Rindu Pemimpin Berwatak Rajawali

Editor: Ivan Aditya

TULISAN Biyanto (KR, 28/2) dengan judul Ketika Orang Berebut Kekuasaan cukup menggelitik di telinga kita. Dalam analisisnya banyak disampaikan tentang lemahnya mentalitas para calon penguasa menjelang pilkada karena persoalan fulus. Ada kelakar berbunyi ada fulus semua mulus. Bahkan penulis sampai menyalahkan setan karena telah menjerumuskan Adam dan Hawa oleh sebab memakan buah khuldi (buah keabadian) sehingga mereka dikeluarkan dari sorga.

Setan dianggap biang keladi dari sebab musabab segala kekacauan di muka bumi ini, termasuk carut marut dalam persoalan dunia sosial dan politik. Pandangan tersebut sesungguhnya tepat. Jika kita mau kaji lebih dalam konteks kesejarahan, sesungguhnya setan dan iblis adalah makhluk Allah yang konsisten dan istiqomah. Mereka diperkenankan khusus oleh Tuhan untuk menguji sejauhmana tingkat keimanan manusia.

Manusia dikaruniai akal pikiran agar mampu melihat segala bentuk realitas yang tampak maupun tidak tampak dalam dirinya dan dari luar dirinya. Dengan nalar keintelektualannya manusia terus berusaha mencari dan menemukan kebenaran yang hakiki yang telah dibentangkan Tuhan di segala penjuru semesta (QS.2:164; QS.55:33). Manusia yang pesimis dan pasrah dengan kondisi serba ketimpangan sosial adalah prajurit-prajurit yang kalah sebelum berperang. Ia telah kalah terlebih dahulu sebelum bertanding dengan pasukan dan pertahanan musuh yang amat rapi dan canggih. Padahal dalam sejarah perang Badr pasukan Nabi Muhammad yang berjumlah 300-an menang dengan pasukan musuh yang berjumlah 1000-an.

Rajawali bukan Gagak

Pada saat kondisi masyarakat yang serba merosot sebenarnya tidak cukup hanya kita berdiam diri mengeluh dan pesimis dengan sistem tatanan yang begitu membelenggu. Sebagian politikus mengatakan jika kekacauan kondisi politik bangsa ini karena ulah mentalitas korup dari aktor-aktor politik yang kemudian naik menjadi penguasa. Sebagian lagi berkata kekacauan kondisi sistem politik dan lemahnya penegakkan hukum di negeri ini oleh sebab sistem biaya politik di negeri ini terlalu mahal. Karena saking mahalnya maka para penguasa berusaha keras untuk mengembalikan ongkos politiknya yang dahulu sudah mereka keluarkan waktu kampanye. Menurut penulis dua pendapat tersebut kurang tepat dan bahkan bisa kita katakan naif. Satu sisi menyalahkan mental aktor yang korup sedang sisi lainnya menyalahkan sebuah sistem.

Membangun Dunia Baru

Menurut hemat penulis, masyarakat dan bangsa kita pada saat ini sedang krisis pemimpin yang memiliki watak rajawali. Rajawali memiliki watak yang gagah berani dan terbiasa sendiri. Ia memiliki paruh dan cakar yang kuat untuk mencengkram mangsanya hidup-hidup. Ia tidak begitu peduli dengan sebuah kawanan, gerombolan. Ia tegak kokoh berdiri terbang dengan kepakan sayap yang gagah. Saking spesialnya metafora burung Rajawali, Jalaluddin Rumi dalam matsnawi-nya menulis hati Allah adalah burung Rajawali di tengah kota. Pada kalimat berikutnya Rumi mengkritik manusia yang bermental gagak. Yaitu, mereka yang suka berkerumun memiliki sifat mendua (hipokrit) agar ia dapat mendapatkan makanan, mereka seolah-seolah berkawan baik padahal hatinya sesungguhnya berkata tidak.

Persoalan kedua yang sebenarnya harus kita tanyakan adalah sejauhmana kemauan dan keikhlasan para elite politik beserta masyarakat mau saling bergandengan tangan membangun dunia baru yakni sebuah tatanan sosial dan politik dengan iklim penuh kedamaian dan suasana cinta kasih. Sistem politik dapat diubah jika benar-benar ada kemauan bersama antara elite dan masyarakat secara tulus dan ikhlas.

Permasalahannya sejauhmana elite politik dan masyarakat memiliki kemampuan dan watak burung Rajawali di tengah kota sehingga mereka berani mengubah tatanan politik yang telah merosot (lihat QS:13:11). Bunyi tepukan yang nyaring hanya bisa didengar nyaring ketika kedua telapak tangan berpadu bersamasama. Memperbaiki sistem dan tatanan politik butuh keberanian dan ketekunan dari elite politik dan masyarakat. Jika itu tidak dilakukan maka semuanya hanyalah seperti uap yang terhempas bersama angin.

(Muhammad Iqbal Birsyada. Dosen Sejarah FKIP Universitas PGRI Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 6 Maret 2018)

BERITA REKOMENDASI