Perlu ’Single Destination, Single Management’

Editor: Ivan Aditya

SERING ditemui pada suatu kawasan destinasi pariwisata dengan berbagai daya tarik wisata di dalamnya. Menjual produk dengan saling ‘menjelekkan’, bahkan suvenirnya pun semua sama. Kompetisinya hanya dalam hal ‘banting harga’. Ini tentunya merupakan iklim bisnis yang kurang bijaksana.

Semua bermula dari ego sektoral dan tata kelola yang kurang baik. Bahkan, terkadang terjadi penumpukan pengunjung pada salah satu daya tarik wisata sedangkan lainnya kosong. Pengunjung tidak nyaman dan pengelolapun kerepotan. Belum lagi, destinasi pariwisata berada pada kawasan geografi terletak di dua atau tiga wilayah administratif yang koordinasinya buruk. Ini berpengaruh terhadap pembangunan pariwisata seperti aksesibilitas, amenitas, atraksi dan promosi, berdampak pada pelayanan tidak standard. Padahal pembangunan kepariwisataan bersifat borderless, pembangunan dan pengelolaannya berlangsung lintasbatas administrasi dan lintassektor.

Realita di atas menunjukan destinasi pariwisata perlu dikelola secara profesional untuk mengoptimalisasikan manfaat yang inklusif bagi masyarakat dan lingkungan. Melalui Destination Management Orgnization (DMO), akan meningkatkan daya saing, kredibilitas bisnis, menyeimbangkan penerapan nilai etika, estetika, dan menciptakan kualitas pengalaman berwisata.

Kesadaran Kolektif

Untuk melakukan transformasi menuju DMO, diperlukan kesadaran kolektif para pelaku, asosiasi, industri, akademisi, dan pemerintah. Kesadaran dalam hal pembuatan kesepakatan, pengambilan keputusan, manfaat langsung dan tidak langsung, keseimbangan kewenangan terhadap unsur-unsur pendukung.

Mindset harus digaungkan ke seluruh unsur terutama terkait partisipasi aktif, keterpaduan, kolaboratif dan keberlanjutan. Agar terjadi cohesifness di antara para pemangku kepentingan dan terpeliharanya kawasan destinasi dengan baik. Diperlukan kepemimpinan yang mampu menjembatani, mensinergikan, memberdayakan semua unsur demi kepentingan bersama. Kepemimpinan dalam hal ini bersifat interface leader dipilih berdasarkan musyawarah mufakat dari semua unsur di dalam destinasi.

Format DMO, dilakukan secara terstruktur dan terintegrasi. Mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi dan pengendalian. Yang dilakukan secara inovatif dan sistemik melalui pemanfaatan jejaring dan teknologi, agar memunculkan commercial value terhadap produk dan jasa yang dihasilkan. Perlu dieksplore lebih dalam kearifan lokal dimasing-masing daya tarik wisata, guna memunculkan kesepakatan tentang kekhasan masing-masing daya tarik wisata, dan diikuti produk turunannya. Seperti bentuk bangunan, suvenir. Sehingga daya tarik wisata memiliki lokalitas dan suvenir yang berbeda-beda, mempunyai value preposition yang tinggi.

Pembuatan zonasi diperlukan untuk mengelompokan unsur-unsur di destinasi, khususnya yang mempunyai peranan dan fungsi yang sama. Zonasi dibedakan menjadi zona inti main attraction, zona penyangga fungsinya memisahkan zona inti dan pendukung dan zona pelayanan. Adanya zonasi lebih menguatkan tematema tertentu di destinasi. Sehingga story telling dapat dibuat disetiap zonanya.

Daya Tarik

Aksesibilitas diperlukan untuk merangkai daya tarik wisata agar terintegrasi, ditambah travel pattern yang akan membantu penyebaran wisatawan. Sehingga carrying capacity lebih optimal, length of stay dapat diperpanjang. Sumberdaya manusia diberi pelatihan, bimbingan teknis dan peningkatan kompetensi, sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing. Ikut proses sertifikasi profesi agar lebih professional.

Pemerintah membuat regulasi, sosialisasi, dan pembinaan untuk mentriger destinasi agar lebih aktif meningkatkan kualitas produk dan jasanya. Melalui pendukungan baik yang bersifat pelatihan maupun lomba-lomba kepariwisataan dan lainnya. Pemasaran, menggunakan platform digital, agar pangsa pasarnya targeted dan segmented. Ditambah konten story telling dan paket harga dengan sistem bundling antardaya tarik wisat. Diharapkan membuat wisatawan tertarik, mudah mengakses informasi yang diperlukan dan membeli secara online.

Dengan adanya DMO diharapkan ego sektoral tidak ada lagi. Produk didaya tarik wisata menjadi semakin kuat. Usaha dapat dijalankan sesuai dengan harapan bersama. Dan daya saing destinasi pariwisata menjadi tinggi.

Dr Agus Rochiyardi.
Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur.

BERITA REKOMENDASI