Perjuangan Perempuan

Editor: Ivan Aditya

HARI ini, 22 Desember, Bangsa Indonesia kembali memeringati Hari Ibu. Peringatan Hari ibu sesungguhnya bukan hanya dirayakan Kaum Ibu. Peringatan Hari Ibu bukanlah sebuah peringatan untuk memanjakan perempuan. Hari ini bukan berarti menjadi hari berterimakasih untuk ibu dan kemudian hari ini para ibu, perempuan diberi bunga, dibebaskan dari pekerjaan domestik atau ëliburí. Mengapa?

Peringatan Hari Ibu bukan sekadar itu! Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember adalah untuk memaknai momentum gerak perjuangan perempuan yang melaksanakan Kongres Perempuan I yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1928. Dan 88 tahun silam – meski belum meraih Kemerdekaan — perempuan Indonesia sudah membulatkan tekat untuk merdeka, lepas dari penjajah. Bukan hanya itu, di dalam keputusan kongres, mereka dengan tegas di antaranya menyatakan perang terhadap perdagangan perempuan, menentang perkawinan anak dan lainnya. Problem yang justru masih terdengar dan dihadapi bangsa ini, hingga kini.

Bukan berarti perempuan gagal dalam perjuangannya. Sejarah perjalanan panjang bangsa membuat dinamika gerak perempuan mengalami pasang surut, sesuai rezimnya. Karena itulah perlu ada upaya pelurusan dalam memaknai Peringatan Hari Ibu. Sesungguhnya,. Peringatan Hari Ibu hakikatnya adalah untuk mengingatkan perempuan agar tidak berhenti berjuang. Karena perjuangan perempuan-tentu saja bersama elemen laki-laki negeri ini-memang tidak akan pernah usai. Bahkan problem yang pernah digaungkan dalam Kongres Perempuan I tersebut, sebagian besar di antaranya memang masih relevan hingga kini.

Diakui atau tidak, dipahami atau tidak, tetapi tetap diyakini bahwa setiap zaman memiliki tantangan sendiri. Karenan itu, upaya serta perjuangan tetap harus dilakukan, menyesuaikan tantangan dan gerak dinamika bangsa. Saat ini, Bangsa Indonesia tidak lagi terjajah secara fisik. Namun banyak ahli mengungkap keprihatinan, kita sekarang seakan berada di dalam penjajahan secara ekonomi bahkan sosial budaya.

Kalau kita melihat lebih mendalam dan dalam kaitan global, dunia mulai memasuki krisis energi. Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak sumber energi terbarukan. Mulai sinar matahari, angin, panas bumi dan lainnya. Dan sumber energi ini di Indonesia bisa dikatakan berlimpah, sementara di belahan bumi yang lain ada yang tidak memiliki sumber tersebut. ‘Kekayaan’ luar biasa Indonesia inilah kemudian membuat ‘raksasa dunia’ seperti AS dan China kemudian seakan saling bersaing baik secara ekonomi, pengaruh, bahkan budaya di negeri ini. Dan ketika Pemerintah Jokowi seakan memberi angin pada China, tentu saja hal ini membuat ëraksasaí Barat Amerika Serikat menggeliat.

Dengan pelbagai cara, raksasa dunia ini berebut pengaruh. Bak gajah berperang melawan gajah, pelanduk mati di tengahtengah. Perang pengaruh itu membuat Indonesia seakan berada dalam posisi rentan. Mereka mudah untuk mendapat pengaruh lewat ‘serangan’ gaya hidup entah lewat tayangan film, bacaan ataupun yang lain berkait dengan kecanggihan teknologi dan kebebasan yang luar biasa.

Di sinilah sesungguhnya tantangan perempuan di masa kini. Dan ini acapkali tidak tampak sebagai musuh, tidak seperti di zaman dilaksanakan Kongres Perempuan I yang jelas menghadapi Belanda dengan bedilnya. Karena tantangan sekarang adalah gaya hidup yang instan, perilaku anak-anak muda yang sering disebut jauh dari karakter bangsa. Di sinilah, peran perempuan dan perjuangannya, dengan tantangan yang dihadapi.

Tentu saja ini bukan perjuangan perempuan sendiri. Di dalam setiap masa, untuk perjuangan dan membangun bangsa, perempuan selalu bahu-membahu berjuang bersama laki-laki. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi kini adalah juga persoalan bangsa yang perlu dipikirkan semua elemen di dalamnya. Sebagai generasi yang lebih senior, perempuan dan laki-laki hendaknya mendidik anak bukan pintar secara IQ namun juga memiliki kecerdasan sosial, emosional dan spiritual.

Perjuangan perempuan tidak pernah berhenti, sepanjang hayatnya. Dan yang dihadapi ini adalah masalah bangsa. Maka perempuan tetap harus memiliki kesadaran dengan berjuang bersama.

(Dr Sari Murti. Dosen FH UAJY/aktivis LPADIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 22 Desember 2016)

BERITA REKOMENDASI