperkirakan akan mati seiring penguatan liberalisme atau paham-paham lain berbasis agama dan materialisme, terbukti tetap eksis sekaligus mampu mengaktualisasi diri. Begitu pula nasionalisme yang dihadirkan melalui sepakbola. Di negeri ini dan saat ini, orang bisa berbeda dalam segala hal. Tapi begitu berbicara Tim Nasional (Timnas) Garuda, maka yang mengemuka adalah kebanggaan. Apalagi ketika Andik Vermansyah, Rizki Pora dkk mampu mencapai babak final Piala AFF 2016. Ini menjadi pencapaian prestasi yang sangat fantastis. Mengingat Timnas Garuda memiliki sejumlah kelemahan, baik teknik maupun non-teknis.

Namun kelemahan itu jadi tidak begitu berarti karena dijawab dengan spirit nasionalisme yang tinggi. Meskipun yang dihadapi adalah tim tangguh Gajah Putih Thailand yang jadi langganan juara, Timnas Garuda tidak minder. Sayap-sayap mereka tetap mengepak. Paruh mereka tetap mampu mematuk. Tanpa mengecilkan kerja keras pelatih Alfred Riedl dkk, kesuksesan Timnas Garuda menembus final Piala AFF 2016 layak disebut sebagai blessing in disguise (rahmat terselubung). Ingat, timnas tidak lahir normal. Rentetan persoalan yang menimpa dunia klub sepakbola Indonesia, kisruh PSSI dan sanksi FIFA serta persiapan yang sangat mepet menjadi faktor penyebabnya. Karena itu wajar jika Timnas Garuda tidak terlalu diperhitungkan. Namun, kenyataan bicara lain. Setelah kalah dari Thailand, Timnas Garuda bisa mengimbangi Filipina dan mengatasi Singapura. Lalu melaju ke semifinal dan bertemu Vietnam, Timnas Garuda pun unggul dalam selisih gol, hingga akhirnya masuk final bertemu Thailand.

Keberhasilan Timnas Garuda bisa menjadi oase kebangsaan kita. Bukan hanya berkaitan dengan pacekliknya prestasi sepakbola kita tapi juga berelasi dengan problem kebangsaan. Dalam beberapa bulan terakhir, keutuhan kita sebagai bangsa sedang teruji. Ini bergayutan dengan masalah NKRI, kebhinnekaan, Pancasila dan UUD 45. Terlalu banyak agenda politik dan ekonomi yang didesakkan oleh berbagai kelompok kepentingan. Dan yang paling mencemaskan kita adalah adanya persinggungan dengan persoalan SARA. Sementara di sisi lain, muncul dugaan makar atas sikap kritis para aktivis politik.

Kita berharap para elite politik dan kekuasaan dapat lebih jernih dan arif mengelola potensi-potensi konflik, karena yang dipertaruhkan adalah keutuhan negara dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa. Harapan yang sama juga kita layangkan kepada seluruh pemangku kepentingan bangsa, termasuk masyarakat agar senantiasa tidak mudah terbakar oleh isu-isu perpecahan yang mengatasnamakan SARA. Semua itu juga membutuhkan jawaban berupa kerja besar kebangsaan yang selalu berorientasi pada semangat membangun Indonesia yang berdaulat dan bermartabat, sekaligus Indonesia yang berkepribadian dan berkemandirian ekonomi-politik, tidak dijajah oleh bangsa sendiri atau bangsa asing.

Sepakbola, dalam konteks kebangsaan mampu hadir sebagai penguat simpul persatuan negara-bangsa. Dalam sepakbola terkandung politik identitas, kehormatan dan martabat bangsa yang dimunculkan melalui sportivitas. Seperti dikatakan filosof Albert Camus, dalam sepakbola kita belajar membangun watak atau karakter. Permainan, kalah dan menang hanyalah akibat saja dari upaya pencapaian karakter itu.

Selain itu, sepakbola juga mampu menjadi wahana sosial-kultural untuk membangun solidaritas kebangsaan. Semua orang dari berbagai suku bangsa, kelas sosial, agama, ras, golongan dan budaya selalu mendapatkan makna eksistensial dari kehadiran orang lain alias liyan (the others). Dalam seting perbedaan, di sinilah pentingnya memahami, menghargai dan memberi hak-hak atas liyan. Orang lain bukan neraka. Orang lain adalah surga dalam hidup penuh patembayan (persaudaraan yang saling menopang). Karena itu, menjadi sia-sia/tidak produktif usaha memecah belah bangsa melalui sentimen SARA dan ujaran kebencian. Yang terluka akhirnya hati dan jiwa bangsa kita sendiri!

Kita berharap, keberhasilan Timnas Garuda mampu mendorong para elite politik dan kekuasaan merenung. Sejatinya, rakyat butuh penyimpul atau suh besar yang mampu menyatukan bangsa agar tidak tercerai berai. Kita sangat berharap, mereka bisa melampaui dirinya dari sekadar politikus menuju posisi mulia menjadi negarawan.

(Indra Tranggono. Pemerhati kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 16 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI