Obituari Djoko Soekiman

Editor: Ivan Aditya

DIAMBANG sore, 2011 silam, lelaki renta lari tergopoh-gopoh masuk ke ruangan. Gagang pintu diputar oleh tangan berkulit keriput itu. Pandangannya tertumbuk pada segelintir mahasiswa. ”Maaf terlambat,’’ ucapnya lirih, dengan nafas masih ngos-ngosan. Para murid tersenyum ramah. Tidaklah mahal kata ‘maaf’ meluncur dari mulutnya, meski sebetulnya baru terlambat tak lebih dari lima menit.

Lahir dalam keluarga priayi dan bergelar Guru Besar tak lekas bikin ia congkak. Ia tetap santun dan bersahaja. Petuah ‘ilmu padi’ diamalkan hingga kepalanya gundul dan tinggal beberapa uban menancap. Keluhuran sikap priayi Jawa kadung menubuh. Unggahungguh serta laku hidup sederhana dibawanya. Sampai Penulis Skenario kehidupan, Gusti Allah memanggilnya pada Jumat, 7 Juli 2017. Lelaki itu adalah Djoko Soekiman (85 tahun).

Saat beliau merayakan ulangtahun ke-80, saya ketiban sampur diminta bersama Dr Sri Margana menjadi editor buku ‘Kolonialisme, Kebudayaan, dan Warisan Budaya. Karya berupa kumpulan esai ini dipersembahkan untuk memperingati hari kelahirannya. Dan, bentuk penghormatan semacam ini memang mentradisi di Jurusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada.

Tantangan

Tahun 1953, pria jangkung ini tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah UGM. Kala itu, orang Indonesia yang digdaya sebagai dosen bisa dihitung jari. Ia pun digembleng oleh pengajar asing. Sebagian mata kuliah dilesakkan ke otak juga masih asing. Tantangan bertambah tatkala sang dwija (guru berkualitas) belum fasih berbahasa Indonesia, seperti Prof Bernet Kempers, Dr Ficher, dan Dr Baudish. Djoko sakkanca acap bingung mencerna materi dan membangun dialog. Beda dengan Prof Zoetmulder dan Prof Fokker yang mahir memakai Bahasa Indonesia.

Kesantunan serta pandai menempatkan diri membawa Djoko lancar berinteraksi bersama teman kuliah. Jangan salah, detik itu tidak sedikit mahasiswa bekas gerilyawan (extremist) yang turut berperang di berbagai tempat. Mereka berasal dari berbagai kesatuan kelasykaran yang waktu belajar di Sekolah Menengah tidak teratur. Selain itu pula, banyak mahasiswa baru yang berasal dari pelosok, turun dari gunung untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kota kerajaan.

Mata kuliah baru dan pengajar jempolan menyebabkan Djoko enggan membolos. Guru yang berpengaruh dalam arus pemikirannya adalah Kempers. Ia sangat senang jika diajak kuliah lapangan ke candi-candi sekitar Yogyakarta. Dosen asing ini gandrung kapilangu serta mengagumi peninggalan warisan leluhur bangsa Indonesia. Kian besar hasratnya menelisik sejarah kebudayaan Indonesia dari serangkaian perkuliahan Kempers. Satu unsur yang terngiang di kuping ialah perkuliahan tentang simbol pada seni bangunan dan seni pahat pada candi. Minatnya terhadap kajian kebudayaan membengkak sewaktu diangkat jadi asisten dosen Pak Katamsi, pengajar mata kuliah Sejarah Seni Rupa di UGM.

Kebudayaan Indis

Selepas mengarungi samudera sejarah tak bertepi, dia memilih berlabuh pada kebudayaan Indis. Itulah tema disertasinya, dan dirampungkan di usia senja. Kepala enam bukan berarti mandeg sekolah dan malas menghadapi pembimbing. ‘Pak Djoko Soekiman semangat belajarnya tinggi dan gigih. Pernah keblasuk naik bis saat mau konsultasi ke rumah saya. Akhirnya saya menjemput beliau di jalan,’’ ujar pembimbing, Prof RM Soedarsono kepada saya suatu hari.

Senyampang masih bergayut pada asketisme, optimistis saja: disertasi ini mampu rampung seraya menyegarkan gairah intelektual selepas jadi dekan selama tiga periode berturut-turut, yaitu 1971-1974, 1974-1977, dan terakhir pada 1977-1979. Dia menerima tugas pembimbing yang bagai Socrates. Memang harus mengejar muridnya sampai ke pemahaman paling mendasar dan jernih tentang konsep (Indis) yang ditawarkan si murid sendiri.

Barangkali hanya Djoko Soekiman yang, — seperti juga sejarawan Soemarsaid Moertono yang menelurkan sepucuk karya Negara dan Usaha Bina-Negara Di Jawa Masa Lalu óyang terus dikenang dan dibincangkan sampai kini. Sugeng tindak, Guru. Ngaso kanthi kepenak ing kahyangan…

(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 11 Juli 2017)

BERITA REKOMENDASI