Pembelajaran Bahasa Jawa

Editor: Ivan Aditya

BAGI sebagian anak didik, mata pelajaran Bahasa Jawa memang menakutkan. Bukan tidak mungkin, suatu ketika mata pelajaran bahasa Jawa dapat masuk dalam kategori mata pelajaran ‘momok’ seperti halnya matematika dan fisika sebagaimana anggapan mereka selama ini. Sesuatu yang semestinya tidak terjadi. Kita juga sering mendengar kalimat : ”kelak, kita belajar Bahasa Jawa ke Negeri Belanda”.

Jangan sampai terjadi. Karenanya pembelajaran Bahasa Jawa perlu pembenahan melalui budaya berbahasa. Mengingat budaya berbahasa itu penting, disamping pembelajarannya. Dalam konteks ini, pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga harus terlaksana di lingkungan keluarga, dan masyarakat dalam kerangka ekosistem pendidikan.

Pembelajaran bahasa dan Budaya Jawa dalam lingkungan keluarga merupakan pondasi pembelajaran bahasa dan Budaya Jawa di sekolah. Tujuan pembelajaran bahasa Jawa dalam lingkungan keluarga ditekankan untuk mengenal dan praktik berbahasa Jawa dengan baik sebagai suatu pembiasaan.

Disiapkan Kurikulum

Pembelajaran bahasa dan budaya Jawa dalam lingkungan sekolah bertujuan agar anak mengenal, mengerti dan menguasai penggunaan bahasa Jawa. Maka pembelajaran bahasa dan budaya Jawa di sekolah perlu disiapkan kurikulum yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Pada kelas I dan II pembelajaran Bahasa Jawa cukup diajarkan mengenai membaca dan menulis kata dan kalimat pendek dalam Bahasa Jawa yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ditambah dengan pelajaran berkomunikasi dengan kalimat sederhana.

Pada kelas III, IV, V, dan VI mulai diajarkan tentang pengetahuan bahasa baik ketatabahasaan maupun kesasteraan. Bahan yang disajikan masih berupa pengetahuan dasar. Pada kelas VII, VIII dan IX pembelajaran Bahasa Jawa merupakan pendalaman atas materi pelajaran pada kelas sebelumnya dengan peningkatan pendalaman masing-masing pengetahuan bahasanya. Pada kelas X, XI, dan XII materi pembelajaran Bahasa Jawa semakin diperluas.

Disamping pengetahuan kebahasaan dan kesasteraan perlu diberikan pula masalah budaya Jawa yang didukung oleh Bahasa Jawa. Pembelajaran Bahasa Jawa meliputi pelajaran membaca, berceritera, menulis, parama sastra, kesasteraan, dan budaya yang didukung Bahasa Jawa. Pembelajaran di masyarakat dapat dilakukan pada perkumpulan, organisasi dan lembaga yang diharapkan dapat membantu pendidikan anakanak. Tidak kurang media massa berperan dalam pembelajaran bahasa dan budaya Jawa dalam masyarakat.

Budi Pekerti

Agar bahasa dan Budaya Jawa tetap mampu memberikan andil yang besar dalam rangka pembentukan budi pekerti luhur, maka dapat ditempuh beberapa upaya strategis. Di antaranya adalah membiasakan berbudaya Jawa, dan membenahi pembelajaran bahasa Jawa di sekolah.

Membiasakan budaya Jawa dalam berbahasa dapat dilakukan dengan; (1) bapak dan ibu dalam keluarga mempergunakan bahasa krama (2) Bahasa krama digunakan dalam berbicara dengan teman sejawat; (3) rintisan Java Day dalam satu minggu baik di kantor maupun di sekolah. (4) Kegiatan agama dan keagamaan, misalnya Khutbah Jumat dan Misa Gereja dengan menggunakan Bahasa Jawa; (5) seminar, sarasehan, dan diskusi dengan menggunakan bahasa Jawa dan sebagainya.

Sedang membenahi pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah, dapat dilakukan dengan (1) menata kembali kurikulum mata pelajaran bahasa Jawa. (2) Pembelajaran bahasa Jawa yang disesuaikan dengan nut ing jaman kelakone, (3) pemanfaatan media dan penguasaan model pembelajaran yang bervariasi bagi guru Bahasa Jawa; dan (4) menggali khasanah budaya Jawa dan kearifan lokal untuk pembelajaran budi pekerti luhur. Misal jujur, mengutamakan kepentingan masyarakat, arif dan bijaksana, mengingat asal muasalnya, sudibya, aja dumeh dan lain sebagainya.

Lain dari itu, pembelajaran bahasa Jawa hendaknya dimulai dari fungsinya sebagai alat komunikasi. Jadi Bahasa Jawa sebaiknya bukan sebagai pelajaran pengetahuan Bahasa Jawa semata, tetapi sebagai alat komunikasi. Karena itu tidak perlu takut salah. Hakikat berbahasa sesungguhnya adalah pakulinan.

Jika saat ini wong Jawa kari separo (tinggal setengahnya), bukan tidak mungkin pada saatnya nanti ‘wong Jawa’ wis ora kengengeh, (tidak tersisa). Ungkapan ini tentu tidak dimaknai sebagaimana adanya. Secara kuantitatif orang Jawa tetap banyak, namun orang Jawa yang ngerti (memahami), ngrasa (menghayati), dan nglakoni (memraktikkan) bahasa dan budaya Jawa dalam hidup dan kehidupannya tidak ada lagi. Berarti, bahasa dan Budaya Jawa hanya indah dalam kenangan.

(Ki Sugeng Subagya. Pamong Tamansiswa dan Narasumber Ahli Penguatan Sekolah Model Pendidikan Berbasis Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 31 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI