Pendidikan Seharusnya Mengubah

Oleh : St Kartono
Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

ANAK-ANAK di sekolah belajar melalui empat cara yang berbeda atau campuran berbagai cara secara bersamaan. Mereka belajar melalui ‘pemahaman’, ‘hadiah’, ‘hukuman’, dan ‘teladan’. Yang jamak dipakai guru di depan murid adalah menyampaikan pemahaman, pelajaran di kelas-kelas atau nasihatnasihat di ruang bimbingan. Atau, hukumanlah yang sering dihadirkan menghadapi setiap pelanggaran. Perubahan yang diharapkan dari murid tidak segera terwujud. Guru pun mengeluh, orangtua tidak puas dengan hasil pendidikan di sekolah.

Sebagai guru, tidak cukup mengimbau, mengingatkan, atau memberi tahu siswa supaya bekerja jujur, tidak mengambil karya orang lain, atau comot sana-sini. Siswa mengetahui bahwa kejujuran itu penting, menyontek, berbohong, atau mencuri itu dicela. Namun, siswa membutuhkan fasilitas atau perangkat yang membantunya untuk bertindak sesuai keutamaan yang diketahuinya.

Pengalaman ini kian meyakinkan penulis bahwa tugas guru semestinya menyediakan perangkat pengubah yang bisa mendorong siswa bertindak sesuai dengan keutamaan yang dipelajari. Siswa di kelas penulisan karya ilmiah saya persilakan secara bersama-sama menguji hasil karya masing-masing ke dalam sebuah perangkat lunak (software) penguji plagiarisme. Jika dalam karya siswa ditemukan 20% atau lebih kalimat pihak lain, artinya karya tersebut bukan karya asli. Siswa harus merevisi dan menyusun kembali tulisannya. Memanfaatkan perangkat penguji keaslian teks inilah yang dimaksud sebagai pengubah.

Sebatas Bicara

Para guru ketika membincangkan murid pada rapat-rapat kenaikan kelas atau kelulusan, tidak jarang memunculkan ungkapan ’saya sudah mengajak bicara’, perihal murid yang dibahas perkembangan perilakunya. Guru sudah mengajak bicara murid yang ketahuan membolos, sering terlambat, atau berulang kali menyontek.

Murid demikian tidak juga menunjukkan perubahan menjadi lebih baik. Padahal, sekolah berharap pada murid-muridnya menjadi lulusan yang perilakunya tidak cacat. Jika demikian, apa yang sudah dilakukan guru atau sekolah untuk mengubahnya? Guru bisa belajar pada pelayanan bank.

Petugas bank tidak cukup hanya mengimbau atau meminta para nasabah antre meskipun tahu antre adalah budaya manusia modern. Bank menyiapkan perangkat konkret, setiap nasabah harus ambil karcis antrean urut dari nomor kecil. Agar nasabah tertib, ada perangkatnya.

Sifat perangkat itu bukan ‘penghukum’, tetapi membantu pembiasaan baik. Tindakan guru pun bisa tergolong fasilitas pengubah. Demi mengajarkan kejujuran dalam pengerjaan ujian, acaklah tempat duduk siswa, acaklah soal-soalnya, atau ujilah secara lisan orang per orang.

Dalam mendisiplinkan murid agar menulis tertib ejaan, ya berikan nilai nol untuk kesalahan, misalkan salah menaruh tanda titik (.). Tindakan demikian konsisten dilaksanakan sepanjang tahun, sehingga murid membangun pembiasaan yang baik juga.

Perangkat Pengubah

Sekolah tidak cukup mengumumkan supaya murid belajar taat hukum, hatihati berkendara di jalan dan harus memiliki surat izin mengemudi. Perangkat pengubah yang dihadapi murid adalah ketentuan yang belum ber-SIM tidak boleh memarkir motornya di halaman sekolah.

Orang tua pun akhirnya tidak membiarkan anaknya bermotoran tanpa SIM, mengantar atau menjemput, atau mendorong anaknya naik kendaraan umum. Sebuah yayasan pendidikan merumuskan aturan kepegawaian yang mensyaratkan para gurunya mesti menghasilkan buku, menuliskan penelitian, atau harus menempuh studi lanjut untuk kenaikan pangkat atau golongan kepegawaiannya.

Syarat semacam itu menjadi perangkat pengubah guru agar membiasakan menulis atau meneliti sebagai kelengkapan profesionalnya. Syarat itu bukan hukuman, bukan sandera, atau sekadar penghambat. Kalau tidak disediakan fasilitas pengubah yang bisa menuntut guru bertindak, tentu guru tidak melakukannya.

Akhirnya, jika anak-anak kita mengalami perilaku tercela dan menyimpang dari keutamaan di masyarakat, patut dipertanyakan: apakah sekolah telah menyiapkan perangkat mendidik yang menjembatani antara yang ideal dan tindakan konkret? Apakah guru juga telah membangun pembiasaan muridnya? ❑-o *)

BERITA REKOMENDASI