Nasyiatul Aisyiyah Ramah Anak dan Perempuan

Editor: Ivan Aditya

‘NASYIATUL Aisyiyah Ramah Anak’. Begitu judul berita di surat kabar Kedaulatan Rakyat (22/8 hal 2). Meski kecil (hanya dua kolom), namun judul cukup eye catching. Sehingga masyarakat mengetahui akan dilaksanakannya Muktamar ke 13 Nasyiatul Aisyiyah bertajuk ‘Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa’.

Sejak awal Nasyiah ñ demikian Nasyiatul Aisyiyah biasa disebut berkomitmen mewujudkan visi berkemajuan Kiai Dahlan dalam persamaan hak bagi perempuan di ruang publik. Perempuan mempunyai tanggung jawab besar dalam proses kebangsaan. Dengan visi ini, Nasyiah, tetap memberi warna di ruang publik tanpa meninggalkan ‘kewajiban’mereka sebagai pendidik utama keluarga. Nasyiah memandang peran perempuan dalam menciptakan generasi penerus bangsa sangat penting, tanpa bermaksud mengabaikan peran laki-laki di dalamnya. Pasalnya, dari rahim perempuanlah anak hebat lahir. Dari sentuhan kasih sayangnya lah anakanak Indonesia menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh.

Menjaga Keluarga

Sebagian besar warga Nasyiah adalah perempuan muda usia produktif. Maka kebijakan Nasyiah dibuat pro-perempuan dan anak dengan mempertimbangkan dampak dari usia produktif anggotanya. Wujudnya? Misalnya disediakan penyediaan day care ketika Nasyiah mengadakan acara. Juga disediakan fasilitas ruang laktasi. Mengingat menyusui menjadi salah satu hal utama dalam tumbuhkembang. Dengan demikian, ibu tenang beraktivitas di Nasyiah dan anak pun aman dan nyaman.

Nasyiah juga memberikan pelatihan bagi para calon pengantin agar lebih siap memasuki jenjang perkawinan. Tak ketinggalan pula ilmu parenting diberikan agar kelak ayah ibu mempunyai pemahaman dan ilmu dalam berkeluarga dan mendidik buah hatinya.

Bagaimana Nasyiah mewujudkan hal itu? Siti Syamsiyatun (2016) menulis, Nasyiah mendorong putri Islam menjadi aktor aktif dalam arus pergulatan sosial di Indonesia. Mereka mulai percaya diri tidak hanya mengenai argumentasi keagamaan. Namun, juga percaya diri tatkala mereka aktif bergulat dengan persoalan sosial terkait anak dan perempuan di ruang publik. Seperti mengejar pendidikan, menyampaikan pendapat mereka, dan mendirikan pelayanan sosial. Usaha-usaha yang selama berabad-abad dianggap ditakdirkan untuk laki-laki. Artinya, Nasyiah bukan sekadar kanca wingking.

Nasyiah memberikan pelayanan paralegal untuk menghubungkan perempuan dan anak yang memiliki problema hukum dengan advokat dan aparat penegakan hukum. Edukasi dan pendampingan aspek hukum ini menjadi bagian penting untuk menjamin hak perempuan dan anak. Nasyiatul Aisyiyah juga telah menginisiasi Pelayanan Sehat Remaja Milik NA (Pashmina) yang di dalamnya memberikan layanan kesehatan, konsultasi psikologi, hingga konsultasi kesehatan reproduksi. Di Jawa Tengah, Nasyiah memberikan edukasi kesehatan reproduksi prabaligh bagi anak-anak. Anak usia ini perlu mendapat pendidikan agar mereka siap memasuki fase baru dan terhindar dari kekerasan seksual.

Pendidikan Kader

Kelahiran Nasyiah merupakan bukti visi keadilan Kiai Dahlan dengan memberikan kesempatan sama bagi anak perempuan dan anak lakilaki di berbagai bidang (Syamsiyatun, 2016). Di bidang keagamaan, kader Nasyiah mendirikan kelompok pengajian di berbagai daerah sekaligus belajar menyampaikan ajaran agama melalui ceramah dan kotbah sejak belia. Pada tahun 1938 Nasyiah mendirikan perpustakaan kecil yang memberikan kesempatan anak perempuan meluaskan pengetahuan melalui membaca dan pelatihan menulis. Pada tahun 1920-1930 Nasyiah pun terkenal dengan paduan suara dan marching band-nya. Pendidikan kader perempuan sudah dilakukan Muhammadiyah pada masa dimana anak perempuan masih menjadi warga kelas dua.

Pada era sekarang, Nasyiah melakukan pengkaderan baik formal maupun informal. Pendirian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nasyiah merupakan bentuk kepedulian menyiapkan fondasi kedua bagi tumbuh kembang anak untuk penguatan aspek pengetahuan dan karakter. Selain itu, pendidikan informal bagi para kader dilakukan melalui organisasi berupa berlatih publik speaking, belajar life skill tertentu, belajar berorganisasi, dan pengembangan diri lainnya untuk melengkapi pendidikan formal yang dominan aspek kognisi.

Keberadaan organisasi Nasyiah adalah bagian dari proses pendidikan kader dengan memberikan ruang bersosialisasi, mengasah jiwa kepemimpinan, dan mengajarkan melakukan problem solving. Nasyiah terus melakukan adaptasi aksi gerakannya sesuai dengan perubahan tantangan zaman. Nasyiah akan terus mendidik anggotanya sejak usia dini karena merekalah tulang punggung masa depan bangsa.

(Rita Pranawati. Ketua PP Nasyiatul Aisyiyah, Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Naskah kerja sama KR – Nasyiatul Aisyiyah. Artikel ini tertulis di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 25 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI