Rekonsiliasi Sosial

Editor: Ivan Aditya

MUDIK, pulang ke asal, merupakan tradisi turunan dari Idul Fitri. Pulang (kembali) ke asal punya pengertian jamak, yakni kembali kepada akar sosial (keluarga, sanak-saudara, handai taulan), budaya (nilai-nilai lokalitas) dan spiritual (mobilitas vertikal menuju penguatan nilai-nilai Ilahiyah). Dengan cara itu, orang bisa mencapai nilai-nilai kefitrian.

Pada saat merayakan Lebaran, orang memasuki momentum penting untuk melakukan rekonsiliasi sosial. Di situ, individu-individu dengan berbagai latar belakang sosial, politik, budaya, agama dan ekonomi meneguhkan kembali komitmennya atas nilai-nilai persaudaraan sesama bangsa Indonesia.

Bangsa kita baru saja melewati proses pematangan demokrasi melalui Pilpres, Pilkada serentak, termasuk Pilgub DKI Jakarta. Pilpres yang dimenangi Jokowi-Jusuf Kalla dan Pilgub DKI Jakarta yang diungguli Anies Baswedan-Sandiaga Uno layak disebut sebagai kontestasi politik yang menyulut pelbagai sentimen primordialisme (kesukuan dan agama). Resonansi ketegangannya pun masih terasa hingga kini. Polarisasi atau pengkutuban politik dan agama pun tak terhindarkan, meskipun tidak dalam skala besar Para pengamat politik memprediksi, hal itu masih terus berlangsung hingga Pilpres 2019. Sangat menyedihkan.

Ketegangan dan polarisasi politik dan agama semestinya diinterupsi atau bahkan harus diakhiri, sehingga bangsa ini mampu move on dan menatap masa depan. Lebaran, bisa menjadi wahana kultural untuk melakukan rekonsiliasi sosial, yaitu tindakan etis yang memulihkan dan memuliakan hubungan persahabatan, di mana persoalan perbedaan di atasi secara arif bijaksana. Bagi pertumbuhan dan pendewasaan sebuah bangsa, ingatan kolektif atas konflik politik dan berbagai narasi ‘kebencian’ berbasis suka dan agama, merupakan faktor yang tidak produktif. Begitu pula dengan Bangsa Indonesia. Kebangsaan, dalam konteks NKRI, semestinya tidak lagi bicara soal suku/agama, melainkan bicara soal masa depan, kesejahteraan dan kemajuan peradaban bangsa secara umum (baca: warga negara). Alasannya, Indonesia adalah negara kesatuan yang berbasis pada kebangsaan dan kemajemukan budaya, bukan negara berdasarkan agama atau kesukuan. Selain itu, dalam sebuah tatanan negara modern yang berbasis pada demokrasi, (idealnya) tidak dikenal dikotomi mayoritas dan minoritas baik secara kesukuan atau agama. Semua warga memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang dan memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan.

Lebaran sering menjadi sinonim Idul Fitri. Selain itu, ada pemaknaan lain, lebaran terbentuk dari kata dasar lebar (bahasa Jawa) yang artinya wis rampung (sudah selesai). Selain itu, kata lebar berarti luas (tidak sempit). Adapun secara konotatif, lebaran diartikan momentum untuk mengakhiri semua kesalahan dengan cara saling memberi dan menerima maaf.

Lebaran juga dimaknai sebagai leburan (peleburan) dosa-dosa sosial. Pada saat itu, setiap insan berlapang dada dan hati untuk melebur dosa-dosa sosial ke dalam lautan permaafan bagi sesama. Ini ditempuh bukan hanya demi menciptakan harmoni sosial (keguyuban penuh kedamaian), melainkan juga meningkatkan eksistensi manusia. Meminta dan memberi maaf merupakan tindakan etis yang memunculkan keluhuran nilai-nilai kemanusiaan baik secara horizontal maupun vertikal.

Secara horizontal, tindakan saling memberi dan menerima maaf, mendorong manusia meruntuhkan egoismenya, sehingga mampu menjelma menjadi pribadi yang memancar nilainilai solidaritas (kerukukan, mencintai sesama). Adapun secara vertikal, saling memberi dan menerima maaf merupakan wujud kerendahan hati manusia di depan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan sikap rendah hati itu, manusia mendapatkan nilai-nilai kesucian atau kemuliaan. Tuhan menyukai manusia pemaaf dan penebar kasih sayang.

Lebaran dapat dijadikan energi spiritual untuk melakukan rekonsiliasi sosial bagi bangsa kita. Sikap saling mencintai, menghargai dan melindungi sesama anak bangsa mampu membuka horizon nilai, di mana bangsa kita menemukan momentum kebangkitan dari keterpurukan yang diakibatkan rasa saling curiga, saling membenci akibat dan polarisasi politik dan agama. Memelihara dendam politik dan sosial sama artinya memelihara penyakit mental. Kesucian Lebaran bisa dikapitalisasi menjadi energi etis dan moral untuk membasmi berbagai penyakit mental bangsa. Bangsa yang besar/bermartabat adalah yang berani, tulus dan ikhlas untuk saling memaafkan dan mengasihi sesama. Dan, bangsa kita adalah bangsa bermatabat!

(Indra Tranggono. Praktisi kebudayaan.  Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu 24 Juni 2017)

BERITA REKOMENDASI