Natal dan Kepekaan Antar-sesama

Editor: Ivan Aditya

SUASANA Perayaan Natal kembali mewarnai kehidupan. Kidung Natal berkumandang di celah-celah hiasan pohon Natal penuh warna-warni dengan lampu bersinar terang menambah indahnya suasana. Lagu-lagu Natal yang meski sudah lama turut menyegarkan serta menyejukkan hati dan pikiran kita. Dan pesan Natal, damai sejahtera di atas bumi, mulai disampaikan di mana-mana. Seolah-olah dengan berkata demikian tugas telah selesai dan segala sesuatunya berjalan baik dengan sendirinya ke arah situasi dan kondisi yang sejuk, damai dan penuh persaudaraan.

Sementara di berbagai penjuru dunia masih berlangsung pergolakan, pertikaian, perang saudara, pertentangan ideologi, bentrokan yang bersifat SARAdan lain-lain bentuk distorsi yang menyebabkan orang tidak berada dalam damai dan sejahtera. Sekali pun perkembangan baru ke arah normalisasi hubungan serta perdamaian dan integrasi nasional terjadi di berbagai kawasan.

Pesan Natal

Bertolak dari kenyataan masih banyaknya pergolakan di berbagai penjuru dunia, maka tepat sekali pendapat yang mengatakan bahwa pesan Natal damai sejahtera seharusnya tidak hanya dikumandangkan di saat perayaan kelahiran Yesus Kristus. Pesan itu harus diamalkan setiap saat di semua tempat secara terus menerus sepanjang masa. Sehingga dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta dalam hubungan antarbangsa, maka makna Natal tidak lagi sekadar sebagai suatu rutinitas belaka. Bahkan dalam kondisi yang masih dibayangi kemungkinan munculnya konflikkonflik baru di sementara wilayah, kita masingmasing perlu menyampaikan pesan perdamaian dan persaudaraan. Kecurigaan, kebencian, ketidaksenangan antarsesama harus terus dikikis.

Hari-hari ini umat Kristiani di seluruh dunia sedang merayakan Hari Natal. Kidung Natal yang sangat khas dan syahdu sudah sejak awal bulan berkumandang terus. Bukan hanya dari gereja-gereja, radio, bahkan di tempat-tempat umum seperti toko dan lain-lain ikut menyiratkan suasana Natal yang penuh dengan perdamaian.

Natal merupakan pesta dan ungkapan untuk memahami suatu misteri. Bagi pesta Natal tak begitu sulit dimengerti. Sedangkan misteri lebih sulit dimengerti. Natal adalah Tuhan mencintai dan mendatangi umatNya di dalam Yesus; kedatangan Yesus ini demi manusia. Karena itu salah satu makna yang muncul dalam peringatan Natal adalah cinta atau sayang. Memang istilah cinta tersebut merosot maknanya karena penyalahgunaan dalam film-film, nyanyian-nyanyian, puisi atau novel-novel.

Untuk mengembalikan arti dan makna kata cinta, maka umat Kristiani menggalinya lewat lagu-lagu Natal. Lagu Natal yang sangat terkenal dan paling mengesankan adalah Lagu Malam Kudus. Gambaran mengenai ‘Malam’, ‘gelap’, ‘dingin’ telah melukiskan ketersembunyian dan jarak, selalu digunakan untuk menyatakan sifat suatu misteri.

Proklamasi damai sejahtera Illahi pada hari Natal menjadi motivasi yang menggerakkan kehendak manusia untuk mewujudkan tindakan yang membawa damai sejahtera. Dari hati yang diperdamaikan dengan Allah mengalirlah pemikiran dan perbuatan yang mencerminkan damai sejahtera itu. Jikalau dalam masyarakat, kita rajin melakukan kebaikan kepada sesama sebagai perwujudan dari damai sejahtera itu, kidung-kidung pujian akan dinyanyikan. Barangkali tidak berupa nyanyian yang merdu indah, tetapi ucapanucapan lirih yang memuji-muji Allah, yang telah memakai kita untuk memberikan berkat bagi sesama kita.

Bingung

Itulah yang diharapkan masyarakat yang waktu akhir-akhir ini bingung dan khawatir akan masa depan Indonesia. Karena itu, dalam kesempatan merayakan Natal 2016 ini perlu lebih ditingkatkan kepekaan, keprihatinan dan kepedulian antarsesama. Semakin mencuatnya individualisme dan egoisme golongan yang tercermin dalam berbagai kekerasan, maka pesan Natal damai sejahtera hendaknya bisa memudarkan rasa kebencian dan kecurigaan. Dengan cara itu, kehidupan berbangsa terhindar atau paling tidak terkurangi dari ancaman konflik, permusuhan, rasialisme, pertentangan, tindakan anarkis, gontok-gontokan dan lain-lain.

Dengan menggali hakikat dan pesan Natal, kita akan terhindar dari kedengkian, kecurigaan, keserakahan dan lain-lain, sebaliknya mendorong kita ke abadian hidup. Kita percaya, kalau kita setia pada keabadian hidup – yang berisi aneka problem hidup sebagai anugerah Tuhan – kita berpeluang besar menjadi berkat atas sesama kita, setidaknya menjadi insan yang kaya budi.

(Drs A Kardiyat Wiharyanto MM. Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 23 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI