Pengendalian Diri Kunci Pencerahan

Editor: Ivan Aditya

TELAH tiba kembali umat Buddha merayakan hari raya Waisak pada 29 Mei 2018 besok. Tahun ini umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak ke-2562. Bertepatan pula umat Islam tengah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Sungguh peristiwa yang indah jika keduanya dimaknai sebagai momen latihan spiritual bersama. Meskipun berbeda nama, berbeda maksud perayaannya, dan berbeda cara menjalaninya. Keduanya tetap bersandar pada pelatihan spiritual untuk mencapai kemurnian diri menuju pencerahan.

Pencerahan yang telah dicapai Sidharta Gautama adalah buah perjuangan panjang dari pelatihan spiritual yang dilakukannya dalam jutaan kali kelahiran di alam semesta. Hingga pada saatnya beliau mencapai gelar ‘Buddha’ sebagai tanda pencapaian pencerahannya yang sempurna. Hal ini menjadi inspirasi bahwa siapapun yang melatih diri dengan benar, sungguh-sungguh dan konsisten akan mampu memperoleh pencerahan sempurna (ke-buddha-an). Tentu saja untuk mencapainya bukan perkara mudah dan instan. Musuh yang harus dihadapi dan ditaklukkan amatlah berat, ‘diri sendiri’.

Kotoran Batin

Di dalam diri kita bersemayam musuh-musuh tangguh berwujud kekotoran batin (kilesa). Kotoran batin seperti kemarahan, kedengkian, keserakahan, ketidakpedulian, kemalasan dan keegoisan adalah penghalang utama bagi pencapaian pencerahan. Semuanya amat sulit ditaklukkan kecuali dengan usaha yang gigih dan konsisten melalui latihan spiritual setiap saat dalam keseharian kita.

Latihan spiritual mendasar yang perlu kita praktikkan pada awalnya adalah pengendalian diri (samvara). Sederhananya pengendalian diri adalah latihan mengawasi, menahan dan menjaga pikiran, ucapan maupun tindak-tanduk dari hal-hal negatif yang menimbulkan kerusakan, luka, perpecahan dan penderitaan makhluk lain. Puasa, tapa brata, tapa ngrame, praktik susila (aturan moral dan etika) adalah cara-cara pengendalian diri yang sudah dilakukan nenek moyang, sejak zaman dulu.

Kehati-hatian adalah ciri pengendalian diri. Berhati-hati dalam berfikir, selalu melihat ke dalam diri terlebih dahulu sebelum memutuskan. Melihat ke dalam diri apakah dalam pikiran kita ada rasa benci, serakah, kesombongan dan emosi negatif lainnya? Berhati-hati dalam ucapan baik lisan maupun tulisan. Meneliti ke dalam apakah yang akan kita ucap dan tuliskan terdapat unsur kebohongan, ada unsur kebencian dan apakah melukai lainnya? Berhati-hati dalam bertindak, apakah tindakan ini merugikan, merusak, menciderai, mendiskriminasi dan menyebabkan ketidakharmonisan bagi makhluk lainnya?

Tanpa pengendalian diri ini di tengah pendalaman demokrasi bangsa kita saat ini kebebasan berekspresi, berpendapat dan mengembangkan diri bisa saja menuju demokrasi yang kebablasan. Menjadi ajang saling hujat dan mencela penuh kebencian, yang tak mengindahkan aturan-aturan yang berlaku. Kebebasan mengembangkan diri menjadikan kita egois yang hanya memikirkan diri atau kelompok sendiri. Nilai-nilai kebersamaaan, persatuan, gotong royong, kerukunan akan terus memudar karenanya.

Bangsa ini menuju ke masa kegelapan jika tiap-tiap diri kita tidak mempunyai pengendalian diri dalam pikiran, ucapan dan perbuatan. Kita telah melihat dan merasakan betapa mengerikan akibat tiada pengendalian diri di era kebebasan demokrasi saat ini. Ujaran kebencian, berita hoax, main hakim sendiri jamak kita temui di negeri ini. Kerugian material, waktu, produktivitas kerja bahkan hingga nyawa acap kali kita rasakan. Oleh karena itulah latihan pengendalian diri adalah mutlak dilakukan demi menyongsong masa depan bangsa yang lebih tercerahkan.

Menjadi Pengingat

Momentum Waisak, Ramadan yang berdekatan dengan hari lahir Pancasila 1 Juni, semoga menjadi pengingat pentingnya pengendalian diri Bangsa Indonesia. Nilai-nilai relijius yang terkandung dalam setiap agama dan kepercayaan di Indonesia adalah modal dasar pencerahan diri, masyarakat dan bangsa negara kita. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa telah meracikkan nilai-nilai reljius tersebut dengan sangat dalam dan dapat diterima semua umat beragama di Indonesia.

Selamat merayakan Waisak 2562 tahun 2018 bagi umat Buddha. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi para sahabat muslim. Selamat melatih pengendalian diri hidup dalam keberagaman di negara Pancasila. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

(PMd Totok Tejamano, SAg Mhum. Ketua Vihara Buddha Karangdjati, penyuluh agama Buddha Kota Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 28 Mei 2018)

BERITA REKOMENDASI