Pendidikan Merata Berkualitas

Editor: Ivan Aditya

TEMA peringatan Hari Pendidikan Nasional 2017 adalah ‘Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas’Ada dua makna yang terkandung dalam tema ini. Pertama, ada harapan disegerakan Bangsa Indonesia memperoleh layanan pendidikan merata yang berkualitas. (2) Pengakuan pemerintah belum berhasil memberikan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas. Pemaknaan yang kedua lebih pada sinisme daripada gramatikal. Hal ini setidaknya jika ditilik dari pembangunan watak keterdidikan.

Pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, itulah amanah konstitusi. Jika ditarik lebih jauh, untuk apa pemerintah menyelenggarakan sistem pendidikan nasional? Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya mencerdaskan bangsa. Kehidupan bangsa jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih menyentuh kepada hal-hal yang ideologis dan filosofis. Kehidupan bangsa yang cerdas bermakna menyejajarkan bangsa ini duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bukan bangsa kuli, bangsa rendah diri, dan bukan pula bangsa bermentalitas inlander.

Kecerdasan Multidimensional

Mencerdaskan bangsa bukan perkara mudah. Apalagi mencerdaskan kehidupan bangsa, jauh lebih tidak mudah. Dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa, gagasannya tidak sesempit cerdas kognitif semata, melainkan kecerdasan multidimensional. Manusia cerdas di dalam kehidupan bangsa yang cerdas berarti mampu mengenali siapa dirinya, apa potensi dirinya, dan apa kemauan dirinya. Personifikasi manusia cerdas ialah karakter atau watak manusia yang memiliki kesadaran kebangsaan.

Kesadaran kebangsaan di dalam kehidupan bangsa yang cerdas mengemuka sebagai kemampuan mengembangkan kebudayaan nasional. Cipta, rasa, karsa, dan karya manusia cerdas dengan kesadaran kebangsaan memandang kebudayaan nasional sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku membentuk lingkungan sosial. Sinergitas personifikasi dan lingkungan sosial manusia pada kehidupan bangsa yang cerdas ialah watak personal yang berkembang sebagai watak warganegara yang baik.

Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai konsep seperti utopia yang mustahil diwujudkan. Saat ini, hari pendidikan nasional diperingati masih dengan dukacita mutu keterdidikan bangsa. Tidak hanya keterpurukan atas indeks kemampuan baca, matematika, dan sains menurut standar Programme for International Student Assessment (PISA) yang rendah. Bukan pula karena Education Development Index (EDI) Indonesia yang berada diperingkat 69 dari 127 negara. Melainkan jauh lebih esensial dari itu, pada kemerosotan mutu watak personal dan kesadaran kebangsaan yang rendah sebagai produk pendidikan.

Tingkah laku para pemimpin ‘terdidik’dengan berbagai skandalnya, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih melekat kuat seolah menjadi bagian dari karakter mereka. Musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan ditinggalkan samasekali dan dikangkangi dengan sistem dominasi mayoritas atas minoritas. Kegaduhankegaduhan politik diseret ke ranah sosial dan kemudian dibenturkan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam kemasan head to head. Jika mereka, para pemimpin ‘terdidik’ diandalkan oleh sistem pendidikan nasional sebagai role-model pendidikan watak bangsa, saat inilah keterpurukan pendidikan nasional kita terjadi.

Pemaknaan sinisme atas tema percepat pendidikan yang merata dan berkualitas sebagai kesadaran pemerintah selama ini belum mampu memberikan layanan pendidikan yang merata dan berkualitas hendaknya diterima dengan lapang dada. Memang demikianlah sebenarnya yang terjadi. Setidaknya ada tiga pemaknaan. (1) pendidikan belum merata menyentuh sisisisi kehidupan bangsa, dalam hal ini sebagian bangsa ini belum mendapat layanan pendidikan. (2) Layanan pendidikan yang selama ini ada dirasakan belum sampai pada kualitas yang diharapkan, dan (3) meskipun ada pendidikan berkualitas, namun belum dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Pendidikan nasional yang tidak merata dalam tiga makna di atas telah menghasilkan pemimpin ‘terdidik’ yang sebenarnya tidak terdidik. Dalam konsep Ki Hadjar Dewantara, mereka sesungguhnya tidak ngerti, ngrasa, dan nglakoni sebagai manusia terdidik. Mungkin mereka ngerti, karena menguasai ilmu pengetahuan. Mungkin juga nglakoni, karena mengimplementasikan ilmu pengetahuannya itu dalam kehidupan seharihari. Tetapi, mungkinkah juga ngrasa?

Katanya pemimpin rakyat, kok malah menyengsarakan rakyat. Asam sulfat (H2SO4) merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat, dikuasai sebagai ilmu pengetahuan. Jika terkena kulit bisa gosong. Disiramkan ke wajah orang ‘hanya’ karena ingin mencelakakan. Itulah contoh ngerti lan nglakoni ning ora ngrasa.

(Ki Sugeng Subagya. Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 4 Mei 2017)

BERITA REKOMENDASI