Pendidikan Pribadi Utuh, Tantangan Generasi Z

Editor: Ivan Aditya

ORANG menamai anak-anak yang lahir dari tahun 1995 hingga 2000-an sebagai generasi Z. Konon, generasi Z begitu lahir langsung akrab dengan segala macam teknologi informasi, khususnya gadget. Hari-hari, bahkan detik demi detik, mereka tidak bisa lepas dari gadget. Kepala selalu tertunduk pada gadget. Mata tidak pernah tertuju pada orang lain, juga tidak pada orang yang diajak berbicara. Bahkan secara ekstrem sebenarnya mereka sama sekali tidak tertarik berbicara dengan orang lain. Mereka hanya tertarik pada gadget, dan ‘bicara’ melalui gadget itu. Ujaran lisan sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah ujaran tertulis bukan dengan orang yang ada di dekat mereka, tetapi dengan orang-orang yang jauh dari mereka.

Karena lahir bersama dengan teknologi, maka tentu saja generasi Z sangat mahir menggunakan teknologi. Segala kegiatan dapat dikerjakan dengan mudah dengan teknologi. Segala macam cara dapat dilakukan dengan teknologi. Dari mencari lokasi pertemuan, mencari informasi sejarah, pengetahuan umum, transportasi, hingga makanan atau minuman dapat dilakukan dengan teknologi secara cepat. Dengan teknologi, tidak ada kesulitan yang tidak dapat diselesaikan.

Generasi Z sangat cepat bersosialisasi dengan media sosial. Saling tukar informasi dapat dilakukan dengan cepat. Begitu pula mengumpulkan bantuan dana sosial untuk teman-teman yang menderita dapat dilakukan dengan cepat. Mereka juga sangat toleran dalam hal agama, ras, bahkan orientasi seksual. Mungkin segalanya serba dimediasi teknologi sehingga tidak pernah kontak langsung.

Bila dikorek lebih lanjut pasti masih ada sisisisi positif yang dimiliki generasi Z ini. Namun, bila dilihat dari cara pandang saat ini, banyak hal negatif dapat ditemukan. Pertama, karena kontak langsung jarang dilakukan, maka unsurunsur afektif tidak berkembang. Pertemuanpertemuan menjadi dingin, hambar, karena tidak ada ekspresi-ekspresi emosional. Kedua, karena terbiasa dengan sarana media sosial, maka mereka membuat bahasa dialek mereka sendiri. Banyak kosa kata asing yang muncul karena singkatan-singkatan demi media sosial, seperti: ttdj, otw, btw, mager. Akibatnya, generasi Z tidak terbiasa dengan bahasa baku dan cara penulisan yang baku.

Ketiga, yang bisa sangat serius adalah karena ketergantungan yang sangat besar pada teknologi, lalu generasi Z ini tidak mau melatih pikiran mereka untuk menghapalkan. Mereka mengandalkan kalkulator untuk hitungan sangat sederhana. Begitu pula pengetahuan umum tidak pernah dihapalkan karena mengandalkan google. Kalau presentasi di kelas, mereka siap dengan jawaban apapun yang ada di gadget mereka. Bukankah pikiran akan menjadi tumpul tidak pernah diasah dengan latihan menghapal?

Pendidikan Utuh

Generasi Z itulah yang sekarang ada di ruang kelas dan bangku perkuliahan. Mereka menjadi peserta didik di pelbagai jenjang pendidikan. Kalau saat ini banyak digembar-gemborkan pendidikan karakter, bagaimanakah pendidikan saat ini dapat menyentuh mereka yang dunianya jauh berbeda dengan dunia para konseptor pendidikan saat ini? Apakah konsep-konsep pendidikan saat ini masih bisa bersentuhan dengan cara pikir dan perilaku mereka? Janganjangan yang mereka butuhkan untuk kehidupan mereka ke depan sama sekali lain dengan yang diterima di dunia pendidikan saat ini!

Paradigma pendidikan pribadi yang utuh mendapat tantangan yang sungguh konkret. Model pendidikan macam apa yang cocok bagi generasi Z demi tercapainya pribadi yang utuh. Ada dua kemungkinan. Pertama, peserta didik justru dibiasakan menggunakan teknologi di dalam seluruh proses pendidikan. Gadget, tab, laptop, komputer apapun boleh digunakan dalam seluruh proses pendidikan. Peserta didik dibiasakan membaca e-book, membaca bahan-bahan pelajaran/kuliah dari situs yang disediakan sekolah/universitas, menjawab pekerjaan rumah secara online, bahkan ujian secara online. Kertas sama sekali tidak digunakan.

Kemungkinan kedua, peserta didik sama sekali tidak diperkenankan menggunakan alatalat teknologi tersebut, karena sisi-sisi negatif yang di atas sudah disampaikan. Peserta didik dilatih untuk askese, mati raga, mengendalikan diri dari alat-alat teknologi yang serba memudahkan itu, karena menurut paradigma lama pribadi yang utuh dapat dicapai dengan melatih diri manusia secara menyeluruh baik pikiran, badan, hati, maupun spiritualitas.

Kemungkinan mana yang tepat? Semoga jawaban segera ditemukan karena tuntutan zaman juga sangat cepat!

(Dr Agus Tridiatno. Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta; peserta ‘Whole Person Education Academy’di Manila. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 25 September 2017)

BERITA REKOMENDASI