PERAN POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI

PENDAHULUAN

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, social, moral dan sebagainya. Masa usia dini disebut dengan “golden age” di mana pada masa ini anak mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Masa ini merupakan masa yang paling mendasar untuk perkembangan selanjutnya. Sedemikian pentingnya masa usia dini, maka diperlukan stimulasi yang tepat.

Dunia anak adalah dunia bermain. Saat bermain anak akan melakukan komunikasi dengan teman atau siapapun yang bersamanya. Komunikasi sebagai kebutuhan dasar bagi setiap anak karena merupakan makhluk social yang harus hidup berdampingan dengan sesamanya (Suriansyah,2014).Anak-anak dilahirkan dengan kemampuan untuk mengembangkan keterampilan berbicara dan keterampilan berbahasa. Perkembangan bahasa adalah kemampuan berbahasa lisan pada anak yang berkembang karena terjadi kematangan dari organ-organ bicara juga karena lingkungan ikut membantu mengembangkannya (Gunarsa, 2008). Orang tua atau keluarga merupakan lembaga sosial yang paling kecil dan berfungsi memberikan pendidikan yang layak bagi anak, agar anak dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.Keluarga merupakan wadah pendidikan yang sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan berbahasa anak. Oleh karena itu pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari keluarganya karena keluarga merupakan tempat pertama kali anak menyatakan diri sebagai mahkluk social dalam berinteraksi dengan kelompoknya (Mustakin 2013). Anak akan mereplikasi apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan di alami karena anak adalah peniru yang ulung. Pendidikan dalam keluarga yang baik dan benar akan sangat berpengaruh pada perkembangan bicara anak. Kebutuhan dalam perkembangan bahasa anak diberikan melalui pola asuh orangtua.

PEMBAHASAN

Anak usia dini adalah anak usia 0-8 tahun. Masa usia dini merupakan masa perkembangan yang sangat pesat dan fundamental.bagi kehidupan selanjutnya. Anak mempunyai dunia dan karakteristik yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Bermain adalah dunianya anak usia dini dan bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi saat  mereka bermain .

Perkembangan bahasa bagi anak dimulai sejak bayi melalui pengalaman dan pertumbuhan bahasa. Perkembangan bahasa anak usia dini (AUD) adalah salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang diekspresikan melalui pemikiran anak dengan menggunakan kata-kata yang menandai meningkatnya kemampuan dan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan bahasa bagi anak dimulai sejak bayi melalui pengalaman penguasaan, dan pertumbuhan bahasa. Sejak dini anak memperoleh bahasa dari lingkungan keluarga dan lingkungan tetangga. Melalui bahasa anak dapat berpikir, mengekspresikan perasaannya, bahkan mampu memahami pikiran dan perasaan orang lain. Bahasa sangat berperan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga pengembangan kemampuan berbahasa anak penting dilakukan agar anak mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungan sekitarnya antara lain teman sebaya, teman bermain,orang dewasa, baik yang ada di sekolah, di rumah, maupun dengan tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Orang tua merupakan sarana dan prasarana anak untuk memenuhi kebutuhan perkembangan bahasa anak (Yusuf, 2011). Hal ini berhubungan erat dengan pola asuh.

Pola asuh merupakan interaksi antara anak dengan orang tua,yang mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan anak menuju kedewasaan berdasarkan norma-norma yang ada di masyarakat (Edward, 2006). Pada masa anak-anak, pola asuh merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh orang tua, karena orangtualah yang memberikan contoh berbahasa pada anak dengan hubungan yang penuh perhatian dan kasih sayang serta memfasilitasi perkembangan bahasanya. Interaksi yang positif antara orang tua dengan anak akan membangun sebuah persepsi, mampu membimbing serta mengendalikan perilaku-perilaku negatif yang muncul pada anak serta mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang ada pada anak (Andrade, 2005). Penerapan pola asuh yang tidak tepat akan membawa dampak negatif pada perkembangan bahasa anak, , namun kebanyakan orangtua tidak memahami dampak jangka panjang akibat dari pola asuh yang tidak tepat. Menurut penelitian psikolog  Eleanor Maccoby dan John, terdapat empat macam pola asuh, otoriter, permisif, lalai/cuek/abai, dan demokratis. Masing-masing tipe membawa dampak yang berbeda di kemudian hari. Pola asuh otoriter adalah orang tua yang mendidik anak dengan menerapkan peraturan yang kaku, tegas, menerapkan hukuman jika tidak sesuai aturan. Orang tua cenderung merasa selalu benar dalam mengemukakan pendapat , anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, anak harus mematuhi segala peraturan yang dibuat oleh orang tua, berorientasi pada hukuman (fisik maupun verbal), dan orang tua jarang memberikan hadiah ataupun pujian, sehingga anak akan mempunyai sifat ragu-ragu, tidak percaya diri, dan tidak sanggup mengambil keputusan sendiri. Hal ini mengakibatkan perkembangan bahasa anak cenderung mengalami stagnasi, seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut mengungkapkan pendapat. Pola asuh permissif dengan ciri-ciri sebagai berikut: memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup dari orang tua. Mereka cenderung tidak menegur /memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Pola asuh permisif adalah orang tua cenderung membiarkan anak untuk melakukan tindakan semaunya tanpa ada teguran. Lebih terkesan adanya pembiaran, hal ini sangatlah bertolak belakang dengan kebutuhan anak usia dini seperti perhatian dan pendampingan serta pembimbingan (Anonim, 2019d).

Jika masa yang merupakan masa terpenting untuk didampingi dalam setiap langkah, akan tetapi dengan pola asuh permisif menjadikan anak dibiarkan meskipun berbuat salah, tanpa ada pembenaran, maka akibatnya kemampuan perkembangan bahasa anak kurang maksimal, terutama artikulasi bahasa dapat menjadi terhambat. Pola asuh lainnya yaitu pola asuh abai. Pola asuh ini sering terjadi pada orang tua yang terlalu sibuk atau memiliki masalah pribadi, seperti masalah keuangan, kecanduan narkoba, alkohol, atau judi. Pada tipe pola asuh anak ini, orang tua hanya memenuhi kebutuhan fisik dasar anak saja, seperti makan, tempat tinggal, dan pakaian. Sementara itu, kebutuhan secara psikologis dan emosional jarang terpenuhi karena orang tua menjadi tidak peduli dan jarang berinteraksi dengan anaknya. Pola asuh abai sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa anak. Pola asuh ini berdampak kurang baik, karena membiarkan anak sendiri, tanpa adanya stimulasi dalam berkomunikasi. Padahal pada hakikatnya, anak usia dini adalah masa dimana anak mengeksplorasi hal-hal baru sebanyak-banyaknya untuk bekal di masa depan. Dengan pola asuh ini, akan menanamkan sikap cuek dan sulit berkomunikasi, sehingga dia akan menjadi sosok yang pasif, komunikasi bermasalah. Sedangkan Pola asuh demokratis memperlihatkan ciri-ciri adanya kesempatan anak untuk berpendapat, orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi hal-hal baru tetapi tetap dengan pengawasannya, adanya pujian apabila anak telah melakukan kebaikan dan mendapatkan hukuman apabila dia telah melanggar peraturan. Orang tua bersikap hangat, mengasuh dengan penuh kasih sayang serta penuh perhatian.

Dengan pola asuh demokratis anak merasa diperhatikan, menjadi mandiri,punya kesempatan berpendapat, ada komunikasi dengan orang tua, adanya bimbingan dalam melakukan segala aktivitas. Komunikasi aktif akan membantu dalam perkembangan kemampuan berbahasa anak usia dini.

BERITA REKOMENDASI