Pimpinan Istimewa

Editor: Ivan Aditya

KEKUASAAN adalah kuasa untuk mengurus, memerintah. Dan kekuasaan ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berfungsi menciptakan dan memantapkan kedamaian, keadilan serta menindak ketidakdamaian dan ketidakadilan.

Adalah pasangan Hasto Wardoyo-Sutedjo yang mendapat kekuasaan untuk memimpin kembali Kulonprogo periode 2017-2022. Tanpa mengurangi rasa hormat pada pemimpin yang lain, pasangan incumbent yang selama lima tahun sebelumnya dikenal ‘bekerja dengan senyap’ ini layak masuk kategori pimpinan daerah yang istimewa. Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan untuk menunjukkan pasangan yang dilantik Senin (22/5) kemarin.

Pertama, meskipun relatif sepi publisitas, keduanya tidak kendor dalam memberikan yang terbaik untuk rakyat Kulonprogo. Kedua, pasangan ini juga istimewa karena langka populasinya. Menurut data Kemendagri, jumlah pasangan kepala daerah yang ‘bercerai’ dalam periode kedua berada pada kisaran 90%. Pasangan Hasto – Sutedjo tidak hanya kembali berpasangan dalam pilkada 2017 kemarin, akan tetapi ‘dwi-tunggal’ tersebut juga sangat harmonis dalam menakhodai Kulonprogo di periode sebelumnya. Ketiga, banyak sekali program inovatif yang mereka jalankan di periode sebelumnya, yang mestinya bisa melambungkan namanya. Akan tetapi keduanya sepakat ‘bekerja dengan senyap’ untuk menciptakan dan memantapkan kedamaian.

Inovasi pasangan ini tidak hanya berbuah award prestisius dari beberapa kementerian maupun lembaga, namun juga membuktikan kebijakan Pemkab Kulonprogo yang pro-rakyat. Di antara yang fenomenal adalah Bela-beli Kulonprogo. Suatu upaya ideologis menegakkan kemandirian ekonomi rakyat Kulonprogo dengan mengutamakan membeli produk sendiri ketimbang produk asing. Ada juga one village one sister company, yaitu menggandeng perusahaan swasta, BUMN maupun BUMD untuk menjadi orangtua asuh dari desa-desa di Kulonprogo sehingga kesejahteran rakyat meningkat.

Adalah menarik, di tengah-tengah kritisisme terkait keberadaan toko jejaring yang sering dituding menggerus pedagang kecil, Bupati menjembataninya dengan mengganti nama toko tersebut denganTomira, singkatan dari Toko Milik Rakyat. Tomira wajib menjual produk-produk lokal Kulonprogo, seperti AirKU, beras Gapoktan, dan telurasin rasa soto. Produk yang tidak dimiliki Kulonprogo baru boleh didatangkan dari luar.

Dalam bidang kesehatan, RSUD Wates sejak 2012 telah menerapkan konsep rumahsakit tanpa kelas yang memberikan kemudahan bagi warga Kulonprogo untuk mendapatkan layanan kesehatan. Misal ada pasien keluarga miskin yang harus rawat inap tidak mendapatkan ruang karena kelas III penuh, pasien tetap dilayani di kelas lain, bahkan sampai kelas VIP. Di samping itu, RSUD Wates juga telah menjalankan kebijakan universal coverage. Di mana semua warga Kulonprogo berhak mendapatkan layanan pemeriksanaan kesehatan secara gratis, baik yang dijamin asuransi kesehatan maupun tidak.

Tentu, tidak ada gading tak retak. Kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa. Namun mendekati sempurna layak dilakukan sebagai sebuah usaha. Maka tentu banyak ‘pekerjaan rumah’ (PR) bagi Kulonprogo, yang tentu harus diselesaikan pasangan Hasto-Sutedjo. Pertama, program Bela-beli Kulonprogo yang mengusung kebijakan proteksi misalnya, justru bisa berpotensi mengendorkan spirit of competitiveness masyarakat. Padahal program itu sendiri diimplementasikan untuk menghadapi era MEA yang sangat kompetitif. Peningkatan mutu dan standardisasi produk secara bertahap agar mampu bersanding dengan produk sejenis harus dilakukan.

Kedua, beroperasinya New Yogyakarta International Airport beberapa waktu ke depan jangan hanya dipersepsikan sebagai potensi ekonomi, akan tetapi dampak sosial yang akan ditimbulkannya perlu diperhitungkan dan diantisipasi. Karenanya, program dan kebijakan yang menuju ke arah penyiapan masyarakat agar tidak gamang dengan transformasi menjadi hal yang perlu dipikirkan. Ketiga, Kulonprogo memiliki potensi wisata alam yang luar biasa memukau. Pengalaman penulis menyusuri beberapa objek wisata terkendala oleh infrastruktur, terutama jalan yang menghubungkan antarobjek wisata yang relatif belum memadai. Padahal, kemudahan akses jalan menjadi kunci.

Kemenangan telak pasangan tersebut dalam Pilkada 2017 lalu menunjukkan bahwa program inovatif mereka sangat diapresiasi masyarakat. Rakyat Kulonprogo berharap, keterpilihan HastoSutedjo yang keduakalinya akan tetap mengusung program-program inovatif populis pro-rakyat. Namun kemenangan tersebut bukan berarti akhir perjuangan. Justru keterpilihan tersebut seharusnya menjadi sarana peneguhan semangat dan visi prorakyat. Tetaplah menjadi pemimpin yang istimewa, dan istiqomah memegang amanah rakyat.

(Tunjung Sulaksono. Dosen Ilmu Pemerintahan Fisipol UMY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 23 Mei 2017)

BERITA REKOMENDASI