Pertanian Organik Era Baru

Editor: Ivan Aditya

TANAH dapat dianggap sebagai gudang hara yang selalu terisi penuh. Bila hara diambil dari tanah akan digantikan oleh hara lain yang dapat berasal dari dalam akar tanaman atau dari bahan lain yang ada dalam larutan tanah.

Dalam proses panenan, ada komponen yang diangkut dari media tanam berupa panenan, misalnya padi disamping mengandung pati/karbohidrat, ujung beras dan kulit-kulit padi kaya dengan nutrisi yang tidak kembali ke tempat asalnya dibentuk. Jerami dan akar padi memang dapat dimanfaatkan sebagai kompos dan penyedia hara untuk tanaman berikutnya. Hanya saja sisa tanaman tersebut tidak semuanya akan kembali ke tanah, ada proses penguapan selama proses pengomposan (misalnya nitrogen), hara terlarut dapat terbawa aliran air atau menukarkan isi gudang nutrisi yang penuh di dalam tanah.

Contoh yang sering kita lihat adalah di tempat pembuangan akhir/sampah (TPA) biasanya ada air lindin berupa cairan hitam berbau busuk yang berasal dari tumpukan sampah dari TPA tersebut. Cairan tersebut kaya nutrisi sebagai hasil dekomposisi sampah organik. Sedang bau yang timbul adalah gas yang mengandung hara nitrogen dan sulfur.

Saat ini dikenal istilah pertanian organik era baru, yaitu budidaya tanaman yang mengandalkan semua kebutuhannya berupa hara/nutrisi, dan pengendalian hama dan penyakit semata-mata menggunakan komponen organik alami. Nilai utamanya adalah hasil panen yang sehat, tidak terpapar oleh unsur logam toksik dan bahan sisa pestisida serta herbisida sintetik. Bila ditinjau dari kebutuhan hara, dengan dasar bahwa sebagian hara yang diambil akan berkurang akibat penguapan, pelindian dan terbawa keluar sebagai panenan.

Pergiliran tanaman dengan tanaman legum (kacang-kacangan) memang dapat meningkatkan kandungan nitrogen yang diambil oleh tanaman melalui bintil akar, tetapi tetap saja hara lainnya tetap akan berkurang. Untuk itu diperlukan pasokan bahan organik segar dari tempat lain agar kecukupan hara bagi tanaman berikutnya dapat terpenuhi. Masalahnya adalah pasokan tersebut sukar didapatkan bila petani lain juga berkiprah pada sistem pertanian organik, ada juga petani menggunakan sisa panen untuk makanan hijauan ternak, atau ada yang membakar sisa tanaman tersebut.

Dari hal-hal yang disebutkan di atas, kiranya sistem pertanian organik dapat diresume sebagai berikut:

a. Indonesia adalah Negara tropis, iklim agresif (suhu tinggi, hujan berlimpah), sehingga pertanian organik sebagai penyedia hara tanaman sulit untuk dikembangkan secara massal. Pupuk mineral/pabrik masih merupakan kebutuhan yang siap saji untuk mencapai produktivitas tanaman yang diinginkan.

b. Dapat saja dikembangkan hanya untuk tanaman yang bernilai ekonomis (jual) tinggi dan untuk konsumen menengah ke atas yang nantinya harus berlabel dan mempunyai catatan teknik budidaya organiknya (ada SNInya).

c. Pertanian campuran organik dan mineral untuk kebutuhan haranya, pupuk pabrik (mineral) dimanfaatkan sebagai pengganti hara yang terbawa keluar lingkungan oleh berbagai sebab.

d. Tetap pada pertanian dengan pasokan pupuk pabrik yang selanjutnya sisa tanaman dimanfaatkan di tempat lain sebagai pupuk organik. Hal ini misalnya dapat dikerjakan untuk tanaman keras (perkebunan dan hutan tanaman industri), tentu saja perlu diperhatikan apakah ada residu logam berat yang terakumulasi di sisa tanaman tersebut.

e. Pupuk pabrik sangat efektif untuk lahan marginal, reklamasi lahan bekas tambang, dan lahan terdegradasi sebagai pemula untuk menuju pertanian organik.

Akhir kata, sebaiknya pupuk pabrik harus memanfaatkan sumber bahan bakunya yang tidak banyak mengandung bahan-bahan ikutan berupa unsur beracun dan proses yang lebih efektif agar produk pupuknya aman untuk lingkungan. Walau demikian, pertanian organik dapat menjadi pilihan bila proses produksi (termasuk petani dan pekerjanya) sampai ke konsumen memenuhi persyaratan aman bagi lingkungan, berkesinambungan, terjamin kualitasnya dan bersertifikat. Mungkinkah dengan luas kepemilikan yang sempit dan ketersediaan sarana yang diinginkan dapat diterapkan saat ini bagi petani Indonesia tanaman pangan…?

(Prof Dr Azwar Maas MSc. Pedologist, Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 31 Agustus 2016)

BERITA REKOMENDASI