Olahraga dan Nasionalisme

Editor: Ivan Aditya

KEBERHASILAN pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia meraih medali emas pertama di Olimpiade 2016 Rio de Jaineiro Brasil membakar kembali rasa kebangsaan kita. Kemenangan gemilang tepat pada tanggal 17 Agustus 2016 itu menjadi kado manis bagi segenap Bangsa Indonesia. Sebuah momentum nasionalisme yang monumental.

Dari sisi prestasi olahraga, sangat menggembirakan. Kemenangan pasangan ganda campuran Indonesia yang menduduki peringkat tiga dunia (Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad) atas pasangan ganda campuran Malaysia (Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying) mengembalikan tradisi emas Olimpiade. Kemenangan yang sempat terputus pada Olimpiade 2012 London.

Melalui perhelatan olahraga dunia terbukti nasionalisme bangsa-bangsa terjaga apinya bahkan tersulut kobarannya. Olimpiade menjadi sebuah ritual nasionalisme bangsa-bangsa, yang diadakan empat tahun sekali sejak lama. Pandangan Anthony D Smith (2003) ternyata terbukti, bahwa globalisasi tidak sedikit pun mengarah pada penggantian nasionalisme, melainkan justru memperkuatnya.

Simbol Kebangsaan

Ritual perhelatan olahraga antarbangsa hampir selalu diwarnai simbol-simbol kebangsaan. Dalam kompetisi sepakbola Piala Dunia misalnya, kesebelasan Jepang sering menjuluki dirinya sebagai Tim Samurai Biru. Samurai (samurau) sendiri adalah sebutan untuk golongan prajurit militan yang turun-temurun dalam feodalisme Jepang di masa silam. Sampai pada tahun 1000 bahkan 1600-an, 5 dari setiap 100 orang Jepang termasuk dalam golongan ini. Artinya, melalui julukan Tim Samurai Biru dalam ajang Piala Dunia itu, orang Jepang sedang membangkitkan kembali romantisme masa keemasan Jepang di masa lalu sambari berharap mewujudkannya kembali sekarang sebuah rasa kebangsaan yang kuat.

Nasionalisme tidak lepas dari sistem simbol. Bendera negara dan lambang negara menjadi dua simbol utama yang mendasar. Banyak hal lain yang bersifat simbolis, merepresentasikan kekuatan dan kejayaan bangsa. Simbol-simbol itu akan berfungsi menumbuhkan emosi kebangsaan jika dijunjung dalam ritual-ritual kebangsaan. Di sinilah pentingnya upacara bendera yang menjadi semacam ritual kebangsaan di mana simbol-simbol negara berfungsi membangkitkan emosi kebangsaan. Perhelatan olahraga internasional juga menjadi sebuah ritual kebangsaan di mana simbol-simbol kebangsaan menumbuhkan emosi kebangsaan. Hal itu terasa sangat jelas ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dan Sang Saka Merah Putih dikibarkan saat atletatlet kita meraih medali emas.

Emosi kebangsaan kita yang bangkit saat Merah Putih berkibar di Olimpiade saat ini hampir sama kuatnya dengan emosi kebangsaan yang bangkit di antara para pemuda saat mereka merobek bendera penjajah dan menggantikannya dengan Sang Saka Merah Putih dalam Peristiwa Surabaya 1945. Betapa pentingnya kita memelihara simbol-simbol bangsa dan mengadakan ritual-ritual kebangsaan.

Revolusi Mental

Persoalannya, olahraga masa kini bukan urusan nasionalisme semata. Benarkah perjuangan atlet mengejar prestasi dunia sama dengan perjuangan para pahlawan bangsa? Sebab, olahraga masa kini lebih menjadi urusan profesi, uang, dan kapitalisme (Crompton, 2010). Di Inggris misalnya, pada awalnya klub-klub sepakbola nasional di sana dikelola secara komunal. Arsenal dan West Ham dikelola oleh komunitas di sekitar pabrik, Manchester United dikelola organisasi pekerja, Everton dikelola Gereja, dan Tottenham Hotspur dikelola oleh lembaga pendidikan. Tetapi, kini klub-klub besar telah berubah menjadi ‘platform’ bagi merek-merek besar seperti Nike, Adidas, dan industri-industri yang bahkan tak kait-mengait dengan dunia olahraga (Emirates, AIG, dan lain-lain). Karena itu gaji seorang pemain klub papan atas di Eropa bisa sampai 12,000 pound perminggu.

Ketika kita bersorak bercampur haru karena Indonesia juara, apa yang ada di dalam hati dan pikiran para atlet? Apakah emosi kebangsaan mereka juga berkobar?

Semoga saja demikian, sebab pikiran pragmatis tentang bonus miliaran rupiah dan banyak peluang lain berpotensi lebih mendominasi jiwa mereka. Namun tentunya kita tidak bisa ‘menghakimi’ demikian. Hanya saja yang kita butuhkan adalah revolusi mental para atlet kita, dari mental mengejar kekayaan menjadi mental kepahlawanan. Pahlawan sejati berjuang untuk kemuliaan bangsa, tanpa pamrih. Bukan uang tujuan mereka, namun keharuman nama bangsa.

(Livy Laurens MACE MA. Pemimpin Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia. Artikel ini tertulis di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 22 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI