RRI 75 Tahun, Refleksi Radio Politik

Editor: Ivan Aditya

SEBUAH slogan sarat spirit heroisme : Sekali Di Udara Tetap di Udara, menggema di media sosial dan saluran terestrial, menjelang perayaan tigaperempat abad kelahiran Radio Republik Indonesia (RRI), radio nasional tertua. Slogan ini lahir dalam masa revolusi kemerdekaan tahun 1948, ketika studio RRI Solo dibawah pimpinan R Maladi, harus pindah ke Karanganyar menghindari aksi militer Belanda.

Slogan ini terus dirawat dalam benak dan disuarakan hingga 75 tahun kemudian. Sebagai isyarat verbal bahwa RRI bertekad menjadi bagian dari proses ‘revolusi udara’ pascakemerdekaan, meski lanskap sosial politik dan sistem media telah berubah. Merujuk buku Sedjarah Radio (1963), teks lengkap slogan itu sebetulnya didahului kalimat: Sekali Merdeka Tetap Merdeka, namun kalimat ini kerapkali tidak disertakan. Terinspirasi dari daya tahan slogan ini melewati berbagai periode politik dan sistem media, tulisan ini menggali sejarah RRI dalam kerangka kebijakan penyiaran di Indonesia.

Radio Pemerintah

Memasuki usia 75 tahun bagi RRI berarti juga memasuki periode ketiga kebijakan penyiaran Indonesia. Kebijakan pertama berlaku sejak radio lahir tahun 1945 hingga 1970. Corak dasarnya monopolistik, di mana otoritas politik Indonesia hanya memiliki satu jenis media, yaitu radio pemerintah. Radio siaran di luar pemerintah dianggap illegal. Model monopolistik ini jamak terjadi di negara lain termasuk di Inggris. Maka sejak berdiri tahun 1927 hingga 1970-an, BBC menjadi pemain tunggal. Perbedaannya, BBC sejak awal menjadi media publik berbasis kebudayaan publik, sedang RRI lahir dengan semangat menjadi radio politik, mendukung pemerintah pascakemerdekaan, bukan kebudayaan.

Orientasi penyiaran yang bersifat politis ini dikoreksi periode 1970-1995-an. Keluarnya PP No 55/1970 yang mengakui radio swasta mengakhiri era dominasi tunggal RRI. Regulasi ini mempromosikan radio sebagai institusi budaya, berbasis kreativitas masyarakat dengan tujuan sosial-komersial. Kompetisi menjadi kata kunci yang sejatinya bisa memperkuat posisi RRI sebagai media publik. Sayang, hasrat pemerintah mengkooptasi RRI masih kuat. Sehingga periode 1970-1985 bisa dianggap sejarah paling buruk bagi RRI sebagai institusi radio yang seharusnya melayani warga negara.

Masa Depan

Periode ketiga (1995-2020) adalah periode paling dinamis sistem penyiaran Indonesia termasuk RRI. UU Penyiaran No 32/2002 mengoreksi kebijakan dualisme: radio pemerintah dan radio swasta menjadi kebijakan pluralistik terbatas. Ditandai munculnya radio publik dan radio komunitas sebagai pemain baru. Pilihan RRI tahun 2000 untuk menjadi radio publik sudah benar, selaras semangat demokratisasi media. Namun, dalam perjalanan hingga 2020, rupanya tampak sikap galau, dan semangat untuk menjaga aliansi mesra dengan otoritas politik, bukan beraliansi dengan publik. Para insan di radio terbesar di Indonesia ini masih bimbang : merawat masa lalu atau meraih masa depan.

Karakteristik budaya jurnalisme di Indonesia 15 tahun terakhir berbeda. RRI sudah mengemban status sebagai lembaga penyiaran publik mirip dengan apa yang digambarkan Robert McChesney (1999) sebagai: rich media poor democracy (jumlah media yang banyak, informasi yang berhamburan, tetapi minim kualitas merawat demokrasi). Setelah berusia 15 tahun sebagai LPP, pengelola RRI tampak tenggelam kepada kejayaan masa lalu sebagai media pembangunan, saluran budaya serta olah raga. RRI melewatkan kesempatan untuk menjadi saluran informasi yang tajam dan berkualitas.

Slogan sekali di udara tetap di udara kian mengalami kemandegan makna dan spirit perubahan. Jika ingin meraih masa depan yang cerah menuju satu abad — 25 tahun ke depan — RRI harus segera berbenah memenuhi aspirasi publik. Sebab hanya publik yang loyalitasnya tulus.

Masduki, Dr rer soc.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UII.

BERITA REKOMENDASI