PT Terbaik Indonesia

Editor: Ivan Aditya

MENTERI Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, baru saja mengumumkan perguruan tinggi terbaik Indonesia tahun 2016 berdasarkan peringkat. Adapun kriteria, metode dan penentuan pemeringkatan murni dilakukan Kemenristek Dikti.

Sepuluh perguruan tinggi (PT) terbaik Indonesia (the best ten) dengan pencapaian skornya pada tahun 2016 ini adalah sebagai berikut: ITB Bandung berada pada peringkat ke-1 dengan pencapaian skor 3,78 (Ke-1: 3,78), UGM Yogyakarta (Ke-2: 3,72), UI Jakarta (Ke-3: 3,69), IPB Bogor (Ke-4: 3,54), UB Malang (Ke-5: 3,24), ITS Surabaya (Ke-6: 3,17), Unair Surabaya (Ke-7: 3,15), Unhas Makassar (Ke-8: 3,06), Undip Semarang (Ke-9: 3,04) dan Unpad Bandung (Ke-10: 2,97).

Kalau kita perhatikan kesepuluh PT yang kebetulan adalah PTN semua itu, merupakan PT ‘standar’; dalam arti perguruan tinggi yang dikenal baik dan diminati masyarakat Indonesia pada umumnya.

Indikator Dosen

Untuk menentukan peringkat PT, Kemenristek Dikti menggunakan 5 indikator sekaligus, yakni Kualitas Dosen (12%), Kecukupan Dosen (18%), Akreditasi (30%), Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan (10%) dan Kualitas Kegiatan Penelitian (30%).

Secara lebih rinci dapat dijelaskan indikator Kualitas Dosen diukur dengan ratio kepemilikan dosen berpendidikan doktor (S3) terhadap jumlah keseluruhan dosen (A1) serta ratio kepemilikan dosen dalam jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar terhadap jumlah keseluruhan dosen di tingkat perguruan tinggi (A2). Sedangkan indikator Kecukupan Dosen diukur dengan ratio jumlah dosen tetap terhadap jumlah mahasiswa pada perguruan tinggi bersangkutan (B1).

Bagaimana dengan indikator lainnya? Indikator Akreditasi diukur dari pencapaian peringkat akreditasi institusi atau yang dikenal dengan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (C1) serta ratio jumlah program studi yang terakreditasi Peringkat A dan Peringkat B terhadap jumlah seluruh program studi (C2).

Indikator Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan diukur dengan Prestasi Mahasiswa Program Kemenristek-Dikti (D1) dan Prestasi Mahasiswa Program Non-Kemenristek-Dikti (D2). Sedangkan Indikator Kualitas Penelitian diukur dengan pencapaian kinerja penelitian sesuai kriteria Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan (E1) serta ratio jumlah dokumen terindeks scopus terhadap dosen tetap perguruan tinggi bersangkutan (E2).

Apabila kita perhatikan indikator tersebut nyatalah, perguruan tinggi yang berperingkat atas adalah PT yang memiliki kecukupan dosen memadai dengan kualitas memadai pula. Secara kuantitatif Indikator Dosen ini memberi kontribusi sebesar 30 persen, sama dengan Indikator Akreditasi dan Indikator Kualitas Penelitian.

Lebih 64 Persen

Apabila ditelusuri sebenarnya indikator dosen memberi kontribusi lebih dari 30 persen dikarenakan di dalam Indikator Akreditasi juga terdapat berbagai aspek mengenai dosen, seperti kepemilikan dosen tetap yang sesuai bidang studi, kepemilikan dosen tetap di luar bidang studi, karya ilmiah dosen, prosiding yang dihasilkan oleh dosen, penelitian yang dilakukan dosen, dsb. Aspek mengenai dosen ini besarnya sekitar 35% dari Indikator Akreditasi.

Apabila kita hitung secara kuantitatif kontribusi dosen dalam Indikator Akreditasi untuk pencapaian peringkat perguruan tinggi versi Kemenristek-Dikti sekitar 35% dari 30% (C1 dan C2), yaitu sekitar 11 persen.

Selanjutnya apabila ditelusuri, peran dosen dalam Indikator Kualitas Kegiatan Penelitian sangatlah dominan, secara kuantitatif sekitar 75%, bahkan bisa mencapai 100% tergantung dari perguruan tinggi masing-masing. Jadi, kontribusi dosen dalam pencapaian peringkat perguruan tinggi dari Indikator Kualitas Penelitian sekitar 75% dari 30% (E1 dan E2), yaitu sekitar 23 persen.

Secara matematis kontribusi dosen untuk meraih peringkat perguruan tinggi versi Kemenristek-Dikti sekitar 64 persen, bisa lebih, terdiri Indikator Kualitas Dosen (A1 dan A2) sebesar 12 persen, Indikator Kecukupan Dosen (B1) sebesar 12 persen, Aspek Dosen dalam Indikator Akreditasi sebesar (C1 dan C2) sekitar 11 persen, serta Aspek Dosen dalam Indikator Kualitas Kegiatan Penelitian (E1 dan E2) sekitar 23 persen.

Dari deskripsi matematis tersebut dapat disimpulkan, peringkat perguruan tinggi versi Kemenristek-Dikti yang mencerminkan mutu institusi untuk menjadikan perguruan tinggi terbaik sangat tergantung pada kepemilikan, kecukupan, kualitas serta aktivitas dosen pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Itu berarti untuk meningkatkan peringkat dan mutu perguruan tinggi di Indonesia menjadi PT terbaik mau tidak mau yang utama harus dijalankan adalah membenahi dosen.

(Prof Dr Ki Supriyoko. Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan anggota Majelis Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 1 September 2016)

BERITA REKOMENDASI