Prahara Palestina

Editor: Ivan Aditya

PALESTINA semakin membara dengan tindakan kontroversial Donald Trump yang mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Kecaman yang muncul dari berbagai negara di belahan dunia pun tidak didengar Donald Trump karena ia secara terang-terangan ingin menantang dunia. Amerika yang selama ini mengaku sebagai pejuang demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) kini benar-benar merusak dan menginjak-injak demokrasi dan hak asasi manusia di Palestina. Penjajahan yang dialami rakyat Palestina selama ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, namun terus dibiarkan. Lalu apakah Amerika pantas disebut sebagai pejuang demokrasi dan HAM, kalau mereka justru merusak perdamaian di Palestina dan membiarkan kebiadaban Israel terus merajalela?

Entah sudah berapa banyak darah mengalir di tanah Palestina harta benda dan nyawa yang hilang. Namun derita rakyat Palestina seolah tak pernah mengenal akhir. Israel dengan dukungan Amerika terus mempertontonkan kebiadaban dengan membunuh anak-anak Palestina yang tak berdosa. Tindakan yang sangat kontras dengan retorika selama ini. Karena apa yang terjadi selama ini di Palestina adalah pelanggaran HAM yang luar biasa.

Sejarah Peradaban

Sejarah kota tua Yerussalem adalah sejarah panjang peradaban umat manusia dan merupakan kota legendaris tempat perjuangan para nabi. Di kota ini tiga agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) memiliki tempat suci. Yahudi memiliki Tembok Ratapan, Kristen memiliki Gereja Makam Kudus, dan Islam memiliki Masjidil Aqsa. Sejak Yerussalem dikuasai Islam pada masa khalifah Umar bin Khottob suasana damai dan toleran sudah ditunjukkan . Khalifah Umar memberi kebebasan kepada umat nonmuslim untuk menjalankan ibadah. Demikian pula pada masa Perang Salib, ketika pasukan Islam yang dipimpin Shalahuddin al Ayyubi berhasil menguasai Yerussalem, suasana damai dan toleransi terwujud dengan baik. Selanjutnya ketika Turki Utsmani menjadi penguasa di Palestina kota Yerussalem juga menjadi kota yang damai dan toleran.

Prahara baru mulai terjadi di Palestina pascaperang dunia II, dengan persekongkolan Amerika dan Inggris seiring dengan kekalahan Turki. Palestina lepas dari kekuasaan Turki, selanjutnya Amerika dan Inggris mendirikan negara baru Israel. Bangsa Yahudi dari berbagai negara pun berbondong-bondong melakukan migrasi ke Palestina. Rakyat Palestina diusir, dibunuh, dipaksa menjual tanah dan dipaksa mengungsi ke negara tetangga (Riza Sihbudi, Bara Timur Tengah, 1995: 166).

Dari berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Timur Tengah sesungguhnya menjadi tamparan luar biasa bagi nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai demokrasi dan HAM yang dikampanyekan negara-negara Barat seakan hanya pepesan kosong. Dalam realita mereka membiarkan pembunuhan dan terjadi gelombang pengungsi dari Timur Tengah. Dengan berbagai alasan, Amerika dan negara-negara Eropa begitu keras menolak kehadiran pengungsi. Padahal kalau dilihat faktor penyebab munculnya pembunuhan dan gelombang pengungsi Timur Tengah adalah juga karena ulah negara-negara Barat (Amerika dan Eropa), yang menciptakan prahara dan kekacauan di Timur Tengah.

Hak Hidup

Bicara tentang pengungsi adalah bicara tentang nilai-nilai kemanusiaan yang menyangkut HAM yang sangat mendasar. Ketika pengungsi tidak lagi mendapat keamanan di negaranya akibat gejolak perang tentu mereka tetap memiliki hak hidup di mana pun di dunia ini. Hak hidup adalah bagian dari HAM yang sangat mendasar dan berlaku universal. Artinya setiap pengungsi, apapun agamanya dan dari manapun negaranya perlu diberi perlindungan demi menjaga hak hidupnya. Akibat kebiadaban penguasa Israel sudah cukup banyak rakyat Palestina yang mati dan hampir separuh rakyat Palestina hidup di pengungsian di berbagai negara.

Lalu dimana sesungguhnya nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi yang selama ini dikumandangkan Amerika ketika mereka mendukung kebiadaban Israel di Palestina? Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan tidak akan terjebak pada konflik, apalagi merusak perdamaian dunia. Kecerobohan Donald Trump mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel akan membuat tragedi kemanusiaan dan akan menambah prahara yang semakin membara di Palestina.

(Dr Hamdan Daulay MA. Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 12 Desember 2017)

BERITA REKOMENDASI