PBB, antara Harapan dan Kenyataan

Editor: Ivan Aditya

PADA tanggal 19 September 2017 besok, PBB akan mulai menyelenggarakan sidang umum. Didukung oleh gagasan konsepsional dan jangkauan pemikiran akurat, PBB dari setiap sidang umumnya, berusaha menampilkan bentuk badan internasional yang semakin berdaya guna.

Kondisi politik pada sekitar awal pembentukannya dibanding perkembangan PBB dalam abad ke-21 ini cukup jauh berbeda. Meskipun di antara anggota sudah tumbuh revitalitas yang kompetitif untuk menarik simpati internasional, sebagian besar anggota cenderung bersikap vokal dan high profile dalam merespons setiap persoalan internasional. Abad ke-21 ini kurang mencerminkan sikap serupa. Tumbuh dan berkembangnya pola-pola hubungan internasional yang tidak semata menggantungkan pada hubungan inter state menyebarkan konsentrasi terhadap mobilitas fungsi lembaga-lembaga internasional non govermental dan juga non politis.

Persoalan-persoalan pada lembaga-lembaga internasional semacam Gerakan Nonblok, Liga Arab dan lain-lain, terutama yang bersifat inter state, tidak berarti bahwa krisis pada PBB dapat ditolerir. Sifat dan tanggung jawab PBB membedakan fungsi dan kedudukan dibanding lembaga lain. PBB tidak hanya bertanggung jawab secara politis atas keamanan dan ketertiban internasional. Tetapi juga secara sosial ekonomi bagi peningkatan derajat dan harkat kemanusiaan atas seluruh bangsa di dunia. Dan secara kultural bagi pemahaman sikap atas budaya satu sama lain untuk mendukung saling pengertian.

Banyak Rintangan

Mengingat tujuan PBB bersifat komprehensif dan universal, tetapi dalam pelaksanaan perkembangan mengalami banyak rintangan. Penyebab timbulnya masalah ada di antara dua kemungkinan antara PBB sebagai struktur organisasi, dan negara-negara di dunia pada umumnya sebagai anggota-anggota PBB.

Meskipun masih terdapat banyak kelemahan dan kekurangan, organisasi dunia tersebut selama hampir 66 tahun terakhir ini telah berusaha berbuat dan bertindak sejalan dengan yang tersurat dalam piagamnya. Kepentingan nasional tiap-tiap negara anggota memang berbeda, bahkan tidak jarang bertentangan satu sama lain. Oleh karena itu adalah sangat sulit bagi organisasi itu untuk memenuhi atau memuaskan keinginan semua pihak pada waktu yang sama, termasuk krisis Myanmar saat ini.

Sesuai dengan ketentuan Piagam PBB, keanggotaan organisasi dunia ini memang terbuka bagi setiap negara yang cinta damai. Pada saat ini hampir seluruh negara di dunia ini telah menjadi anggora PBB. Hal ini menunjukkan betapa besar kepercayaan dunia dan harapan umat manusia, akan kemampuan dan keampuhan organisasi itu untuk menangani dan mencarikan jalan penyelesaian atas berbagai permasalahan internasional.

Walaupun kepercayaan dan harapan terhadap PBB cukup besar, namun organisasi itu bukan tidak sering pula mengecewakan dunia. Ketidakmampuannya menyelesaikan berbagai masalah yang menjadi tanggungjawabnya atau yang diserahkan tanggung jawab penyelesaiannya kepadanya, menjadi penyebab kekecewaan tersebut.

Banyak Jasa

Sudah bukan rahasia lagi, PBB setiap saat selalu menjadi tumpuan harapan bagi penyelesaian dari berbagai masalah internasional. Dan juga bukan rahasia lagi, bahwa setiap penyelesaian PBB selalu jauh dari yang diharapkan. Berdasarkan catatan sejarah, PBB memang belum mampu sepenuhnya menegakkan perdamaian dunia. Sementara pada diri anggota, kecenderungan pada umumnya selalu mengarah pada ketidaktaatan memenuhi resolusi dan seruan PBB. Sikap menghormat visi dan kewenangan PBB kurang membudaya dan ini terpola akibat dari penonjolan pada aspek kepentingan nasional.

Di balik kelemahan-kelemahan itu, maka secara jujur harus kita akui bahwa PBB telah banyak jasanya terhadap perdamaian dunia kita ini. Masalah keamanan dan perdamaian dunia bukanlah masalah keadilan semata-mata. Masalah tersebut menyangkut langsung kehidupan dan eksistensi umat manusia di masa mendatang, di mana negara-negara besar merasa mempunyai tanggung jawab. Dalam hal inilah PBB ternyata mampu menghindarkan umat manusia dari bahaya kehancuran perang dunia sebagaimana terjadi dua kali sebelumnya. Mungkin, tanpa adanya PBB, dunia sudah diludeskan perang dunia yang ketiga.

(Drs A Kardiyat Wiharyanto MM. Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 18 September 2017)

BERITA REKOMENDASI