Obama kangen Yogya

Editor: Ivan Aditya

‘JOGJA itu ngangenin!’ Begitu meme yang beredar beberapa hari sebelum Idul Fitri 1438 H. Libur Lebaran senantiasa ditunggu-tunggu, dan Yogya (dalam arti: seluruh DIY) selalu menjadi salah satu tujuan wisata yang diserbu. Meme tersebut melengkapi informasi lain yang terkirim lewat media sosial tentang ratusan rumah makan dengan menu-menu favorit dan khas di seantero Yogya. Mulai dari pizza hingga brongkos. Mulai dari pusat kota Yogya, di bibir laut, hingga di tebing gunung yang suasananya jos.

Mengapa Yogya selalu diserbu wisatawan saat liburan, termasuk libur Lebaran? Ada sejumlah alasan. Pertama, harga di Yogya serba murah. Itu berlaku untuk penginapan, makanan, pakaian, dan cindera mata. Berwisata di Yogya ibarat kuliah di Yogya. Murah, meriah, bermutu, dan penuh makna. Apalagi wisatawan dapat memperoleh berbagai makanan, pakaian, dan suvenir dari tangan pertama sehingga harganya lebih murah dibandingkan di Bali atau tempat lain.

Kedua, Yogya kaya objek wisata alam. DIY dikaruniai keindahan berupa gunung, bukit, hingga laut. Sleman, Kulonprogo, Bantul, dan Gunungkidul menjadi tempat beradanya keindahan alam itu. Tempat-tempat wisata baru terus diolah dan dikembangkan Ketiga, Yogya kaya objek wisata sejarah dan budaya. Kraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Jalan Malioboro, Tugu Jogja, Benteng Vredeburg, Kotagede, dan Makam Imogiri merupakan objek wisata utama budaya dan sejarah. Yogya juga menawarkan proses berkerajinan sebagai bagian dari wisata budaya, misalnya membatik, melukis, dan mengukir.

Keempat, Yogya kaya objek wisata religi. Pemeluk berbagai agama dan kepercayaan hidup berdampingan di DIY. Tak mengherankan, objek wisata religi mudah disebutkan: Masjid Agung, Masjid Pathok Negara, Kampung Kauman, pondok pesantren, Sendangsono, Sendang Jatiningsih, Klenteng Zen Ling Gong Poncowinatan, dsb. Kelima, Yogya kaya objek wisata alternatif. Selain Gembira Loka yang dikenal luas sebagai objek wisata pengetahuan fauna-flora, di DIY bermunculan puluhan desa wisata. Wisatawan dapat menginap di rumah-rumah yang menyatu dengan warga, termasuk berkegiatan bersama di sawah atau kebun, berlatih menabuh gamelan, bahkan pentas.

Keenam, Yogya menawarkan kenyamanan. Kenyamanan menyangkut rasa dan hati. Kenyamanan terwujud lewat keamanan dan keramahan. Keamanan menjadi tanggung jawab kepolisian, sedangkan keramahan menjadi tanggungjawab para pelibat wisata, termasuk penjual suvenir dan pengemudi becak. Keamanan dan keramahan bahkan menjadi tanggung jawab semua warga mengingat Yogya merupakan tujuan wisata utama di Indonesia setelah Pulau Dewata. Klithih dan kekerasan mestinya lenyap dari bumi Mataram.

Ketujuh,Yogya menawarkan suasana yang berbeda. Lain dari yang lain. Suasana lapang, datar, dan terbuka melekat dengan lanskap Yogya. Jalan Malioboro yang sekarang tertata, pasti semakin menarik hati wisatawan. Suasana Yogya, termasuk geliat malamnya yang unik dengan angkringan dan menu tradisional, sulit ditemukan di tempat lain. Berbagai rumah tinggal (homestay) tidak hanya murah, tetapi juga menawarkan penginapan alternatif yang khas Yogya. Belum lagi kenyataan bahwa Yogya telah melahirkan jutaan alumni yang pernah menimba ilmu di sini. Mereka pasti memiliki kenangan dan kesan indah tentang Yogya. Jejaring mereka tentu tersebar luas, dan selalu mempromosikan kangen Jogja lewat cerita dan kesaksian.

Barangkali karena tujuh hal itulah Barrack Obama berwisata ke Yogya. Presiden ke-44 Amerika Serikat itu bersama anggota keluarganya berlibur di Indonesia, dan Yogya menjadi pilihan selain Bali.

Apa yang diharapkan Obama? Selain bertemu Sultan HB X, Obama tentu ingin menikmati keunikan Yogya. Dia pasti tidak mencari keramaian dan kemewahan yang mudah ditemukan di tempat lain. Yang ia nikmati bisa jadi justru kesederhanaan orang Yogya dalam keseharian di sawah, kebun, kebersamaan, dan menu kulinernya.

Semoga Obama bisa menikmati Yogya Lalu dengan gembira bercerita : Saya suka gudheg, sayur lodheh, brongkos, dan soto. Saya juga suka wedang uwuh. Pernah tinggal di Yogya, Obama pun terkena virus kangen Yogya.

Bagi para alumnus Yogya, selamat melepas kangen. Pulang ke kotaku, ada setangkap haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat ….

(Dr P Ari Subagyo MHum. Dekan FS USD Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI

Kekuatan Indonesia

19 Agustus 2017

Nasionalisme Digital

17 Mei 2017

Menitipkan Jakarta

19 April 2017

Kampus dan Korupsi

21 Maret 2017

Medsos

9 Februari 2017

Sepak Bola Pancasila

20 Desember 2016