Perginya ‘Robin Hood Van Java’

Editor: Ivan Aditya

SABTU (13/8) sore tepatnya pukul 17.20, menyeruak sebuah kabar duka. Seorang tokoh nasional yang sangat lantang menyuarakan masalah ekonomi kerakyatan, telah dipanggil Sang Khaliq. Berita yang muncul di medsos itu sempat membuat tanya, benarkah Adi Sasono wafat?

Adi Sasono lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1943 dari pasangan Adnan Martawiredja dan Sasinah Ranuwihardjo. Ayahnya dikenal sebagai tokoh penggerak pembauran warga pribumi dan nonpribumi di Pekalongan. Setelah tamat SMA, cucu dari Mochammad Roem ini melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Semasa mahasiswa pernah menduduki kursi Ketua Dewan Mahasiswa ITB (1965-1966), dan juga Ketua Umum HMI Cabang Bandung (1964-1965). Jabatan penting di pemerintahan pernah dipegang oleh Adi Sasono, salah satunya adalah menjadi menteri Koperasi dan UKM di era pemerintahan Presiden BJ Habibie.

‘Pendawa Lima’LSM

Sebelum zaman reformasi bergulir, kebanyakan orang lebih memilih tiarap, menyerah pada keadaan, membungkuk kepada kekuasaan dan kepentingan kebendaan. Sebagian kaum terdidik dan profesional bahkan cenderung bersikap oportunistik. Sebagian lagi masuk ke dalam sistem mencoba 'mengubah dari dalam' namun ternyata mereka malah 'diubah' di dalam sistem.

Adi Sasono berpendapat bahwa mustahil menjalankan pemikiran tanpa tindakan sosial alternatif. Karena itu, harus dibangun kesadaran dan kehendak rakyat untuk bisa mengambil prakarsa untuk mengubah nasib melalui tindakan bersama. Ia berprinsip harus ada siklus antara pemikiran, penyadaran, dan tindakan sosial dalam satu rantai berkesinambungan. Artinya harus ada transformasi sosial dari masyarakat terbelakang pra-madani menjadi masyarakat madani. Berangkat dengan pemikiran tersebut, ia banyak melahirkan buku-buku dalam perspektif ekonomi politik tentang ketergantungan dan kemiskinan.

Bersama-sama koleganya seperti AM Saifuddin, M. Amin Azis (alm), Dawam Rahardjo dan Abdillah Toha, lima orang tersebut banyak dikenal sebagai Pendawa Lima LSM Indonesia. Mereka adalah bidan lahirnya lembaga-lembaga yang menyuarakan pembelaan ekonomi kerakyatan. Ada Yayasan Agribisnis/PusatPengembanganMasyarakat Agrikarya (PPMA), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk), Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) dan lain-lain. Adi Sasono juga berperan cukup penting lahirnya Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia dan pernah juga menjadi Sekum 1990-an dan ketua ICMI 2000-2005. Di dalam kiprah dunia politik, Adi Sasono pernah mendirikan Partai Merdeka tetapi gagal membawa kadernya ke Senayan.

Beberapa kali bertemu dan mengikuti ceramah-ceramah beliau, semangat memajukan rakyat kecil sungguh luar biasa. Biarpun tidak lagi di usia muda, tetapi semangat pembelaan terhadap masyarakat kecil: dhuafa dan mustadz’afin sangat dominan dalam pemikiran-pemikiran beliau. Disaat beliau menjadi pejabat negara pun, kebijakan-kebijakan beliau sangat pro-rakyat.

Majalah Far Eastern Economic Review, edisi minggu pertama Desember 1998 menyebut Adi Sasono sebagai The Indonesia’s Most Dangerous Man?. (Orang Indonesia yang paling berbahaya?). Menurut majalah mingguan tersebut, Adi Sasono dianggap cukup berbahaya karena kebijakan ekonomi kerakyatan yang disuarakannya membuat pelaku bisnis (konglomerat) khawatir. Sementara majalah the Economist dari Inggris menyebut Adi Sasono sebagai Robin Hood van Java (http://www.cnnindonesia.com-Sabtu 13/08/2016 19.30 WIB).

Loncatan Besar

Di era Adi Sasono lahir Permodalan Nasional Madani (PNM) sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberi mandat sebagai lembaga yang memberikan layanan asistensi dan pembiayaan kepada Koperasi dan UMKM. Konsistensi pemikiran dan gerakan di dalam pembelaan ekonomi kerakyatan di Indonesia menjadi loncatan besar terhadap kebijakan pemerintah. Selanjutnya dalam program ekonomi kerakyatan. Kini, Robin Hood van Java itu telah tiada. Tantangan gerakan ekonomi kerakyatan yang tidak ringan menjadi tugas generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan beliau. Selamat jalan Bapak Ekonomi Kerakyatan.

(Dwi Kuswantoro SE MEk. Direktur di Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil dan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah DIY. Artikel ini tertulis di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 16 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI