Puasa, Menghadirkan Tuhan dalam Kehidupan

Editor: Ivan Aditya

DATANGNYA Bulan suci Ramadan 1438 H , bak oase di padang gurun, ketika Bangsa Indonesia dilanda ujaran kebencian, fitnah, saling klaim kebenaran marak di tengah masyarakat. Hadirnya Bulan Ramadan ditengah kondisi tersebut sejatinya dapat menjadi penyejuk bagi bangsa Indonesia yang mayoritas umat Islam.

Perintah puasa di bulan Ramadan (QS: 2; 183) sesungguhnya tidak hanya perintah untuk tidak makan, minum, merokok, berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Melainkan perintah mulia untuk mensucikan diri, mengendalikan nafsu duniawi agar mencapai derajat kemuliaan di sisi Allah, yaitu ketakwaan. Menurut Dr Muhibin Abdul Wahab berpuasa tidak hanya berkuasa atas nafsu perut dan syahwat di bawah perut. Berpuasa juga berkuasa atas hawa nafsu, bisikan syetan, dan aneka kesenangan duniawi yang menipu dan memperdayai. Lebih penting lagi berpuasa bermakna juga berkuasa atas hati, pikiran, perkataan yang positif dan konstruktif (Muhibin Abdul Wahab, Puasa dan Kuasa).

Membentuk Kesucian

Kuasa atas segala nafsu duniawi dan bisikan syetan, sehingga membentuk kesucian jiwa dan itulah yang dapat memberikan makna hadirnya Tuhan dalam kehidupan. Dalam ibadah puasa, umat Islam tetap bisa mengerjakan aktivitas kesehariannya, tanpa mengganggu dan membatalkan puasanya. Hubungan kemanusiaan juga tetap bisa berjalan dalam kondisi tetap beribadah puasa, ini menandaskan Tuhan hadir bersama hambaNya dimana pun dan dalam aktivitas apapun. Ibadah seperti ini tidak ditemukan dalam salat maupun haji.

Orang yang sedang berpuasa akan kehilangan makna dan pahala jika yang sedang berpuasa marah, mengumpat, dengki, apalagi memfitnah dan menebarkan ujaran kebencian. Maka kata Nabi Muhammad SAW, banyak umat Islam yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus belaka. Sabda Nabi ini mengisyaratkan puasa tidak memberikan makna dan pahala apapun bagi yang melaksanakan. Orang yang sedang beribadah puasa merasa Tuhan dekat, sehingga ketika bertindak dan berpikir dalam koridor kebaikan agama dan kemanusiaan, orang yang sedang berpuasa tidak berani melakukan tindakan — tindakan yang bisa merusak makna puasanya walaupun itu tidak membatalkan puasa. Inilah salah satu makna ibadah puasa yang penting dalam konteks kehidupan kita berbangsa dan bernegara saat ini. Puasa ingin mengajarkan bahwa kehidupan akan damai dan tenang jika kita bisa menghadirkan Tuhan dalam kehidupan.

Pelopor Kebaikan

Hadirnya ibadah puasa ditengah kondisi bangsa yang sedang sakit ini, — maraknya fitnah, berita hoax, ujaran kebencian, saling klaim kebenaran, akibat nafsu dan kekuasaan duniawi, — bagi umat Islam harus dijadikan momentum untuk memperbaiki kondisi kebangsaan kita. Umat Islam harus tampil di bulan yang suci ini menjadi pelopor kebaikan. Bagi para pemimpin bangsa yang beragama Islam harus menjadikan bulan puasa ini sebagai pelopor kebaikan dan menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah dalam memimpin bangsa. Begitu juga aparat penegak hukum takut tidak bisa berlaku adil karena Tuhan selalu hadir dan selalu berlaku adil. Begitu juga masyarakat yang beragama Islam harus menjadi pelopor kebaikan di tengah kehidupan ini, menciptakan kedamaian dan ketenangan, selalu menghargai orang lain, tegas tetapi tetap santun dan terhormat.

Ketika umat sedang berpuasa di siang hari dilanjut malamnya bermunajat kepada Tuhan dengan khusuk tujuannya adalah untuk mendapatkan derajat takwa, suatu derajat tertinggi manusia di hadapan sang Pencipta. Artinya Tuhan sangat dekat dengan manusia yang mencapai derajat takwa.

Ketakwaan yang didapatkan tentu tidak berada di menara gading yang hanya soleh secara pribadi belaka, tetapi takwa yang diperoleh dari proses berpuasa adalah ketakwaan yang mengakar ke bumi, yang terlihat jelas dalam kehidupan kesehariannya sebagaimana ibadah puasa yang dilaksanakan juga dalam aktivitas keseharian. Bangsa ini membutuhkan manusia –manusia Indonesia yang berhasil ditempa dalam ibadah puasa Ramadan, sehingga mencapai derajat ketakwaan yang haqiqi bukan ketakwaan yang formalis apalagi aksesoris.

(Arif Jamali Muis. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY dan Guru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 27 Mei 2017)

BERITA REKOMENDASI