Nilai Keyogyaan FKY

Editor: Ivan Aditya

FESTIVAL Kesenian Yogyakarta (FKY) kembali digelar. 'Pesta seni' ke-28 kali ini mengusung tema 'Masa Depan, Hari Ini Dulu'. Melalui tema ini, FKY mencoba melakukan konstatasi (melihat, menetapkan gejala atau tanda suatu keadaan/peristiwa) dinamika perubahan sosial, budaya, ekonomi, politik baik dalam konteks DIY maupun Indonesia. Konstatasi yang melahirkan pemahaman bahwa Yogyakarta (DIY) sebagai entitas sosio-kultural selalu berada di dalam dinamika perubahan nilai-nilai, akibat penetrasi nilai-nilai baru (asing) yang dipasok globalisasi.

Globalisasi selalu meniscayakan keterbukaan cara pandang, sikap dan perilaku masyarakat untuk dapat beradaptasi dengan dinamika nilai-nilai baru. Adaptasi itu melahirkan keseimbangan baru. Yakni keseimbangan kultural yang memungkinkan nilai-nilai tradisi dan modern/pos modern bisa berdampingan, membangun harmoni kehidupan. Artinya, tidak ada nilai yang menghegemoni.

Dengan pemahaman di atas, FKY merepresentasikan pelbagai fenomena dan realitas yang pernah, sedang dan mungkin akan terjadi dalam kehidupan sosialkultural. Representasi itu meliputi nilai dan gagasan, ekspresi estetik dan hasil-hasil kebudayaan material. Nilai dan gagasan menjadi basis aktualisasi seluruh aktivitas FKY. Adapun ekspresi estetik dan hasil kebudayaan material menjadi out-put kreatifnya.

Maka, dalam presentasi FKY kali ini publik bisa memasuki kadang budaya lama (budaya lokal/tradisi) dan kadang budaya baru (budaya modern/pos modern). Kita bisa menemukan seni-budaya tradisi/klasik sekaligus modern/kontemporer baik seni pertunjukan, seni nonpertunjukan maupun kerajinan, kuliner dan lainnya. Materi sajian yang hadir ibarat mozaik kebudayaan. Beragam namun tetap memiliki karakternya masingmasing.

Di dalam FKY, ada semacam upacara ziarah dan penguatan nilai-nilai lama. Ada pula upaya untuk merespons nilai-nilai baru yang kini sedang berkembang dan tak bisa ditolak. Dalam bahasa teoritik bisa disebut ‘berbasis budaya lokal yang kuat, memasuki budaya global yang menantang’. Dengan pilihan ini, diharapkan kita tidak terjerembab di dalam cangkang tradisi yang jumud dan mapan. Tetapi bisa berdiri tegak, menapaki rute peradaban dengan visi yang jelas.

Sebagai aktivitas kebudayaan yang tergolong punya tradisi lama, FKY terus merevolusi diri demi menemukan berbagai alternatif nilai dan materi sajian. Ini sebuah upaya budaya yang tidak lepas dari nilai dan karakter keyogyaan yang selalu terbuka menerima nilai-nilai baru namun tetap kuat berbijak pada budaya tradisi. Karakter keyogyaan itu juga tercermin pada kecerdasan para pemangku kepentingan kebudayaan di dalam merespons dan menjawab perubahan. Hasilnya berupa nilai dan gagasan yang visioner serta sinergi kebudayaan dengan ekonomi yang bermuara pada kesejahteraan sosial. Ini sesuai dengan soal Keistimewaan DIY, yakni kebudayaan yang menyejahterakan.

Perihal kebudayaan sebagai lokomotif ekonomi, FKY telah membuktikan keberhasilannya. FKY ke-26 Tahun 2014 misalnya, mampu meraih omset sebesar Rp 1,7 miliar, dengan rincian Rp 1,2 miliar omset transaksi/penjualan makananbenda dan Rp 500 juta omset parkir. Jumlah pendapatan itu klop dengan biaya yang dikeluarkan Pemda DIY untuk FKY ke-26. Uang itu kembali, namun tidak ke kas Pemerintah DIY melainkan ke publik. Di sini, FKY berhasil dalam mewujudkan nilai-nilai keistimewaan, yakni kebudayaan yang menyejahterakan, meskipun baru dalam skala kecil.

Keberhasilan yang dicapai FKY selama ini menunjukkan bahwa kebudayaan dan kesenian bukan bidang yang memboroskan anggaran, seperti anggapan yang selama ini ada. Dalam ekonomi atau industri kreatif, kebudayaan justru menjadi pintu masuk untuk membuka ruang-ruang kemungkinan. Dengan catatan, jika para pemangku kepentingan mampu mengelola kebudayaan secara visioner dan kapabel. Artinya, kebudayaan harus dipahami sebagai nilai, gagasan, ekspresi/perilaku dan hasil-hasil material yang ditransformasikan ke dalam konteks dinamika masyarakat. Yakni, masyarakat yang plural secara etnis, demokratis, melek budaya dan memiliki keragaman dalam cara pandang, selera dan gaya hidup.

Pada akhirnya setiap FKY digelar selalu terjadi pergulatan nilai untuk menemukan berbagai kemungkinan yang baru dan segar. Kebudayaan perlu dipahami tidak sebatas warisan, copy paste, melainkan juga nilai-nilai baru. Kita berharap FKY mampu menjadi event berkelas internasional dengan menawarkan nilainilai keistimewaan Yogyakarta.

(Indra Tranggono. Pemerhati kebudayaan. Artikel ini tertulis di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 22 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI